Jumat, 11 November 2011

Indahnya Jadi Apoteker


A.    Industri Farmasi Indonesia
Indonesia adalah negara terpadat ke-empat di dunia. Profil demografis negeri ini relatif muda, kendati demikian pertumbuhan penduduk juga relatif  tinggi yang semakin meningkatkan tekanan finansial pada sumber daya kesehatan. Meskipun memiliki populasi yang besar, nilai pasar farmasi Indonesia masih sangat rendah.


Populasi penduduk usia -65 tahun tercatat  hanya di atas 5% dari total penduduk. Indikator kesehatan yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pertanda yang baik bagi pembangunan ekonomisebagai suatu sumber kesehatan yang makin menguat. Dari model belanja Business Monitor International (BMI) yang dilaporkan pada Mei 2010, menunjukkan bahwa pasar farmasi di Indonesia akan bernilai Rp 81,03 milyar pada 2019. Dipicu oleh adanya ledakan ekonomi, inflasi yang tinggi, pertumbuhan penduduk yang signifikan, dan meningkatnya anggaran kesehatan pemerintah.

Situasi ini menjadi peluang bagi industri farmasi untuk memanfaatkan pasar lokal. Namun bagi perusahaan asing, mereka terbentur oleh policy di lingkungan bisnis yang 'proteksionis', prevalensi dari obat palsu dan penetapan harga tidak transparan dan pembayaran kembali.
Pada 2008 penjualan sektor farmasi di Indonesia, meningkat 9,05% mencapai nilai Rp 26,89 milyar, membuat Indonesia menjadi salah satu pasar farmasi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Namun, penjualan obat turun mencapai 2,32% pada tahun 2009, sebagai akibat menurunnya permintaan ekspor negara selama terjadi krisis ekonomi global. Diperkirakan akan terjadi pertumbuhan yang lebih baik pada tahun berikutnya, karena pengaruh menguatnya mata uang Rupiah 10,89% dari rata-rata per tahun 2009-2014 dan 10,35% dari rata-rata per tahun selama 2014-2019. Peningkatan belanja fiskal dan tumbuhnya keterlibatan pemerintah pada sektor farmasi akan meng-untungkan industri farmasi.
Pada 2007, Indonesia menghabiskan sebesar 2,48% dari PDB untuk kesehatan, nilai ini lebih rendah dari standar regional dan global. Dari jumlah ini US$ 10,73 milyar, hanya lebih dari setengah dihabiskan oleh negara.

Pada 2014, diharapkan pemerintah dan keseluruhan bidang perawatan kesehatan masing-masing men-capai US$ 22,38 milyar dan US$ 33,43 milyar.

Penguatan rupiah cenderung menguntungkan industri farmasi asing. Diperkirakan kurs Rupiah terhadap Dollar AS menguat dari Rp 9,685,- per US$ 1 pada 2008, menguat lagi menjadi Rp 8,375,- per US$ 1 pada 2014, dan Rp 7,875,- per US$ 1 pada 2019. Sementara pasar farmasi lokal akan mencatat angka 10,89% rata-rata pertahun selama 5 tahun terkait mata uang lokal, angka yang sesuai untuk dolar AS adalah 15,35%.

Situasi Makro Ekonomi
Ekonomi Indonesia kian meningkat dibanding pada Q4 2009, dengan pertumbuhan riil PDB 5,4% per tahun dan menguat 4,5%. Prospek pertumbuhan Indonesia selama tahun mendatang, proyeksi pertumbuhan secara riil PDB mencapai 5,2% pada 2010, akan meningkat menjadi 5,5% pada 2011.

Pendorong utama dari pertumbuhan pasar domestik di masa mendatang terkait dengan demografi Indonesia; meningkatnya rata-rata harapan hidup, memicu peningkatan penyakit degeneratif dan meningkatkan permintaan untuk obat-obatan gaya Barat. Di sisi lain, Indonesia masih mengalami masalah karena penyakit menular (terutama demam berdarah dan malaria), situasi diperparah oleh akses terbatas pada obat-obatan.

Ini juga telah mendorong pertum-buhan dalam penggunaan dan popularitas obat-obatan herbal, yang diharapkan dapat menjadi pesaing bagi obat bebas selama tahun-tahun mendatang.
Selain itu, meskipun kawasan ini merupakan salah satu pasar obat terbesar, belanja kesehatan pemerintah Indonesia yang kecil dari negara-negara tetangga, memaksa pasien untuk membayar sendiri biaya kesehatannya. Konsekuensinya, obat resep akan rentan terhadap kemerosotan ekonomi, serta meningkatkan gelombang obat palsu dan rendahnya daya beli penduduk.

Faktor Kunci Pertumbuhan Industri
Prioritas pemerintah termasuk regulasi restrukturisasi peraturan dan mendorong FDI, dengan rencana mengurangi lamanya waktu persetujuan lisensi produksi atau perdagangan dari 150 hari untuk 30 hari. Meskipun, banyak dari restrukturisasi yang saat ini masih di atas kertas, belum semuanya terealisasi akan menunda setiap peningkatan dalam investasi asing, ditandai di sektor ini dalam jangka pendek.
Selain itu, berlaku Undang-Undang Investasi yang diwarnai kontroversi akan membatasi FDI.

Secara keseluruhan, belum tampak kemungkinan adanya perbaikan yang signifikan dengan peraturan sampai harmonisasi regional ASEAN berlangsung sepenuhnya. Namun demikian, perusahaan farmasi lokal dapat mulai merasakan manfaat dari penurunan tarif baru untuk bahan baku. Tarif impor sebanyak 11.171 produk di berbagai kelompok industri termasuk farmasi telah diturunkan sebagai upaya negara mematuhi Free Trade Area. Tugas berat baru itu akan selesai 5% dan proses tersebut diselesaikan pada 2010.

Reaksi Para Pebisnis
Beberapa produsen lokal senang bahwa mereka akan mendapat sumber bahan baku lebih murah, meskipun yang lainnya merasa khawatir bahwa pasar domestik akan semakin terkena dampak persaingan. Suatu ukuran proteksionis yang telah diusulkan untuk mempertahankan struktur tarif pada API, namun tetap melindungi industri lokal terhadap impor obat jadi.

Pemerintah telah mengumumkan bahwa mereka menawarkan insentif pajak kepada sejumlah investor baru dan sektor industri. Fasilitas ini akan ditawarkan kepada perusahaan untuk membangun pabrik baru atau perluasan usaha di sektor kimia, petrokimia dan industri farmasi. Pemerintah yakin bahwa ini selanjutnya dapat mendorong investasi asing, dengan rencana lainnya yang bertujuan menarik modal asing termasuk usulan penghapusan industri farmasi dari daftar 'investasi negatif'.

Perkiraan Perdagangan Farmasi
Nilai impor farmasi Indonesia mencapai US$ 215.9 juta pada tahun 2008, sebagian besar perusahaan asing mencapai pasar melalui produk impor. Selain itu, sekitar 95% dari 1.300 bahan baku (API) yang digunakan untuk pembuatan obat di Indonesia adalah impor. Harga bahan baku merupakan masalah karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang fluktuatif.

Untuk mengamankan pasokan biaya rendah API, industri farmasi milik pemerintah Kimia Farma dan Indofarma menandatangani kontrak dengan pemasok API asal Cina secara aktif memberikan antibiotik masal. Industri farmasi India juga tertarik untuk memperluas pasarnya di Indonesia, dimana mereka sudah eksis melalui produk yang masuk sebagai re-export dari Singapura. Mayoritas ekspor India ke Indonesia untuk bahan baku adalah penting, karena Indonesia memiliki ketergantungan hampir sepenuhnya.

Namun demikian, prevalensi warga negara Cina di Indonesia berarti bahwa negara itu memiliki bisnis dan ekonomi yang lebih besar hubungan dengan Cina. Ini berarti bahwa produsen generik Cina, dalam jangka panjang tampak lebih diposisikan untuk memenuhi permintaan generik murah untuk dipasokan di negeri ini.

Sementara itu, nilai sektor farmasi di Indonesia dalam hal kemudahan pembentukan perusahaan patungan untuk pengujian kualitas obat tumbuh mencapai US$ 255 juta. Merupakan kebutuhan vital bagi pembeli di pasar negara maju.

Di Indonesia, PT Pharma Kinetika salah satu perusahaan pengujian obat untuk bioavailabilitas, jumlah obat yang mencapai aliran darah dan bioekivalensi, yang menetapkan apakah obat-obatan generik memiliki sifat yang sama dengan produk originator. Perusahaan patungan itu dibuat oleh Innogene Kalbiotech di Indonesia dan Info Kinetics dari Malaysia, dan berbasis di Jakarta.

PT Pharma Kinetics akan didukung oleh PT Pharma Metric Labs, perusahaan bioavailability/-bioequivalence yang didirikan oleh Innogene Kalbiotech tahun 2005. Permintaan untuk layanan
yang disediakan oleh PT Pharma Kinetics cenderung meningkat dengan cepat selama 18 bulan selanjutnya.

The Sectoral Mutual Recognition Arrangement untuk inspeksi Good Manufacturing Practice (GMP) untuk produsen obat dirancang untuk melancarkan perdagangan obat-obatan antara negara anggota ASEAN. Regulator obat suatu negara akan menyetujui pabrik obat dan sebuah sertifikasi akan diterima oleh negara-negara sesama ASEAN, dengan demikian mengurangi risko duplikasi usaha. Implementasi secara penuh diharapkan dapat terlaksana pada bulan Januari 2011.

Secara keseluruhan, diperkirakan bahwa penjualan obat asing buatan Indonesia akan mencapai US$ 266.8 juta pada 2014, dengan rata-rata penjualan tahunan sebesar 13,59% dalam dolar AS.
Harmonisasi ASEAN juga akan berpotensi men-dorong ekspor, meskipun rencana pengurangan tarif  menjadi nol - pada obat-obatan yang masuk ke Indonesia juga akan meningkatkan persaingan yang timbul dari impor.

Menurut United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Trade) mitra kerjasama ekspor obat terkemuka di Indonesia adalah Thailand, disusul oleh India dan Korea Selatan. Sebagian besar perdagangan obat generik murah, meningkat-kan value chain dan mencapai margin yang lebih besar. Industri farmasi Indonesia juga berpeluang menjual lebih banyak produk mereka ke negara-negara maju, seperti tetangga Australia.

Ekspor Obat
Terutama obat generik, secara historis tercatat merupakan bagian kecil dari penjualan industri domestik. Indonesia mengekspor berbagai jenis obat, walaupun secara umum murah seperti produk berbasis OTC, analgesik dan vitamin.

Namun ekspor saat ini terhambat oleh kurangnya investasi R&D, walaupun usaha patungan dengan perusahaan multinasional berpotensi meningkat secara signifikan untuk memperbaiki situasi.

Pasar obat-obatan herbal tradisional juga bisa membuktikan jalan untuk pertumbuhan ekspor, dengan perdagangan telah menjadi senilai Rp 2 trilyun pertahun dan kebanyakan mencapai Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong, serta Timur Tengah dan Rusia.

Perkiraan Data Kesehatan lainnya
Ada kemungkinan perusahaan asing berinvestasi di suatu negara jika lingkungan bisnisnya kondusif, dengan investasi seperti membawa perangkat ekspansi berskala yang lebih besar. Sementara skenario seperti itu sedang didorong oleh usulan penghapusan industri farmasi dari daftar 'investasi negatif', di sisi lain posisi perusahaan asing di Indonesia terancam oleh penegakan persyaratan baru yang mereka harus memiliki fasilitas produksi lokal.

Aturan baru itu telah mempengaruhi 13 dari 29 perusahaan asing yang beroperasi di negeri ini, dengan kemungkinan penarikan produk oleh 13 perusahaan yang mempunyai dampak signifikan pada pasar.

Sementara beberapa kekurangan obat-obatan bisa diharapkan, kesenjangan kemungkinan besar akan diisi oleh produk pesaing,  yang dipasarkan oleh industri farmasi baik asing dan domestik.

Namun demikian, dampak undang-undang tersebut belum sepenuhnya dapat diperkirakan. Mengingat sifat perusahaan yang berbasis penelitian, perusahaan yang paling terpengaruh oleh perubahan yang melibatkan produk bermerek yang dipatenkan, nilai-nilai akan turun dalam jangka pendek jika produk ditarik tanpa diganti.

Banyak kalangan yang mencurigai bahwa langkah ini bernuansa politik dan perusahaan multinasional terkena dampak. Namun demikian, potensi pasar di Indonesia sangat penting, mengingat jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi saat ini rendah.

Sektor ekspor juga memungkinkan lebih meluas secara cepat dari yang diperkirakan, sebagaian produsen dapat memodernisasi industrinya dan memperkuat kehadirannya di pasar regional untuk bersaing dan mengambil keuntungan lebih lanjut dari negara yang mata uangnya melemah.



B.    Investasi Sektor Industri Farmasi  

Tahun 2011 ini, investasi farmasi ditargetkan meningkat 50%-60% dibandingkan proyeksi tahun lalu, dari US$ 500 juta menjadi US$ 750 juta – US$ 800 juta, seiring rencana kebijakan pemerintah memberi peluang kepemilikan asing sebesar 100%. Dengan kebijakan baru itu, prinsipal farmasi multinasional akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga berimplikasi meningkatkan teknologi di sektor ini dan bisa menurunkan harga obat menjadi lebih murah.

Sri Indrawati, Dirjen Binfar dan Alkes Kemenkes RI, mengharapkan investasi yang siap masuk akan kapasitas produksi obat nasional akan bertambah terutama untuk obat etikal yang belum diproduksi di dalam negeri, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes. Masyarakat akan lebih mudah memperoleh obat yang dibutuhkan.

Perkiraan investasi senilai US$ 750 - 800 juta itu merupakan asumsi dari pembangunan pabrik farmasi. Untuk pembangunan pabrik pengemasan, membutuhkan investasi sekitar US$ 250 juta. Pembangun pabrik dengan produksi penuh (hulu ke hilir/full production), nilai investasinya bisa mencapai US$ 500 juta. "Tergantung produksi dan jenis obatnya," katanya. Menurut Sri Indrawati, jenis obat menentukan besaran investasi yang akan dialokasikan untuk pembangunan pabrik.

Direktur Eksekutif IPMG, Parulian Simanjuntak menjelaskan jika obat resep untuk penyakit modern seperti kanker, jantung, dan diabetes bisa diproduksi di dalam negeri, masyarakat tidak perlu lagi membelinya ke luar negeri. Pada 2010, pasar farmasi domestik diproyeksikan mencapai Rp 32,9 triliun, naik 11% dibandingkan 2009 sebesar Rp 29,7 triliun. Pertumbuhan pasar farmasi lokal rata-rata 11% per tahunnya diatas pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada 2010, produsen farmasi asing mendapat omset Rp 6,9 triliun. Sedangkan pangsa pasar produsen farmasi lokal Rp 26 triliun atau 79%. Pangsa pasar industri farmasi asing menurun 16% sepanjang lima tahun terakhir. (dbs)



C.    Pertumbuhan Pasar Farmasi Domestik
Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi memprediksi penjualan obat resep (ethical) pada tahun ini mencapai Rp 20,9 triliun, meningkat 13,34% dibandingkan tahun lalu Rp 18,44 triliun. Proyeksi pertumbuhan penjualan obat resep tahun ini lebih tinggi dibandingkan 2010 yang meningkat 10,88% dari 2009.

Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun atau compounded annual growth rate (CAGR) 11% sejak 2003 sampai estimasi 2010. Pada tahun ini pasar farmasi nasional diestimasikan mencapai Rp 38 triliun - Rp 39 triliun, naik 14,7% dibandingkan 2010. Pasar obat resep diperkirakan akan menembus Rp 20,9 triliun, sementara pasar obat bebas mencapai Rp 16,7 triliun.

Porsi penjualan obat resep terhadap total pasar farmasi nasional stagnan 56% sepanjang tiga tahun terakhir. Pada 2009, pasar farmasi nasional mencapai Rp 29,71 triliun dan porsi penjualan obat resep 56% atau senilai Rp 16,63 triliun. Pada 2010, pasar farmasi nasional naik menjadi Rp 32,9 triliun, sedangkan porsi obat resep tetap 56%.

Menurut Anthony Charles Sunarjo, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Farmasi, kenaikan pasar farmasi tahun 2011 dipicu oleh peningkatan konsumsi produk farmasi yang selaras dengan proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 234 juta jiwa pada 2010, meningkat menjadi 237 juta jiwa, pada 2011.

Anthony mengatakan,"Peningkatan penjualan obat etikal akan menguntungkan produsen farmasi seperti Kalbe Farma, Dexa Medica Group, dan Sanbe Farma.

Data yang dirilis oleh Intercontinental Marketing Services Health (IMS Healt) per Juni 2010, penguasaan pasar di segmen etikal adalah Kalbe Group (14%), Dexa Medica Group (7%), Sanbe (6%), Pfizer Group (4%), Sanofi Aventis Group (4%), Fahrenheit (4%), dan Novartis Group (4%).

PENINGKATAN UTILITAS
Melihat pangsa pasar dan adanya tren peningkatan penjualan obat resep yang menjanjikan, sejumlah produsen farmasi berupaya meningkatkan utilisasi pabrik di Indonesia. Banyak pelaku industri farmasi memperkirakan tren kompetisi di segmen obat resep semakin ketat di awal tahun.
 

Seiring kenaikan permintaan produk farmasi, terutama obat resep, empat emiten farmasi, yakni Pyridam Farma, Kimia Farma, Kalbe Farma, dan Pfizer, Sanofi Aventis menargetkan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang atau utilisasi pabrik meningkat 3%-10%. Bahkan Pfizer telah menargetkan kapasitas produksi akan ditingkatkan hingga dua kali lipat selama dua tahun mendatang. Sementara Sanofi Aventis meningkatkan hingga 44,5%.

KALBE FARMA
Perusahaan terbesar asal Indonesia ini mentargetkan utilisasi pabrik pada 2011 mening-kat 10% dibandingkan tahun lalu, dari 70% menjadi 80%. Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat resep, nutrisi, dan produk kesehatan di pasar domestik dan ekspor.

Menurut Direktur Keuangan Kalbe Farma, Vidjongtius, untuk mendukung upaya tersebut, perseroan menganggarkan dana belanja modal (capex) sebesar Rp 650 miliar, naik 44% dibanding 2010 yakni Rp 450 miliar. "Dana capex tahun ini dikeluarkan dari kas internal perusahaan," ujarnya.

Peningkatan utilisasi itu dilakukan antara lain dengan membangun tiga unit pabrik obat resep dan menambah kapasitas pabrik yang ada. Dari penambahan tersebut, segmen obat resep ditargetkan berkontribusi sebesar 25% terhadap pendapatan.

Dari peningkatan utilisasi, perusahaan menargetkan pendapatan konsolidasi pada 2011 meningkat hingga 10%-15%, dari proyeksi 2010 sebesar Rp 10,1 triliun - Rp 10,2 triliun menjadi Rp 11 triliun - Rp 11,5 triliun.

Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat resep, nutrisi, dan produk kesehatan di pasar domestik dan ekspor.

Porsi penjualan obat resep Kalbe Farma sebesar 26% terhadap total pendapatan, atau senilai Rp 1,91 triliun. Sementara kontribusi penjualan obat resep Kimia Farma sebesar 56% terhadap total pendapatan.

Pasar obat resep di Indonesia rata-rata tumbuh 11% per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) selama periode 2006 hingga proyeksi 2010. Kapitalisasi pasar obat resep juga naik, dari Rp 14,03 triliun pada 2006 menjadi Rp 21,14 triliun pada 2010.

Sampai dengan kuartal III 2010, segmen obat resep menyumbang 26% terhadap pendapatan Kalbe atau senilai Rp 1,91 triliun. Pembangunan tiga pabrik itu akan mendorong produksi obat Kalbe dari 3 miliar tablet tahun lalu menjadi 3,5 miliar tablet tahun ini. Dari segmen obat resep, saat ini Kalbe memproduksi 83 produk lisensi, 249 jenis produk generik bermerek, dan 41 produk obat generik.

PT PFIZER INDONESIA
PT Pfizer Indonesia tidak ketinggalan perusahaan multi nasional ini melaporkan akan menaikkan kapasitas pabrik obatnya di Bogor Jawa Barat, hingga dua kali lipat. Dari 100 juta tablet per tahun menjadi 200 juta tablet per tahun selama dua tahun ke depan.

Ekspansi Pfizer ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat terutama obat resep di pasar domestik, Indonesia.

Public Affair Communication Director Pfizer Indonesia, Chrisma Albanjar menjelaskan dengan adanya peningkatan kapasitas pabrik, perseroan menargetkan kenaik-an penjualan dan pangsa pasar produknya di Indonesia. Penjualan Pfizer diproyeksikan mencapai Rp 853 miliar dengan pangsa pasar 4,3% pada 2010.

Berdasarkan data IMS Health per Juni 2010, Pfizer termasuk dalam empat pemain terbesar obat resep di Indonesia. Pemain utama di segmen obat resep adalah Kalbe Group dengan pangsa 14%, Dexa Medica Group (7%), Sanbe (6%), Pfizer Group (4%), Sanofi Aventis Group (4%), Fahrenheit (4%), dan Novartis Group (4%).

PYRIDAM FARMA
Perusahaan multi nasional PT Pyridam Farma Tbk juga menargetkan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang atau utilisasi pabrik meningkat hingga10% seiring naik-nya permintaan produk farmasi di pasar domestik. Dibandingkan tahun 2010, kenaikan direncanakan dari 80% menjadi 90%. 
Sekretaris Perusahaan Pyridam Farma, Ryan Arvin, menjelaskan saat ini perseroan masih menghitung besaran investasi yang dibutuhkan untuk peningkatan utilisasi itu. "Pada akhir kuartal I 2011 baru bisa ditentukan berapa dana yang dibutuhkan untuk peningkatan tersebut," katanya.

Peningkatan utilisasi pabrik dilakukan untuk memenuhi kebutuhan farmasi di Indonesia, khususnya di segmen obat etikal yang selama ini menjadi fokus bisnis perseroan.

Perseroan ini telah mematok target pendapatan pada 2011 sebesar Rp 167 miliar, meningkat sekitar 15% dibandingkan proyeksi tahun lalu Rp 145 miliar. Peningkatan utilisasi dilakukan seiring rencana peluncuran obat baru pada 2011 untuk mengejar target pendapatan. "Rencananya akan kami luncurkan 3 sampai 5 produk obat baru pada 2011," tambah Ryan.

SANOFI AVENTIS
Sanofi meningkatkan kapasitas produksi sebesar 44,5% dari 90 juta tablet di 2010 menjadi 130 juta tablet. Plant Director Sanofi-Aventis, Mohammad Sumarno menjelaskan peningkatan produksi tersebut seiring rencana perusahaan melakukan ekspansi pasar ekspor ke Australia dan Selandia Baru pada tahun ini. “Sebanyak 40 juta tablet baru yang kami produksi pada tahun ini seluruhnya diekspor ke Australia dan Selandia Baru," ujar Sumarno.

Perseroan yang berkantor pusat di Pulo Mas, Jakarta dengan luas lahan 33000 m² ini menilai Australia sebagai pasar ekspor yang prospektif untuk obat bebas. Sanofi telah memperoleh izin peredaran obat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan Australia (Terapeutic Good Agency/TGA) sejak Maret 2010. Ekspor ke Australia dan Selandia baru akan dimulai pada Maret 2011. Penetrasi pasar ke dua negara tersebut ditargetkan akan memperbesar pangsa pasar ekspor obat bebas milik perseroan. Selama ini pangsa pasar ekspor terbesar Sanofi untuk obat bebas adalah Thailand dan Vietnam.

Sementara pangsa pasar ekspor terbesar produk Sanofi di segmen obat resep adalah Thailand dan Kamboja. Dari total penjualan Sanofi-Aventis Indonesia, komposisinya 50% untuk domestik dan 50% ekspor.

KIMIA FARMA
Kimia Farma menargetkan utilisasi pabrik meningkat 3% dibandingkan tahun lalu, dari 75% menjadi 78%.

Direktur Utama Kimia Farma, Syamsul Arifin, menjelaskan peningkatan utilisasi pabrik akan berdampak pada kenaikan produksi yang akan meningkatkan pendapatan perseroan. Pada tahun ini, Kimia Farma menargetkan pendapatan mencapai Rp 3,25 triliun, naik 4,8% dibanding proyeksi 2010 yakni Rp 3,1 triliun.

Peningkatan utilisasi pabrik tahun ini juga didukung order produk farmasi dari pemerintah pada kuartal III dan IV 2011. Proyek pengadaan produk farmasi dari pemerintah akan menyumbang 30% dari total produksi perseroan tahun ini. Saat ini kapasitas produksi Kimia Farma untuk obat generik mencapai 65%, sementara 35% sisanya merupakan produksi obat bebas (OTC) dan obat resep.

Berdasarkan laporan keuangan Kimia Farma yang belum diaudit, pada 2010 laba bersih perseroan tumbuh 61,44% menjadi Rp 100,9 miliar dibandingkan 2009 sebesar Rp 62,5 miliar. Pada 2011, perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp 153,4 miliar.

Kimia Farma mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 51,8 miliar pada 2010, meningkat dibandingkan 2009 sebesar Rp 34,1 miliar.

TARGET INVESTASI DI SEKTOR FARMASI

Terkait dengan Investasi, sektor farmasi pada 2011 ditarget-kan meningkat dari US$ 500 juta menjadi US$ 750 juta – US$ 800 juta, atau 50%-60% dibandingkan proyeksi tahun lalu, seiring rencana kebijakan pemerintah melonggarkan kepemilikan asing dari 75% menjadi 100%.

Sebagaimana dikatakan Menteri Kesehatan RI, Endang R Sedyaningsih bahwa dengan kebijakan baru itu, prinsipal farmasi multinasional akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga berimplikasi meningkatkan tekno-logi di sektor farmasi. Harga obat resep pun diharapkan bisa menjadi lebih murah.

Diharapkan, untuk selanjutnya kapasitas produksi industri farmasi nasional akan terus bertambah terutama untuk obat resep (etikal) yang belum dibuat di dalam negeri, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes.

Direktur Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan Kemen-terian Kesehatan RI, Sri Indrawati, mengatakan investasi yang siap masuk akan memacu penambahan pasokan obat nasional, dengan demikian masyarakat bisa lebih mudah untuk memperoleh obat yang dibutuhkan. Jenis obat yang diusulkan untuk dibuka investasinya yaitu obat resep yang
belum diproduksi di Indonesia, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes.

Perkiraan investasi yang akan masuk sebesar US$ 750 juta hingga US$ 800 juta, perkiraan ini diasumsikan dari pembangunan pabrik farmasi. Jika perusahaan membangun pabrik pengemasan saja, maka investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 250 juta. Sedangkan bagi perusahaan yang membangun pabriknya dari hulu ke hilir dengan produksi penuh (full production), nilai investasinya bisa mencapai US$ 500 juta. "Tergantung produksi dan jenis obatnya," lanjut Sri Indrawati.

Sri Indrawati juga menjelaskan bahwa jenis obat pun menentukan besaran investasi yang akan digulirkan oleh perusahaan untuk membangun fasilitas produksi. Ia mengatakan bahwa investasi untuk satu jenis produksi akan lebih murah dibandingkan pembangunan pabrik yang memproduksi tiga jenis obat.

Keputusan Baru, Masalah Baru!!


Surat Edaran Kementrian Kesehatan No. TU.08.03/IV/1400/2011 ini ditetapkan pada tanggal 7 September, tujuannya untuk memperjelas aturan baru kefarmasian yang sekarang banyak diributkan rekan-rekan tenaga kefarmasian. Pembaharuan ini terutama terkait dengan PP 51 tahun 2009 dan Permenkes 889 tahun 2011. Kalau sudah baca dan memahaminya, yuk mari kita bahas pembaharuan aturan kefarmasian sebagaimana tertulis dijudul artikel ini, yang tentunya saya kaji hanya yang terkait dengan Tenaga Teknis Kefarmasiannya saja yaa kawan..:)
Hal pertama dan terpenting didalam surat edaran kemenkes TU.08.03/IV/1400/2011 ini adalah mengenai perpanjangan waktu untuk pergantian perizinan sebelumnya bagi tenaga kefarmasian, ke perizinan baru sebagaimana diatur dalam PP 51/2009 dan Permenkes 889/2011. Tidak perlu panjang lebar karena sudah saya uraikan dengan jelas diartikel Perpanjangan Waktu Pemutihan/ Penggantian SIAA ke STRTTK, bahwa yang sebelumnya waktunya berakhir tanggal 31 agustus kemarin dipernpanjang hingga 31 desember 2011. Jadi bersegeralah ya, mumpung syaratnya mudah dibanding buat baru. :)
Kemudian ketetapan yang tidak kalah pentingnya dan menjadi poin kedua yang harus rekan-rekan TTK pahami adalah mengenai tempat penerbitan Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian. Nah, bagi rekan yang telah menyimak Permenkes 889 tahun 2009, terutama untuk teman kita yang di Surabaya, akan kebingungan tuh mengenai lokasi pembuatan STRTTK ini. Yah, walau di aturan tersebut dengan jelas disebut perolehannya di Dinas Kesehatan Propinsi, tetapi pada prakteknya sewaktu membuat SIAA dahulu itu diurus di Kantor Pelayanan Terpadu. Jadi berdasarkan surat edaran kemenkes yang terbit 7 september kemarin, maka bagi daerah yang menetapkan perizinan STRTTK diperoleh di Kantor Pelayanan Terpadu atau dalam istilah edaran ini diebut manajemen satu pintu, tetap diperbolehkan dengan syarat penandatanganannya tetap oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat. Juga diterangkan lebih lanjut bahwa perolehan STRTTK yang pertama kali bagi lulusan baru adalah sama antara tempat pendidikan dan tempat Dinas Kesehatan Provinsi berada. Hal ini juga berlaku dalam pembuatan Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian atau SIKTTK.
Diantara pembaca artikel ini mungkin ada yang menjadi AAPJ dari Toko Obat Berijin, kalaupun tidak ada yang jelas saya begitu. Sebagai seorang Asisten Apoteker Penanggung Jawab TO, sebelumnya saya sempat ragu apakah dengan adanya pergantian izin ini akan bedampak dengan izin TO yang telah dimiliki atau bagaimana. Namun pertanyaan tersebut terjawab sudah dengan adanya surat edaran kemenkes ini, sebagai poin penting lainnya yang terkait dengan TTK. Disebut bahwa semua tempat pelayanan kefarmasian tidak perlu melakukan pembaharuan izin terkait dengan perubahan STRTTK dan SIKTTK ini. Terlalu luas ya kalau saya sebut tempat pelayanan kefarmasian, soalnya artikel ini kan hanya membahas yang terkait TTK aja. Habisnya ga enak kalau hanya menyebut Toko Obat berijin saja sebagai satu-satunya tempat pekejaan kefarmasian yang dapat dilakukan secara mandiri oleh TTK. Sudah baca belum mengenai aturan perizinan PBF terbaru 2011 ini? Moga sempat nanti menuliskannya.
Poin yang terakhir sebenarnya terkait dengan organisasi, institusi pendidikan, dan pemerintah/ dinkes. Untuk menjaga keseimbangan antara jumlah TTK dan kebutuhan pelayanan kesehatan, maka diperlukan kerjasama diantaranya. Ok daah, selesai juga artikel ini saya tulis. Mohon maaf, dan kalau berkenan silahkan tulis kembali komentarnya. Salam PAFI, semoga artikel mengenai pembaharuan aturan kefarmasian berdasar Surat Edaran Kemenkes No. TU.08.03/IV/1400/2011 bisa mejadi sumber informasi yang layak untuk dipahami bagi calon calon apoteker seperti saya. Ceileeh PD banget gue nyebut calon apoteker ye, ya sudahlaah moga aja sukses nempuh studinya. Amiin,..

Benarkah, Anggur Meningkatkan Daya Ingat?


Tau gak kalo' jus anggur bisa menurunkan resiko lemot looh?? Kira-kira bner gak yaa??Tetapi, anggur yang diolah menjadi jus, harus anggur yang berwarna ungu atau purple grape. Hal tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat.
Penelitian dilakukan dengan melibatkan 12 orang yang mengalami penuruanan daya ingat. Selama 12 minggu mereka secara teratur mengonsumsi jus anggur ungu. Partisipan yang terlibat penelitian, juga teratur menjalani menjalani tes daya ingat selama tiga bulan. Hasilnya terlihat perkembangan daya ingat yang cukup pesat setelah mereka menjalani beberapa tes mental dan daya ingat. Peneliti yang merupakan psikiater dari University of Cincinnati yakin antioksidan yang terdapat pada anggur membuat daya ingat mereka semakin membaik.
“Hasil tes para partisipan menunjukkan peningkatan daya ingat jangka pendek dan non verbal setelah 12 minggu mengonsumsi jus anggur tanpa campuran apapun,” kata Dr. Robert Krikorian, kepala peneliti dari University of Cincinnati.
Penelitian ini memperkuat teori bahwa makanan yang mengandung antioksidan tinggi dapat mencegah penurunan fungsi otak dan memperlambat penurunan daya ingat. Dr. Krikorian menguji coba jus anggur ungu pada orangtua yang mengalami masalah daya ingat berusia antara 75 hingga 80 tahun.
Tapi rasanya dan faktanya sendiri yang saya alami, penyakit lemot masih betah mendiami diri saya. Alhamdulillah laah, sesuatu banget. Anugrah tuhan yang sulit kuterima :(

Kode Etik Ahli Farmasi Indonesia


Terkadang apoteker tak jarang tlah melupakan janji yang mereka ucapkan saat mereka sukses menempuh studinya, tapi tahu kah kalian, janji yang terucap tersebut merupakan sebuah SUMPAH?? Bahwasanya Sumpah Asisten Apoteker Menjadi pegangan hidup dalam menjalankan tugas pengabdian kepada nusa dan bangsa Oleh karena itu seorang ahli farmasi Indonesia dalam pengabdianya profesinya mempunyai ikatan moral yang tertuang dalam Kode etik ahli Farmasi Indonesia :
A. Kewajiban terhadap Profesi
  1. Seorang Asisten Apoteker harus menjunjung tinggi serta memelihara martabat, kehormatan profesi, menjaga integritas dan kejujuran serta dapat dipercaya.
  2. Seorang Asisten Apoteker berkewajiban untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan sesuai dengan perkembangan teknologi.
  3. Serorang Asisten Apoteker senantiasa harus melakukan pekerjaan profesinya sesuai dengan standar operasional prosedur, standar profesi yang berlaku dank ode etik profesi.
  4. Serorang Asisten Apoteker senantiasa harus menjaga profesionalisme dalam memenuhi panggilan tugas dan kewajiban profesi.
B. Kewajiban Ahli Farmasi terhadap teman sejawat
  1. Seorang Ahli Farmasi Indonesia memandang teman sejawat sebagaimana dirinya dalam memberikan penghargaan
  2. Seorang Ahli Farmasi Indonesia senantiasa menghindari perbuatan yang merugikan teman sejawat secara material maupun moral
  3. Seorang Ahli Farmasi Indonesia senantiasa meningkatkan kerjasama dan memupuk keutuhan martabat jabatan kefarmasiaqn,mempertebal rasa saling percaya didalam menunaikan tugas
C. Kewajiban terhadap Pasien/pemakai Jasa
  1. Seorang Asisten Apoteker harus bertanggung jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan pelayanan kepada pasien/pemakai jasa secara professional
  2. Seorang Asisten Apoteker harus menjaga rahasia kedokteran dan rahasia kefarmasian, serta hanya memberikan kepada pihak yang berhak
  3. Seorang Asisten Apoteker harus berkonsultasi/merujuk kepada teman sejawat atau teman sejawat profesi lain untuk mendapatkan hasil yang akurat atau baik.
D.Kewajiban Terhadap Masyarakat
  1. Seorang ahli Farmasi harus mampu sebagi suri teladan ditengah-tengah masyarakat
  2. Seorang ahli Farmasi Indonesia dalam pengabdian profesinya memberikan semaksimal mungkin pengetahuan dan  keterampilan yang dimiliki
  3. Seorang ahli Farmasi Indonesia harus selalu aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan dibidang kesehatan khususnya dibidang kesehatan khususnya dibidang Farmasi
  4. Seorang ahli Farmasi Indonesia harus selalu melibatkan diri dalam usaha – usaha  pembangunan nasional khususnya dibidang kesehatan
  5. Seorang ahli Farmasi harus mampu sebagai pusat informasi sesuai bidang profesinya kepada masyarakat dalam  pelayanan kesehatan
  6. Seorang ahli Farmasi Indonesia harus menghindarkan diri dari usaha- usaha yang mementingkan diri sendiri serta bertentangan dengan jabatan Farmasian.
E. Kewajiban Ahli Farmasi Indonesia terhadap Profesi Kesehatan Lainnya
1. Seorang Ahli Farmasi Indonesia senantiasa harus menjalin kerjasama yang baik, saling percaya, menghargai dan menghormati terhadap profesi kesehatan lainnya
2. Seorang  Ahli Farmasi Indonesia harus mampu menghindarkan diri terhadap perbuatan-
perbuatan yang dapat merugikan,menghilangkan kepercayaan,penghargaan masyarakat terhadap profesi kesehatan lainnya.

Kamis, 10 November 2011

Sejuta Masalah Terkait Obat Generik


Menurut berita kompas yang pernah saya baca, terurai kalimat yang sedikit membuat saya bingung akan dunia farmasi yang semakin lama mulai tak dapat ku pahami. Kenapa masalah seringkali timbul dalam dunia farmasi siih?? Apalagi kasus akan obat generic, rasanya sudah basi buat di bahas terus menerus, kendati Kementerian Kesehatan merevitalisasi peraturan tentang kewajiban menuliskan resep dan menggunakan obat generik di sarana kesehatan pemerintah, masyarakat masih kurang tertarik menggunakan obat generik.
Menurut Direktur Eksekutif International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG) Parulian Simanjuntak, sampai saat ini, penggunaan obat generik nonmerek baru mencapai 10 persen.
"Sampai saat ini masih ada stigma bahwa kualitas obat generik rendah. Ada keraguan terhadap kualitas obat generik karena harganya yang murah," katanya di Jakarta, Kamis (3/11/2011).
Parulian menjelaskan, sebenarnya kekhawatiran masyarakat itu tidak beralasan karena setiap obat memiliki standar kualitas yang sama.
Obat generik merupakan obat duplikat. Harganya bisa lebih murah dari obat paten karena industri farmasi yang memproduksi obat generik tidak mengeluarkan biaya untuk riset. Ia hanya membuat obat yang kandungan zat aktifnya sama persis dengan obat originator.
Sementara itu, obat originator atau obat yang memiliki paten mengeluarkan biaya teramat besar untuk riset dan uji klinik.
Namun, di Indonesia terdapat anomali. Harga obat generik bermerek di sini bisa lebih mahal daripada originator. Hal itu diduga karena produsen obat farmasi harus mengeluarkan biaya untuk mendekati dokter agar meresepkan obat mereka.
Mengenai dugaan tersebut, Parulian mengakui memang mendengar hal itu. "Tetapi agak sulit dibuktikan. IPMG hanya bisa melakukan pengawasan dan memberi teguran kepada perusahaan farmasi yang terbukti melanggar," katanya.
Tak adanya sistem jaminan kesehatan yang baik membuat pasien harus membayar harga obat jauh lebih mahal dibandingkan seharusnya. Pasien tak bisa memilih jenis obat dan tak tahu harganya. Mereka hanya diwajibkan membayar saat menebus resep.
Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Sri Indrawaty dalam seminar internasional Akses terhadap Obat dan Dampaknya terhadap Kebijakan Obat Nasional di Jakarta, Senin (3/10), mengatakan, penggunaan obat generik di Indonesia hanya sekitar 11 persen dari konsumsi obat nasional.
Kondisi ini jauh berbeda dengan negara-negara lain yang sudah bisa mencapai lebih dari 50 persen. Penggunaan obat generik sangat tinggi karena didukung kesadaran dokter, kuatnya posisi pemerintah terhadap dokter dan industri farmasi, serta tersedianya sistem pembiayaan kesehatan.
Di Indonesia, dokter cenderung meresepkan obat bermerek yang mahal karena tak percaya kualitas obat generik. Dokter juga sering meresepkan obat-obatan yang tak perlu atau berlebihan.
Industri pun enggan memproduksi obat generik karena tak menguntungkan. Namun, menurut Sri, kondisi ini terjadi akibat industri hanya fokus memproduksi obat generik dalam jumlah kecil. ”Peningkatan volume produksi dapat dilakukan jika mereka mau menggarap pasar luar negeri,” ujar Sri Indrawaty.
60 persen untuk obat
Penggunaan obat bermerek membuat komponen biaya obat sangat tinggi. Biaya obat yang ditanggung sebuah perusahaan di Indonesia mencapai 55 persen hingga 60 persen dari total biaya kesehatan karyawannya. Padahal, di Malaysia, komponen biaya obat hanya mencapai 10 persen.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany menambahkan, tak adanya sistem jaminan kesehatan membuat pasien harus membayar sendiri harga obat. Padahal, obat untuk penyakit tak menular yang kini menjadi pembunuh utama di Indonesia harganya puluhan juta rupiah satu paket.
”Jika ada jaminan kesehatan menyeluruh (universal coverage), biaya pengobatan ini akan ditanggung seluruh penduduk secara gotong royong,” katanya.
Sistem jaminan menyeluruh itu juga akan menguatkan posisi tawar pasien karena penyelenggara jaminanlah yang akan bernegosiasi dengan industri farmasi guna menentukan harga obat.
Para pembicara dari Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan yang di negara mereka sudah menerapkan jaminan kesehatan menyeluruh menegaskan, butuh komitmen kuat dari pemerintah untuk menerapkan sistem itu.
Tren penggunaan obat generik di Amerika Serikat ternyata terus berlanjut. Laporan terbaru yang dirilis IMS Institute for Healthcare Informatics tentang penggunaan obat-obatan di AS selama kurun waktu 2010 menunjukkan, sebagian besar obat-obat yang diresepkan di Negeri Paman Sam tersebut adalah obat dari jenis generik.
Melanjutkan tren dalam beberapa tahun terakhir, IMS menemukan bahwa 78%  dari sekitar 4 miliar resep yang dituliskan oleh dokter di AS sepanjang 2010 adalah obat-obat generik (baik yang tidak bermerek maupun yang dijual dengan menggunakan merek). Angka ini naik 4 % dibandingkan tahun 2009, sekaligus membuat market share obat generik terus mengalami peningkatan dalam kurun lima tahun terakhir.
Berikut adalah 10 obat yang paling banyak diresepkan (diurutkan berdasar peringkat tertinggi) :
1.      Hydrocodone (dikombinasi dengan acetaminophen) -- 131.2 juta resep
2.      Obat penurun kolesterol generik merek Zocor (simvastatin), -- 94.1 juta resep
3.      Lisinopril (termasuk yang dijual dengan merek Prinivil dan Zestril), obat penurun tekanan darah -- 87.4 juta resep  
4.      Hormon tiroid sintetis generik merek Synthroid (levothyroxine sodium),  -- 70.5  juta resep
5.      Obat penurun tensi/angina generik merek Norvasc (amlodipine besylate),  -- 57.2 juta resep
6.      Obat antasida generik merek Prilosec (omeprazole),  -- 53.4 juta resep (belum termasuk penjualan secara bebas/otc)
7.      Obat antibiotik Azithromycin (termasuk yang dijual dengan merek Z-Pak dan Zithromax),  -- 52.6 juta resep
8.      Antibiotik Amoxicillin (dengan berbagai macam merek), -- 52.3 juta resep
9.      Obat diabetes generik Glucophage (metformin),  -- 48.3 juta resep
10.  Obat penurun tensi Hydrochlorothiazide (dengan beragam merek), -- 47.8 juta resep.
10 Obat dengan nilai penjualan tertinggi
Memang bukan hal yang mengejutkan kalau obat-obat generik bukanlah sumber pendapatan tertinggi bagi para produsen obat. Buktinya, meskipun obat generik paling banyak diresepkan, tetapi obat yang sudah lepas masa patennya ini tidak mencatat nilai penjualan tertinggi.
Obat-obat yang paling banyak menghabiskan biaya bagi pasien adalah obat-obat paten yang masih terbilang baru dan masih mendapat perlidungan dari  kompetisi obat generik.
IMS melaporkan, bahwa rakyat Amerika menghabiskan sekurangnya 307 miliar dollar AS untuk menebus resep obat pada 2010. Angka ini naik 2,3 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 300 miliar dollar AS. 
Inilah 10 nama obat yang paling banyak menguras kantong pasien di AS :
1.         Lipitor, obat penurun kolestrol -- $7.2 miliar
2.          Nexium, obat antasida -- $6.3 miliar
3.         Plavix, obat pengencer darah -- $6.1 miliar
4.         Advair Diskus, inhaler untuk asma-- $4.7 miliar
5.         Abilify, obat antipsikotik  -- $4.6 miliar
6.         Seroquel, obat antipsikotik  -- $4.4 miliar
7.         Singulair, obat oral untuk asma -- $4.1 miliar
8.         Crestor, obat penurun kolesterol -- $3.8 miliar
9.         Actos, obat diabetes  -- $3.5 miliar
10.     Epogen, obat anemia yang disuntikan -- $3.3 miliar
Tapi syukurlaah, dan mungkin masyarakat kecil/ ekonomi menengah kebawah masih bisa bernafas dengan lega, karna gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia sepakat tidak menaikkan harga obat generik bermerek pada tahun 2011. Perusahaan farmasi yang telanjur menaikkan harga diminta menurunkan kembali harga obat yang mereka jual di pasaran.
”Penurunan harga selambat- lambatnya dilakukan 1 Maret,” kata Anthony CH Sunarjo, Ketua Umum GP Farmasi, Jumat (25/2) di Jakarta. Keputusan ini diambil GP Farmasi mengingat kondisi daya beli masyarakat Indonesia yang semakin sulit.
Menurut hasil temuan GP Farmasi, dari sekitar 200 industri farmasi di Indonesia, hanya 15 industri yang menaikkan harga obat. Kenaikan harga obat ini terjadi pada produk obat generik bermerek yang cepat laku.
Beberapa waktu sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengimbau perusahaan farmasi nasional untuk tidak menaikkan harga obat mengingat daya beli masyarakat semakin merosot. ”Obat tidak sama dengan komoditas perdagangan lain. Pengusaha tidak bisa hanya memikirkan aspek bisnis saja, tetapi juga aspek sosialnya,” kata Sri Indrawaty, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemkes, yang dihubungi terpisah.
Untuk mengurangi tingginya harga obat, industri farmasi sebenarnya bisa mengurangi komponen lain, seperti mengurangi margin keuntungan dan mengurangi biaya promosi obat ethical (obat yang didapat lewat resep).
Kenaikan harga obat di pasaran mencapai 10 persen saat Kementerian Keuangan menerapkan tarif bea masuk bahan baku obat sebesar 5 persen.
Menurut Anthony, bea masuk 5 persen ini membebani industri farmasi yang menanggung kenaikan biaya lain, seperti kenaikan harga bahan baku obat yang sebagian besar diimpor, tarif dasar listrik, upah minimum regional, dan tingkat inflasi yang semakin tinggi.
Kemkes mengupayakan agar bea masuk impor bahan baku obat diturunkan. Pemerintah juga menyosialisasikan pemakaian obat generik berlogo yang disubsidi pemerintah sebagai obat murah yang dijamin mutunya. (IND)



Bencana Kaum Hawa

KANKER SERVIKS

Kanker servik adalah keganasan kedua yang paling sering terjadi pada wanita diseluruh dunia, dan masih merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di negara – negara berkembang. Di Amerika Serikat, kanker servik merupakan neoplasma ganas nomer 4 yang sering terjadi pada wanita., setelah Ca mammae, kolorektal, dan endometrium. Insidensi dari kanker servik yang invasif telah menurun secara terus menerus di Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir, namun terus meningkat di negara – negara berkembang. Perubahan tren epidemiologis ini di Amerika Serikat erat kaitannya dengan skrining besar – besaran dengan Papanicolaou tests (Pap smears).
Kanker serviks merupakan kanker yang primer berasal dari serviks (kanalis servikalis dan atau porsio). Setengah juta kasus dilaporkan setiap tahunnya dan insidensinya lebih tinggi di negara sedang berkembang. Hal ini kemungkinan besar diakibatkan belum rutinnya program skrining pap smear yang dilakukan. Di Amerika latin, gurun Sahara Afrika dan Asia tenggara termasuk Indonesia kanker serviks menduduki urutan kedua setelah kanker payudara.
Di Indonesia dilaporkan jumlah kanker serviks baru adalah 100 per 100.000 penduduk per tahun atau 180.000 kasus baru dengan usia antara 45-54 tahun dan menempati urutan teratas dari 10 kanker yang terbanyak pada wanita. Perjalanan penyakit karsinoma serviks merupakan salah satu model karsinogenesis yang melalui tahapan atau multistep, dimulai dari karsinogenesis yang awal sampai terjadinya perubahan morfologi hingga menjadi kanker invasif. Studi-studi epidemiologi menunjukkan 90% lebih kanker serviks dihubungkan dengan jenis human papilomma virus (HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis yang buruk.

A. Definisi
Kanker serviks adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada serviks. Kanker serviks merupakan kanker yang primer berasal dari serviks (kanalis servikalis dan atau porsio). Serviks adalah bagian ujung depan rahim yang menjulur ke vagina.


B. Angka Kejadian
Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus merupakan kanker pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara. Setiap tahunnya, terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru kanker leher rahim (cervical cancer), sebanyak 80 persen terjadi pada wanita yang hidup di negara berkembang. Sedikitnya 231.000 wanita di seluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim. Dari jumlah itu, 50% kematian terjadi di negara-negara berkembang. Hal itu terjadi karena pasien datang dalam stadium lanjut.
Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit kanker leher rahim saat ini menempati urutan pertama daftar kanker yang diderita kaum wanita Indonesia. saat ini ada sekitar 100 kasus per 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat. Selain itu, lebih dari 70 persen kasus yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut.

C. Etiologi dan Faktor Resiko
Perjalanan penyakit karsinoma serviks merupakan salah satu model karsinogenesis yang melalui tahapan atau multistep, dimulai dari karsinogenesis yang awal sampai terjadinya perubahan morfologi hingga menjadi kanker invasif. Studi-studi epidemiologi menunjukkan 90% lebih kanker serviks dihubungkan dengan jenis human papilomma virus (HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis yang buruk. HPV merupakan faktor inisiator kanker serviks. Oncoprotein E6 dan E7 yan berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya degenerasi keganasan. Onkoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53 akan kehilangan fungsinya. Sedangkan onkoprotein E7 akan mengikat TSG Rb, ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel dapat berjalan tanpa kontrol. 
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks, antara lain adalah :

1. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda

Faktor ini merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun.

2. Berganti-ganti pasangan seksual

Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping.

3. Merokok

Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping merupakan ko-karsinogen infeksi virus.

4. Defisiensi zat gizi

Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (vitamin A).

5. Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi, dan iritasi menahun

6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970)

7. Gangguan sistem kekebalan

8. Pemakaian pil KB

9. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun

10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin)



D. Klasifikasi

Klasifikasi histologik kanker serviks ada beberapa, di antaranya : 
1. Squamous carcinoma
a. Keratinizing
b. Large cell non keratinizing
c. Small cell non keratinizing
d. Verrucous
2. Adeno carcinoma
a. Endocervical
b. Endometroid (adenocanthoma)
c. Clear cell - paramesonephric
d. Clear cell - mesonephric
e. Serous
f. Intestinal
3. Mixed carcinoma
a. Adenosquamous
b. Mucoepidermoid
c. Glossy cell
d. Adenoid cystic
4. Undifferentiated carcinoma
5. Carcinoma tumor
6. Malignant melanoma
7. Maliganant non-epithelial tumors
a. Sarcoma : mixed mullerian, leiomysarcoma, rhabdomyosarcoma
b. Lymphoma
Jenis skuamosa merupakan jenis yang paling sering ditemukan, yaitu ± 90%; adenokarsinoma 5%; sedang jenis lainnya 5%. Karsinoma skuamosa terlihat sebagai jalinan kelompok sel-sel yang berasal dari skuamosa dengan pertandukan atau tidak, dan
kadang-kadang tumor sendiri dari sel-sel yang berdiferensiasi buruk atau dari sel-sel yang disebut small cell, berbentuk kumparan atau kecil serta bulat dan batas tumor stroma tidakjelas. Sel ini berasal dari sel basal atau reserved cell. Sedang adenokarsinoma terlihat sebagai sel-sel yang berasal dari epitel torak endoserviks, atau dari kelenjar endoserviks yang mengeluarkan mukus. 

E. Gejala Klinis
Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan
2. Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.
5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.

F. Diagnosis dan Staging
Staging untuk kanker serviks berdasarkan pemeriksaan klinis, sehingga pemeriksaan yang lebih teliti dan cermat dibutuhkan untuk penegakkan diagnosis. Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan. Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan. Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti palpasi, inspeksi, komposkopi, kuretase endoserviks, histeroskopi, sistoskopi, proktoskopi, intravenous urography, dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan tulang. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran pencernaan sebaiknya dipastikan dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan untuk pemeriksaan klinis. Interpretasi dari limfangografi, arteriografi, venografi, laparoskopi, ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini belum dapat digunakan secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi penyebaran karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif. 10
Pemeriksaan patologi anatomi setelah prosedur operasi dapat menjadi data yang akurat untuk penyebaran penyakit, tetapi penemuan ini tidak dianjurkan untuk menjadi perubahan diagnosis staging sebelumnya. Nomenklatur TNM lebih sesuai untuk penemuan ini.
Tabel 1. Staging Karsinoma Serviks Menurut FIGO
clip_image002
G. Pentatalaksanaan
Manajemen Tumor Insitu
Manajemen yang tepat diperlukan pada karsinoma insitu. Biopsi dengan kolposkopi oleh onkologis berpengalaman dibutuhkan untuk mengeksklusi kemungkinan invasi sebelum terapi dilakukan. Pilihan terapi pada pasien dengan tumor insitu beragam bergantung pada usia, kebutuhan fertilitas, dan kondisi medis lainnya. Hal penting yang harus diketahui juga adalah penyebaran penyakitnya harus diidentifikasi dengan baik.
Karsinoma insitu digolongkan sebagai high grade skuamous intraepitelial lesion (HGSIL). Beberapa terapi yang dapat digunakan adalah loop electrosurgical excision procedure (LEEP), konisasi, krioterapi dengan bimbingan kolposkopi, dan vaporisasi laser. Pada seleksi kasus yang ketat maka LEEP dapat dilakukan selain konisasi. LEEP memiliki keunggulan karena dapat bertindak sebagai biopsi luas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Keberhasilan eksisi LEEP mencapai 90% sedangkan konisasi mencapai 70-92%. Teknik lain yang dapat dilakukan untuk terapi karsinoma insitu adalah krioterapi yang keberhasilannya mencapai 80-90% bila lesi tidak luas (<2,5 cm), tetapi akan turun sampai 50% apabila lesi luas (> 2,5 cm). Evaporasi laser pada HGSIL memberikan kerbehasilan sampai 94% untuk lesi tidak luas dan 92% untuk lesi luas. HGSIL yang disertai NIS III memberikan indikasi yang kuat untuk dilakukan histerektomi. Pada 795 kasus HGSIL yang dilakukan konisasi didapatkan adanyarisiko residif atau kegagalan 0,9-1,2% untuk terjadinya karsinoma invasif.
Manajemen Mikroinvasif
Diagnosis untuk stadium IA1 dan IA2 hanya dapat ditegakkan setelah biopsi cone dengan batas sel-sel normal, trakelektomi, atau histerektomi. Bila biopsi cone positif menunjukkan CIN III atau kanker invasif sebaiknya dilakukan biopsi cone ulangan karena kemungkinan stadium penyakitnya lebih tinggi yaitu IB. Kolposkopi dianjurkan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya vaginal intraepithelial neoplasia (VAIN) sebelum dilakukan terapi definitif.
Stadium serviks IA1 diterapi dengan histerektomi total baik abdominal maupun vaginal. Apabila ada VAIN maka vagina yang berasosiasi harus ikut diangkat. Pertimbangan fertilitas pada pasien-pasien dengan stadium ini mengarahkan terapi pada hanya biopsi cone diikuti dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan, dan 12 bulan bila hasilnya negatif. Stadium serviks IA2 berasosiasi dengan penyebaran pada kelenjar limfe sampai dengan 10% sehingga terapinya adalah modified radical hysterectomy diikuti dengan limfadenektomi. Pada stadium ini bila kepentingan fertilitas masih dipertimbangkan atau tidak ditemukan bukti invasi ke kelenjar limfe maka dapat dilakukan biopsi cone yang luas disertai limfadenektomi laparoskopi atau radikal trakelektomi dengan limfadenektomi laparoskopi. Observasi selanjutnya dilakukan dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan dan 12 bulan.
Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Awal
Pasien-pasien dengan tumor yang tampak harus dilakukan biopsi untuk konfirmasi diagnosis. Apabila ditemukan gejala-gejala yang berhubungan dengan metastasis maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan seperti sistoskopi dan sigmoidoskopi. Pemeriksaan foto toraks dan evaluasi fungsi ginjal sangat dianjurkan. Stadium awal karsinoma serviks invasif adalah stadium IB sampai IIA (< 4cm). Stadium ini memiliki prognosis yang baik apabila diterapi dengan operasi atau radioterapi. Angka kesembuhan dapat mencapai 85% sampai 90% pada pasien dengan massa yang kecil. Ukuran tumor merupakan faktor prognostik yang penting untuk kesembuhan atau angka harapan hidup 5 tahunnya.
Penelitian kontrol acak selama 5 tahun mendapatkan bahwa radioterapi atau operasi menunjukkan angaka harapan hidup 5 tahunan yang sama dan tingkat kekambuhan yang sama-sama kecil untuk terapi karsinoma serviks stadium dini. Morbiditas terutama meningkat apabila operasi dan radiasi dilakukan bersama-sama. Namun, pemilihan pasien dengan penegakkan stadium yang baik dibutuhkan untuk menentukan terapi operatif. Jenis operasi yang dianjurkan untuk stadium IB dan IIA (dengan massa < 4cm) adalah modified radical hysterectomy atau radical abdominal hysterectomy disertai limfadenektomi selektif. Setelah dilakukan pemeriksaan patologi anatomi pada jaringan hasil operasi dan bila didapatkan penyebaran pada kelenjar limfe paraaorta atau sekitar pelvis maka dilakukan radiasi pelvis dan paraaorta. Radiasi langsung dilakukan apabila besar massa mencapai lebih dari 4 cm tanpa harus menunggu hasilpatologi anatomi kelenjar limfe.
Penelitian kontrol acak menunjukkan bahwa pemberian terapi sisplatin yang bersamaan dengan radioterapi setelah operasi yang memiliki invasi pada kelenjar limfe, parametrium, atau batas-batas operatif menunjukkan keuntungan secara klinis. Penelitian dengan berbagai dosis dan jadwal pemberian sisplatin yang diberikan bersamaan dengan radioterapi menunjukkan penurunan risiko kematian karena kanker serviks sebanyak 30-50%. Risiko juga meningkat apabila didapat ukuran massa yang lebih dari 4 cm walaupun tanpa invasi pada kelenjar-kelenjar limfe,infiltrasi pada kapiler pembuluh darah, invasi di lebih dari 1/3 stroma serviks. Radioterapi pelvis adjuvan akan meningkatkan kekambuhan lokal dan menurunkan angka progresifitas dibandingkan tanpa radioterapi.
Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Lanjut
Ukuran tumor primer penting sebagai faktor prognostik dan harus dievaluasi dengan cermat untuk memilih terapi optimal. Angka harapan hidup dan kontrol terhadap rekurensi lokal lebih baik apabila didapatkan infiltrasi satu parametrium dibandingkan kedua parametrium. Pengobatan terpilih adalah radioterapi lengkap, dilanjutkan penyinaran intrakaviter. Terapi variasi yang diberikan biasanya beruapa pemberian kemoterapi seperti sisplatin, paclitaxel, 5-fluorourasil, docetaxel, dan gemcitabine. Pengobatan bersifat paliatif bila stadium mencapai staidum IVB dalam bentuk radiasi paliatif.
H. Pencegahan dan Skrining
Kematian pada kasus kanker serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada dalam stadium lanjut. Padahal, dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini, kemungkinan penyakit ini dapat disembuhkan sampai hampir 100%. Malahan sebenarnya kanker serviks ini sangat bisa dicegah. Menurut ahli obgyn dari New York University Medical Centre , dr. Steven R. Goldstein, kuncinya adalah deteksi dini .
Sekitar 90-99 persen jenis kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Virus ini bisa ditransfer melalui hubungan seksual dan bisa hadir dalam berbagai variasi. Ada beberapa kasus virus HPV yang reda dengan sendirinya, dan ada yang berlanjut menjadi kanker serviks, sehingga cukup mengancam kesehatan anatomi wanita yang satu ini.
Salah satu problema yang timbul akibat infeksi HPV ini seringkali tidak ada gejala atau tanda yang tampak mata. Menurut hasil studi National Institute of Allergy and Infectious Diseases , hampir separuh wanita yang terinfeksi dengan HPV tidak memiliki gejala-gejala yang jelas. Dan lebih-lebih lagi, orang yang terinfeksi juga tidak tahu bahwa mereka bisa menularkan HPV ke orang sehat lainnya.
Kini, 'senjata' terbaik untuk mencegah kanker ini adalah bentuk skrining yang dinamakan Pap Smear , dan skrining ini sangat efektif. Pap smear adalah suatu pemeriksaan sitologi yang diperkenalkan oleh Dr. GN Papanicolaou pada tahun 1943 untuk mengetahui adanya keganasan (kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat dan tidak sakit. Masalahnya, banyak wanita yang tidak mau menjalani pemeriksaan ini, dan kanker serviks ini biasanya justru timbul pada wanita-wanita yang tidak pernah memeriksakan diri atau tidak mau melakukan pemeriksaan ini. 50% kasus baru kanker servik terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak pernah melakukan pemeriksaan pap smear. Padahal jika para wanita mau melakukan pemeriksaan ini, maka penyakit ini suatu hari bisa saja musnah, seperti halnya polio.
Tabel 2. Kategorisasi diagnosis deskriptif Pap smear berdasarkan sistem Bethesda
clip_image004
Dalam perkembangannya, banyak ahli dalam the American Cancer Society, the American College of Obstetricians and Gynecologists, the American Society for Colposcopy and Cervical Pathology, dan the US Preventive Services Task Force menetapkan protokol skrining bersama-sama, sebagai berikut :
1. Skrining awal. Skrining dilakukan sejak seorang wanita telah melakukan hubungan seksual (vaginal intercourse) selama kurang lebih tiga tahun dan umurnya tidak kurang dari 21 tahun saat pemeriksaan. Hal ini didasarkan pada karsinoma serviks berasal lebih banyak dari lesi prekursornya yang berhubungan dengan infeksi HPV onkogenik dari hubungan seksual yang akan berkembang lesinya setelah 3-5 tahun setelah paparan pertama dan biasanya sangat jarang pada wanita di bawah usia 19 tahun.
2. Pemeriksaan DNA HPV juga dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan Pap’s smear untuk wanita dengan usia di atas 30 tahun. Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Pap’s smear negatif disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3 sebanyak hampir 100%. Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita dengan umur diatas 30 tahun karena prevalensi infeksi HPV menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29 tahun atau lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat sampai 65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. Walaupun infeksi ini sangat sering pada wanita muda yang aktif secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan waktu. Sehingga, deteksi DNA HPV yang positif yang ditenukan kemudian lebih dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks.
3. Skrining untuk wanita di bawah 30 tahun berisiko dianjurkan menggunakan Thinprep atau sitologi serviks dengan liquid-base method setiap 1-3 tahun.
4. Skrining untuk wanita di atas 30 tahun menggunakan Pap’s smear dan pemeriksaan DNA HPV. Bila keduanya negatif maka pemeriksaan diulang 3 tahun kemudian.
5. Skrining dihentikan bila usia mencapai 70 tahun atau telah dilakukan 3 kali pemeriksaan berturut-turut dengan hasil negatif.
Tidak dapat dipungkiri, memang saat ini cara terbaik untuk mencegah kanker serviks adalah dengan screening gynaecological dan jika dibutuhkan dilengkapi dengan treatment yang terkait dengan kondisi pra-kanker. Namun demikian, dengan adanya biaya dan rumitnya proses screening dan treatment, cara ini hanya memberikan manfaat yang sedikit di negara-negara yang membutuhkan penanganan. Beberapa hal lain yang dapat dilakukan dalam usaha pencegahan terjadinya kanker serviks antara lain :
1. Vaksin HPV
Sebuah studi menyatakan bahwa kombinasi vaksinasi HPV dan screening dapat memberikan manfaat yang besar dalam pencegahan penyakit ini. Vaksin HPV dapat berguna dan cost efective untuk mengurangi kejadian kanker serviks dan kondisi pra-kanker, khususnya pada kasus yang ringan. Vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis ini dapat melindungi tubuh dalam melawan kanker yang disebabkan oleh HPV (tipe 16 dan 18). Salah satu vaksin dapat membantu menangkal timbulnya kutil di daerah genital yang diakibatkan oleh HPV 6 dan 11, juga HPV 16 dan 18. Manfaat tersebut telah diuji pada uji klinis tahap III dan harus dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Keyakinan hasil uji klinis tahap III ini menunjukan bahwa vaksin-vaksin tersebut dapat membantu menangkal infeksi HPV dari tipe-tipe diatas dan mencegah lesi pra-kanker pada wanita yang belum terinfeksi HPV sebelumnya.
2. Penggunaan kondom
Para ahli sebenarnya sudah lama meyakininya, tetapi kini mereka punya bukti pendukung bahwa kondom benar-benar mengurangi risiko penularan virus penyebab kutil kelamin (genital warts) dan banyak kasus kanker leher rahim. Hasil pengkajian atas 82 orang yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine memperlihatkan bahwa wanita yang mengaku pasangannya selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual kemungkinannya 70 persen lebih kecil untuk terkena infeksi human papillomavirus (HPV) dibanding wanita yang pasangannya sangat jarang (tak sampai 5 persen dari seluruh jumlah hubungan seks) menggunakan kondom. Hasil penelitian memperlihatkan efektivitas penggunaan kondom di Indonesia masih tergolong rendah. Dari survei Demografi Kesehatan Indonesia pada 2003 (BPS-BKKBN) diketahui bahwa ternyata penggunaan kondom pada pasangan usia subur di negara ini masih sekitar 0,9 persen. 
3. Sirkumsisi pada pria
Sebuah studi menunjukkan bahwa sirkumsisi pada pria berhubungan dengan penurunan resiko infeksi HPV pada penis dan pada kasus seorang pria dengan riwayat multiple sexual partners, terjadi penurunan resiko kanker serviks pada pasangan wanita mereka yang sekarang.

I. Prognosis
Prognosis kanker serviks tergantung dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years survival rate untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira 50%, dan untuk stadium IV kurang dari 30%.
1. Stadium 0
100 % penderita dalam stadium ini akan sembuh.
2. Stadium 1
Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi 2, IA dan IB. dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai 90%.  Ini tidak termasuk wanita dengan kanker pada limfonodi mereka.
3. Stadium 2
Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate sebesar 70 - 90%..
Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai 65%.
4. Stadium 3
Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%
5. Stadium 4
Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%