Tampilkan postingan dengan label Obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

Indahnya Jadi Apoteker


A.    Industri Farmasi Indonesia
Indonesia adalah negara terpadat ke-empat di dunia. Profil demografis negeri ini relatif muda, kendati demikian pertumbuhan penduduk juga relatif  tinggi yang semakin meningkatkan tekanan finansial pada sumber daya kesehatan. Meskipun memiliki populasi yang besar, nilai pasar farmasi Indonesia masih sangat rendah.


Populasi penduduk usia -65 tahun tercatat  hanya di atas 5% dari total penduduk. Indikator kesehatan yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pertanda yang baik bagi pembangunan ekonomisebagai suatu sumber kesehatan yang makin menguat. Dari model belanja Business Monitor International (BMI) yang dilaporkan pada Mei 2010, menunjukkan bahwa pasar farmasi di Indonesia akan bernilai Rp 81,03 milyar pada 2019. Dipicu oleh adanya ledakan ekonomi, inflasi yang tinggi, pertumbuhan penduduk yang signifikan, dan meningkatnya anggaran kesehatan pemerintah.

Situasi ini menjadi peluang bagi industri farmasi untuk memanfaatkan pasar lokal. Namun bagi perusahaan asing, mereka terbentur oleh policy di lingkungan bisnis yang 'proteksionis', prevalensi dari obat palsu dan penetapan harga tidak transparan dan pembayaran kembali.
Pada 2008 penjualan sektor farmasi di Indonesia, meningkat 9,05% mencapai nilai Rp 26,89 milyar, membuat Indonesia menjadi salah satu pasar farmasi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Namun, penjualan obat turun mencapai 2,32% pada tahun 2009, sebagai akibat menurunnya permintaan ekspor negara selama terjadi krisis ekonomi global. Diperkirakan akan terjadi pertumbuhan yang lebih baik pada tahun berikutnya, karena pengaruh menguatnya mata uang Rupiah 10,89% dari rata-rata per tahun 2009-2014 dan 10,35% dari rata-rata per tahun selama 2014-2019. Peningkatan belanja fiskal dan tumbuhnya keterlibatan pemerintah pada sektor farmasi akan meng-untungkan industri farmasi.
Pada 2007, Indonesia menghabiskan sebesar 2,48% dari PDB untuk kesehatan, nilai ini lebih rendah dari standar regional dan global. Dari jumlah ini US$ 10,73 milyar, hanya lebih dari setengah dihabiskan oleh negara.

Pada 2014, diharapkan pemerintah dan keseluruhan bidang perawatan kesehatan masing-masing men-capai US$ 22,38 milyar dan US$ 33,43 milyar.

Penguatan rupiah cenderung menguntungkan industri farmasi asing. Diperkirakan kurs Rupiah terhadap Dollar AS menguat dari Rp 9,685,- per US$ 1 pada 2008, menguat lagi menjadi Rp 8,375,- per US$ 1 pada 2014, dan Rp 7,875,- per US$ 1 pada 2019. Sementara pasar farmasi lokal akan mencatat angka 10,89% rata-rata pertahun selama 5 tahun terkait mata uang lokal, angka yang sesuai untuk dolar AS adalah 15,35%.

Situasi Makro Ekonomi
Ekonomi Indonesia kian meningkat dibanding pada Q4 2009, dengan pertumbuhan riil PDB 5,4% per tahun dan menguat 4,5%. Prospek pertumbuhan Indonesia selama tahun mendatang, proyeksi pertumbuhan secara riil PDB mencapai 5,2% pada 2010, akan meningkat menjadi 5,5% pada 2011.

Pendorong utama dari pertumbuhan pasar domestik di masa mendatang terkait dengan demografi Indonesia; meningkatnya rata-rata harapan hidup, memicu peningkatan penyakit degeneratif dan meningkatkan permintaan untuk obat-obatan gaya Barat. Di sisi lain, Indonesia masih mengalami masalah karena penyakit menular (terutama demam berdarah dan malaria), situasi diperparah oleh akses terbatas pada obat-obatan.

Ini juga telah mendorong pertum-buhan dalam penggunaan dan popularitas obat-obatan herbal, yang diharapkan dapat menjadi pesaing bagi obat bebas selama tahun-tahun mendatang.
Selain itu, meskipun kawasan ini merupakan salah satu pasar obat terbesar, belanja kesehatan pemerintah Indonesia yang kecil dari negara-negara tetangga, memaksa pasien untuk membayar sendiri biaya kesehatannya. Konsekuensinya, obat resep akan rentan terhadap kemerosotan ekonomi, serta meningkatkan gelombang obat palsu dan rendahnya daya beli penduduk.

Faktor Kunci Pertumbuhan Industri
Prioritas pemerintah termasuk regulasi restrukturisasi peraturan dan mendorong FDI, dengan rencana mengurangi lamanya waktu persetujuan lisensi produksi atau perdagangan dari 150 hari untuk 30 hari. Meskipun, banyak dari restrukturisasi yang saat ini masih di atas kertas, belum semuanya terealisasi akan menunda setiap peningkatan dalam investasi asing, ditandai di sektor ini dalam jangka pendek.
Selain itu, berlaku Undang-Undang Investasi yang diwarnai kontroversi akan membatasi FDI.

Secara keseluruhan, belum tampak kemungkinan adanya perbaikan yang signifikan dengan peraturan sampai harmonisasi regional ASEAN berlangsung sepenuhnya. Namun demikian, perusahaan farmasi lokal dapat mulai merasakan manfaat dari penurunan tarif baru untuk bahan baku. Tarif impor sebanyak 11.171 produk di berbagai kelompok industri termasuk farmasi telah diturunkan sebagai upaya negara mematuhi Free Trade Area. Tugas berat baru itu akan selesai 5% dan proses tersebut diselesaikan pada 2010.

Reaksi Para Pebisnis
Beberapa produsen lokal senang bahwa mereka akan mendapat sumber bahan baku lebih murah, meskipun yang lainnya merasa khawatir bahwa pasar domestik akan semakin terkena dampak persaingan. Suatu ukuran proteksionis yang telah diusulkan untuk mempertahankan struktur tarif pada API, namun tetap melindungi industri lokal terhadap impor obat jadi.

Pemerintah telah mengumumkan bahwa mereka menawarkan insentif pajak kepada sejumlah investor baru dan sektor industri. Fasilitas ini akan ditawarkan kepada perusahaan untuk membangun pabrik baru atau perluasan usaha di sektor kimia, petrokimia dan industri farmasi. Pemerintah yakin bahwa ini selanjutnya dapat mendorong investasi asing, dengan rencana lainnya yang bertujuan menarik modal asing termasuk usulan penghapusan industri farmasi dari daftar 'investasi negatif'.

Perkiraan Perdagangan Farmasi
Nilai impor farmasi Indonesia mencapai US$ 215.9 juta pada tahun 2008, sebagian besar perusahaan asing mencapai pasar melalui produk impor. Selain itu, sekitar 95% dari 1.300 bahan baku (API) yang digunakan untuk pembuatan obat di Indonesia adalah impor. Harga bahan baku merupakan masalah karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang fluktuatif.

Untuk mengamankan pasokan biaya rendah API, industri farmasi milik pemerintah Kimia Farma dan Indofarma menandatangani kontrak dengan pemasok API asal Cina secara aktif memberikan antibiotik masal. Industri farmasi India juga tertarik untuk memperluas pasarnya di Indonesia, dimana mereka sudah eksis melalui produk yang masuk sebagai re-export dari Singapura. Mayoritas ekspor India ke Indonesia untuk bahan baku adalah penting, karena Indonesia memiliki ketergantungan hampir sepenuhnya.

Namun demikian, prevalensi warga negara Cina di Indonesia berarti bahwa negara itu memiliki bisnis dan ekonomi yang lebih besar hubungan dengan Cina. Ini berarti bahwa produsen generik Cina, dalam jangka panjang tampak lebih diposisikan untuk memenuhi permintaan generik murah untuk dipasokan di negeri ini.

Sementara itu, nilai sektor farmasi di Indonesia dalam hal kemudahan pembentukan perusahaan patungan untuk pengujian kualitas obat tumbuh mencapai US$ 255 juta. Merupakan kebutuhan vital bagi pembeli di pasar negara maju.

Di Indonesia, PT Pharma Kinetika salah satu perusahaan pengujian obat untuk bioavailabilitas, jumlah obat yang mencapai aliran darah dan bioekivalensi, yang menetapkan apakah obat-obatan generik memiliki sifat yang sama dengan produk originator. Perusahaan patungan itu dibuat oleh Innogene Kalbiotech di Indonesia dan Info Kinetics dari Malaysia, dan berbasis di Jakarta.

PT Pharma Kinetics akan didukung oleh PT Pharma Metric Labs, perusahaan bioavailability/-bioequivalence yang didirikan oleh Innogene Kalbiotech tahun 2005. Permintaan untuk layanan
yang disediakan oleh PT Pharma Kinetics cenderung meningkat dengan cepat selama 18 bulan selanjutnya.

The Sectoral Mutual Recognition Arrangement untuk inspeksi Good Manufacturing Practice (GMP) untuk produsen obat dirancang untuk melancarkan perdagangan obat-obatan antara negara anggota ASEAN. Regulator obat suatu negara akan menyetujui pabrik obat dan sebuah sertifikasi akan diterima oleh negara-negara sesama ASEAN, dengan demikian mengurangi risko duplikasi usaha. Implementasi secara penuh diharapkan dapat terlaksana pada bulan Januari 2011.

Secara keseluruhan, diperkirakan bahwa penjualan obat asing buatan Indonesia akan mencapai US$ 266.8 juta pada 2014, dengan rata-rata penjualan tahunan sebesar 13,59% dalam dolar AS.
Harmonisasi ASEAN juga akan berpotensi men-dorong ekspor, meskipun rencana pengurangan tarif  menjadi nol - pada obat-obatan yang masuk ke Indonesia juga akan meningkatkan persaingan yang timbul dari impor.

Menurut United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Trade) mitra kerjasama ekspor obat terkemuka di Indonesia adalah Thailand, disusul oleh India dan Korea Selatan. Sebagian besar perdagangan obat generik murah, meningkat-kan value chain dan mencapai margin yang lebih besar. Industri farmasi Indonesia juga berpeluang menjual lebih banyak produk mereka ke negara-negara maju, seperti tetangga Australia.

Ekspor Obat
Terutama obat generik, secara historis tercatat merupakan bagian kecil dari penjualan industri domestik. Indonesia mengekspor berbagai jenis obat, walaupun secara umum murah seperti produk berbasis OTC, analgesik dan vitamin.

Namun ekspor saat ini terhambat oleh kurangnya investasi R&D, walaupun usaha patungan dengan perusahaan multinasional berpotensi meningkat secara signifikan untuk memperbaiki situasi.

Pasar obat-obatan herbal tradisional juga bisa membuktikan jalan untuk pertumbuhan ekspor, dengan perdagangan telah menjadi senilai Rp 2 trilyun pertahun dan kebanyakan mencapai Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong, serta Timur Tengah dan Rusia.

Perkiraan Data Kesehatan lainnya
Ada kemungkinan perusahaan asing berinvestasi di suatu negara jika lingkungan bisnisnya kondusif, dengan investasi seperti membawa perangkat ekspansi berskala yang lebih besar. Sementara skenario seperti itu sedang didorong oleh usulan penghapusan industri farmasi dari daftar 'investasi negatif', di sisi lain posisi perusahaan asing di Indonesia terancam oleh penegakan persyaratan baru yang mereka harus memiliki fasilitas produksi lokal.

Aturan baru itu telah mempengaruhi 13 dari 29 perusahaan asing yang beroperasi di negeri ini, dengan kemungkinan penarikan produk oleh 13 perusahaan yang mempunyai dampak signifikan pada pasar.

Sementara beberapa kekurangan obat-obatan bisa diharapkan, kesenjangan kemungkinan besar akan diisi oleh produk pesaing,  yang dipasarkan oleh industri farmasi baik asing dan domestik.

Namun demikian, dampak undang-undang tersebut belum sepenuhnya dapat diperkirakan. Mengingat sifat perusahaan yang berbasis penelitian, perusahaan yang paling terpengaruh oleh perubahan yang melibatkan produk bermerek yang dipatenkan, nilai-nilai akan turun dalam jangka pendek jika produk ditarik tanpa diganti.

Banyak kalangan yang mencurigai bahwa langkah ini bernuansa politik dan perusahaan multinasional terkena dampak. Namun demikian, potensi pasar di Indonesia sangat penting, mengingat jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi saat ini rendah.

Sektor ekspor juga memungkinkan lebih meluas secara cepat dari yang diperkirakan, sebagaian produsen dapat memodernisasi industrinya dan memperkuat kehadirannya di pasar regional untuk bersaing dan mengambil keuntungan lebih lanjut dari negara yang mata uangnya melemah.



B.    Investasi Sektor Industri Farmasi  

Tahun 2011 ini, investasi farmasi ditargetkan meningkat 50%-60% dibandingkan proyeksi tahun lalu, dari US$ 500 juta menjadi US$ 750 juta – US$ 800 juta, seiring rencana kebijakan pemerintah memberi peluang kepemilikan asing sebesar 100%. Dengan kebijakan baru itu, prinsipal farmasi multinasional akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga berimplikasi meningkatkan teknologi di sektor ini dan bisa menurunkan harga obat menjadi lebih murah.

Sri Indrawati, Dirjen Binfar dan Alkes Kemenkes RI, mengharapkan investasi yang siap masuk akan kapasitas produksi obat nasional akan bertambah terutama untuk obat etikal yang belum diproduksi di dalam negeri, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes. Masyarakat akan lebih mudah memperoleh obat yang dibutuhkan.

Perkiraan investasi senilai US$ 750 - 800 juta itu merupakan asumsi dari pembangunan pabrik farmasi. Untuk pembangunan pabrik pengemasan, membutuhkan investasi sekitar US$ 250 juta. Pembangun pabrik dengan produksi penuh (hulu ke hilir/full production), nilai investasinya bisa mencapai US$ 500 juta. "Tergantung produksi dan jenis obatnya," katanya. Menurut Sri Indrawati, jenis obat menentukan besaran investasi yang akan dialokasikan untuk pembangunan pabrik.

Direktur Eksekutif IPMG, Parulian Simanjuntak menjelaskan jika obat resep untuk penyakit modern seperti kanker, jantung, dan diabetes bisa diproduksi di dalam negeri, masyarakat tidak perlu lagi membelinya ke luar negeri. Pada 2010, pasar farmasi domestik diproyeksikan mencapai Rp 32,9 triliun, naik 11% dibandingkan 2009 sebesar Rp 29,7 triliun. Pertumbuhan pasar farmasi lokal rata-rata 11% per tahunnya diatas pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada 2010, produsen farmasi asing mendapat omset Rp 6,9 triliun. Sedangkan pangsa pasar produsen farmasi lokal Rp 26 triliun atau 79%. Pangsa pasar industri farmasi asing menurun 16% sepanjang lima tahun terakhir. (dbs)



C.    Pertumbuhan Pasar Farmasi Domestik
Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi memprediksi penjualan obat resep (ethical) pada tahun ini mencapai Rp 20,9 triliun, meningkat 13,34% dibandingkan tahun lalu Rp 18,44 triliun. Proyeksi pertumbuhan penjualan obat resep tahun ini lebih tinggi dibandingkan 2010 yang meningkat 10,88% dari 2009.

Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun atau compounded annual growth rate (CAGR) 11% sejak 2003 sampai estimasi 2010. Pada tahun ini pasar farmasi nasional diestimasikan mencapai Rp 38 triliun - Rp 39 triliun, naik 14,7% dibandingkan 2010. Pasar obat resep diperkirakan akan menembus Rp 20,9 triliun, sementara pasar obat bebas mencapai Rp 16,7 triliun.

Porsi penjualan obat resep terhadap total pasar farmasi nasional stagnan 56% sepanjang tiga tahun terakhir. Pada 2009, pasar farmasi nasional mencapai Rp 29,71 triliun dan porsi penjualan obat resep 56% atau senilai Rp 16,63 triliun. Pada 2010, pasar farmasi nasional naik menjadi Rp 32,9 triliun, sedangkan porsi obat resep tetap 56%.

Menurut Anthony Charles Sunarjo, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Farmasi, kenaikan pasar farmasi tahun 2011 dipicu oleh peningkatan konsumsi produk farmasi yang selaras dengan proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 234 juta jiwa pada 2010, meningkat menjadi 237 juta jiwa, pada 2011.

Anthony mengatakan,"Peningkatan penjualan obat etikal akan menguntungkan produsen farmasi seperti Kalbe Farma, Dexa Medica Group, dan Sanbe Farma.

Data yang dirilis oleh Intercontinental Marketing Services Health (IMS Healt) per Juni 2010, penguasaan pasar di segmen etikal adalah Kalbe Group (14%), Dexa Medica Group (7%), Sanbe (6%), Pfizer Group (4%), Sanofi Aventis Group (4%), Fahrenheit (4%), dan Novartis Group (4%).

PENINGKATAN UTILITAS
Melihat pangsa pasar dan adanya tren peningkatan penjualan obat resep yang menjanjikan, sejumlah produsen farmasi berupaya meningkatkan utilisasi pabrik di Indonesia. Banyak pelaku industri farmasi memperkirakan tren kompetisi di segmen obat resep semakin ketat di awal tahun.
 

Seiring kenaikan permintaan produk farmasi, terutama obat resep, empat emiten farmasi, yakni Pyridam Farma, Kimia Farma, Kalbe Farma, dan Pfizer, Sanofi Aventis menargetkan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang atau utilisasi pabrik meningkat 3%-10%. Bahkan Pfizer telah menargetkan kapasitas produksi akan ditingkatkan hingga dua kali lipat selama dua tahun mendatang. Sementara Sanofi Aventis meningkatkan hingga 44,5%.

KALBE FARMA
Perusahaan terbesar asal Indonesia ini mentargetkan utilisasi pabrik pada 2011 mening-kat 10% dibandingkan tahun lalu, dari 70% menjadi 80%. Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat resep, nutrisi, dan produk kesehatan di pasar domestik dan ekspor.

Menurut Direktur Keuangan Kalbe Farma, Vidjongtius, untuk mendukung upaya tersebut, perseroan menganggarkan dana belanja modal (capex) sebesar Rp 650 miliar, naik 44% dibanding 2010 yakni Rp 450 miliar. "Dana capex tahun ini dikeluarkan dari kas internal perusahaan," ujarnya.

Peningkatan utilisasi itu dilakukan antara lain dengan membangun tiga unit pabrik obat resep dan menambah kapasitas pabrik yang ada. Dari penambahan tersebut, segmen obat resep ditargetkan berkontribusi sebesar 25% terhadap pendapatan.

Dari peningkatan utilisasi, perusahaan menargetkan pendapatan konsolidasi pada 2011 meningkat hingga 10%-15%, dari proyeksi 2010 sebesar Rp 10,1 triliun - Rp 10,2 triliun menjadi Rp 11 triliun - Rp 11,5 triliun.

Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat resep, nutrisi, dan produk kesehatan di pasar domestik dan ekspor.

Porsi penjualan obat resep Kalbe Farma sebesar 26% terhadap total pendapatan, atau senilai Rp 1,91 triliun. Sementara kontribusi penjualan obat resep Kimia Farma sebesar 56% terhadap total pendapatan.

Pasar obat resep di Indonesia rata-rata tumbuh 11% per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) selama periode 2006 hingga proyeksi 2010. Kapitalisasi pasar obat resep juga naik, dari Rp 14,03 triliun pada 2006 menjadi Rp 21,14 triliun pada 2010.

Sampai dengan kuartal III 2010, segmen obat resep menyumbang 26% terhadap pendapatan Kalbe atau senilai Rp 1,91 triliun. Pembangunan tiga pabrik itu akan mendorong produksi obat Kalbe dari 3 miliar tablet tahun lalu menjadi 3,5 miliar tablet tahun ini. Dari segmen obat resep, saat ini Kalbe memproduksi 83 produk lisensi, 249 jenis produk generik bermerek, dan 41 produk obat generik.

PT PFIZER INDONESIA
PT Pfizer Indonesia tidak ketinggalan perusahaan multi nasional ini melaporkan akan menaikkan kapasitas pabrik obatnya di Bogor Jawa Barat, hingga dua kali lipat. Dari 100 juta tablet per tahun menjadi 200 juta tablet per tahun selama dua tahun ke depan.

Ekspansi Pfizer ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat terutama obat resep di pasar domestik, Indonesia.

Public Affair Communication Director Pfizer Indonesia, Chrisma Albanjar menjelaskan dengan adanya peningkatan kapasitas pabrik, perseroan menargetkan kenaik-an penjualan dan pangsa pasar produknya di Indonesia. Penjualan Pfizer diproyeksikan mencapai Rp 853 miliar dengan pangsa pasar 4,3% pada 2010.

Berdasarkan data IMS Health per Juni 2010, Pfizer termasuk dalam empat pemain terbesar obat resep di Indonesia. Pemain utama di segmen obat resep adalah Kalbe Group dengan pangsa 14%, Dexa Medica Group (7%), Sanbe (6%), Pfizer Group (4%), Sanofi Aventis Group (4%), Fahrenheit (4%), dan Novartis Group (4%).

PYRIDAM FARMA
Perusahaan multi nasional PT Pyridam Farma Tbk juga menargetkan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang atau utilisasi pabrik meningkat hingga10% seiring naik-nya permintaan produk farmasi di pasar domestik. Dibandingkan tahun 2010, kenaikan direncanakan dari 80% menjadi 90%. 
Sekretaris Perusahaan Pyridam Farma, Ryan Arvin, menjelaskan saat ini perseroan masih menghitung besaran investasi yang dibutuhkan untuk peningkatan utilisasi itu. "Pada akhir kuartal I 2011 baru bisa ditentukan berapa dana yang dibutuhkan untuk peningkatan tersebut," katanya.

Peningkatan utilisasi pabrik dilakukan untuk memenuhi kebutuhan farmasi di Indonesia, khususnya di segmen obat etikal yang selama ini menjadi fokus bisnis perseroan.

Perseroan ini telah mematok target pendapatan pada 2011 sebesar Rp 167 miliar, meningkat sekitar 15% dibandingkan proyeksi tahun lalu Rp 145 miliar. Peningkatan utilisasi dilakukan seiring rencana peluncuran obat baru pada 2011 untuk mengejar target pendapatan. "Rencananya akan kami luncurkan 3 sampai 5 produk obat baru pada 2011," tambah Ryan.

SANOFI AVENTIS
Sanofi meningkatkan kapasitas produksi sebesar 44,5% dari 90 juta tablet di 2010 menjadi 130 juta tablet. Plant Director Sanofi-Aventis, Mohammad Sumarno menjelaskan peningkatan produksi tersebut seiring rencana perusahaan melakukan ekspansi pasar ekspor ke Australia dan Selandia Baru pada tahun ini. “Sebanyak 40 juta tablet baru yang kami produksi pada tahun ini seluruhnya diekspor ke Australia dan Selandia Baru," ujar Sumarno.

Perseroan yang berkantor pusat di Pulo Mas, Jakarta dengan luas lahan 33000 m² ini menilai Australia sebagai pasar ekspor yang prospektif untuk obat bebas. Sanofi telah memperoleh izin peredaran obat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan Australia (Terapeutic Good Agency/TGA) sejak Maret 2010. Ekspor ke Australia dan Selandia baru akan dimulai pada Maret 2011. Penetrasi pasar ke dua negara tersebut ditargetkan akan memperbesar pangsa pasar ekspor obat bebas milik perseroan. Selama ini pangsa pasar ekspor terbesar Sanofi untuk obat bebas adalah Thailand dan Vietnam.

Sementara pangsa pasar ekspor terbesar produk Sanofi di segmen obat resep adalah Thailand dan Kamboja. Dari total penjualan Sanofi-Aventis Indonesia, komposisinya 50% untuk domestik dan 50% ekspor.

KIMIA FARMA
Kimia Farma menargetkan utilisasi pabrik meningkat 3% dibandingkan tahun lalu, dari 75% menjadi 78%.

Direktur Utama Kimia Farma, Syamsul Arifin, menjelaskan peningkatan utilisasi pabrik akan berdampak pada kenaikan produksi yang akan meningkatkan pendapatan perseroan. Pada tahun ini, Kimia Farma menargetkan pendapatan mencapai Rp 3,25 triliun, naik 4,8% dibanding proyeksi 2010 yakni Rp 3,1 triliun.

Peningkatan utilisasi pabrik tahun ini juga didukung order produk farmasi dari pemerintah pada kuartal III dan IV 2011. Proyek pengadaan produk farmasi dari pemerintah akan menyumbang 30% dari total produksi perseroan tahun ini. Saat ini kapasitas produksi Kimia Farma untuk obat generik mencapai 65%, sementara 35% sisanya merupakan produksi obat bebas (OTC) dan obat resep.

Berdasarkan laporan keuangan Kimia Farma yang belum diaudit, pada 2010 laba bersih perseroan tumbuh 61,44% menjadi Rp 100,9 miliar dibandingkan 2009 sebesar Rp 62,5 miliar. Pada 2011, perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp 153,4 miliar.

Kimia Farma mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 51,8 miliar pada 2010, meningkat dibandingkan 2009 sebesar Rp 34,1 miliar.

TARGET INVESTASI DI SEKTOR FARMASI

Terkait dengan Investasi, sektor farmasi pada 2011 ditarget-kan meningkat dari US$ 500 juta menjadi US$ 750 juta – US$ 800 juta, atau 50%-60% dibandingkan proyeksi tahun lalu, seiring rencana kebijakan pemerintah melonggarkan kepemilikan asing dari 75% menjadi 100%.

Sebagaimana dikatakan Menteri Kesehatan RI, Endang R Sedyaningsih bahwa dengan kebijakan baru itu, prinsipal farmasi multinasional akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga berimplikasi meningkatkan tekno-logi di sektor farmasi. Harga obat resep pun diharapkan bisa menjadi lebih murah.

Diharapkan, untuk selanjutnya kapasitas produksi industri farmasi nasional akan terus bertambah terutama untuk obat resep (etikal) yang belum dibuat di dalam negeri, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes.

Direktur Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan Kemen-terian Kesehatan RI, Sri Indrawati, mengatakan investasi yang siap masuk akan memacu penambahan pasokan obat nasional, dengan demikian masyarakat bisa lebih mudah untuk memperoleh obat yang dibutuhkan. Jenis obat yang diusulkan untuk dibuka investasinya yaitu obat resep yang
belum diproduksi di Indonesia, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes.

Perkiraan investasi yang akan masuk sebesar US$ 750 juta hingga US$ 800 juta, perkiraan ini diasumsikan dari pembangunan pabrik farmasi. Jika perusahaan membangun pabrik pengemasan saja, maka investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 250 juta. Sedangkan bagi perusahaan yang membangun pabriknya dari hulu ke hilir dengan produksi penuh (full production), nilai investasinya bisa mencapai US$ 500 juta. "Tergantung produksi dan jenis obatnya," lanjut Sri Indrawati.

Sri Indrawati juga menjelaskan bahwa jenis obat pun menentukan besaran investasi yang akan digulirkan oleh perusahaan untuk membangun fasilitas produksi. Ia mengatakan bahwa investasi untuk satu jenis produksi akan lebih murah dibandingkan pembangunan pabrik yang memproduksi tiga jenis obat.

Kamis, 10 November 2011

Sejuta Masalah Terkait Obat Generik


Menurut berita kompas yang pernah saya baca, terurai kalimat yang sedikit membuat saya bingung akan dunia farmasi yang semakin lama mulai tak dapat ku pahami. Kenapa masalah seringkali timbul dalam dunia farmasi siih?? Apalagi kasus akan obat generic, rasanya sudah basi buat di bahas terus menerus, kendati Kementerian Kesehatan merevitalisasi peraturan tentang kewajiban menuliskan resep dan menggunakan obat generik di sarana kesehatan pemerintah, masyarakat masih kurang tertarik menggunakan obat generik.
Menurut Direktur Eksekutif International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG) Parulian Simanjuntak, sampai saat ini, penggunaan obat generik nonmerek baru mencapai 10 persen.
"Sampai saat ini masih ada stigma bahwa kualitas obat generik rendah. Ada keraguan terhadap kualitas obat generik karena harganya yang murah," katanya di Jakarta, Kamis (3/11/2011).
Parulian menjelaskan, sebenarnya kekhawatiran masyarakat itu tidak beralasan karena setiap obat memiliki standar kualitas yang sama.
Obat generik merupakan obat duplikat. Harganya bisa lebih murah dari obat paten karena industri farmasi yang memproduksi obat generik tidak mengeluarkan biaya untuk riset. Ia hanya membuat obat yang kandungan zat aktifnya sama persis dengan obat originator.
Sementara itu, obat originator atau obat yang memiliki paten mengeluarkan biaya teramat besar untuk riset dan uji klinik.
Namun, di Indonesia terdapat anomali. Harga obat generik bermerek di sini bisa lebih mahal daripada originator. Hal itu diduga karena produsen obat farmasi harus mengeluarkan biaya untuk mendekati dokter agar meresepkan obat mereka.
Mengenai dugaan tersebut, Parulian mengakui memang mendengar hal itu. "Tetapi agak sulit dibuktikan. IPMG hanya bisa melakukan pengawasan dan memberi teguran kepada perusahaan farmasi yang terbukti melanggar," katanya.
Tak adanya sistem jaminan kesehatan yang baik membuat pasien harus membayar harga obat jauh lebih mahal dibandingkan seharusnya. Pasien tak bisa memilih jenis obat dan tak tahu harganya. Mereka hanya diwajibkan membayar saat menebus resep.
Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Sri Indrawaty dalam seminar internasional Akses terhadap Obat dan Dampaknya terhadap Kebijakan Obat Nasional di Jakarta, Senin (3/10), mengatakan, penggunaan obat generik di Indonesia hanya sekitar 11 persen dari konsumsi obat nasional.
Kondisi ini jauh berbeda dengan negara-negara lain yang sudah bisa mencapai lebih dari 50 persen. Penggunaan obat generik sangat tinggi karena didukung kesadaran dokter, kuatnya posisi pemerintah terhadap dokter dan industri farmasi, serta tersedianya sistem pembiayaan kesehatan.
Di Indonesia, dokter cenderung meresepkan obat bermerek yang mahal karena tak percaya kualitas obat generik. Dokter juga sering meresepkan obat-obatan yang tak perlu atau berlebihan.
Industri pun enggan memproduksi obat generik karena tak menguntungkan. Namun, menurut Sri, kondisi ini terjadi akibat industri hanya fokus memproduksi obat generik dalam jumlah kecil. ”Peningkatan volume produksi dapat dilakukan jika mereka mau menggarap pasar luar negeri,” ujar Sri Indrawaty.
60 persen untuk obat
Penggunaan obat bermerek membuat komponen biaya obat sangat tinggi. Biaya obat yang ditanggung sebuah perusahaan di Indonesia mencapai 55 persen hingga 60 persen dari total biaya kesehatan karyawannya. Padahal, di Malaysia, komponen biaya obat hanya mencapai 10 persen.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany menambahkan, tak adanya sistem jaminan kesehatan membuat pasien harus membayar sendiri harga obat. Padahal, obat untuk penyakit tak menular yang kini menjadi pembunuh utama di Indonesia harganya puluhan juta rupiah satu paket.
”Jika ada jaminan kesehatan menyeluruh (universal coverage), biaya pengobatan ini akan ditanggung seluruh penduduk secara gotong royong,” katanya.
Sistem jaminan menyeluruh itu juga akan menguatkan posisi tawar pasien karena penyelenggara jaminanlah yang akan bernegosiasi dengan industri farmasi guna menentukan harga obat.
Para pembicara dari Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan yang di negara mereka sudah menerapkan jaminan kesehatan menyeluruh menegaskan, butuh komitmen kuat dari pemerintah untuk menerapkan sistem itu.
Tren penggunaan obat generik di Amerika Serikat ternyata terus berlanjut. Laporan terbaru yang dirilis IMS Institute for Healthcare Informatics tentang penggunaan obat-obatan di AS selama kurun waktu 2010 menunjukkan, sebagian besar obat-obat yang diresepkan di Negeri Paman Sam tersebut adalah obat dari jenis generik.
Melanjutkan tren dalam beberapa tahun terakhir, IMS menemukan bahwa 78%  dari sekitar 4 miliar resep yang dituliskan oleh dokter di AS sepanjang 2010 adalah obat-obat generik (baik yang tidak bermerek maupun yang dijual dengan menggunakan merek). Angka ini naik 4 % dibandingkan tahun 2009, sekaligus membuat market share obat generik terus mengalami peningkatan dalam kurun lima tahun terakhir.
Berikut adalah 10 obat yang paling banyak diresepkan (diurutkan berdasar peringkat tertinggi) :
1.      Hydrocodone (dikombinasi dengan acetaminophen) -- 131.2 juta resep
2.      Obat penurun kolesterol generik merek Zocor (simvastatin), -- 94.1 juta resep
3.      Lisinopril (termasuk yang dijual dengan merek Prinivil dan Zestril), obat penurun tekanan darah -- 87.4 juta resep  
4.      Hormon tiroid sintetis generik merek Synthroid (levothyroxine sodium),  -- 70.5  juta resep
5.      Obat penurun tensi/angina generik merek Norvasc (amlodipine besylate),  -- 57.2 juta resep
6.      Obat antasida generik merek Prilosec (omeprazole),  -- 53.4 juta resep (belum termasuk penjualan secara bebas/otc)
7.      Obat antibiotik Azithromycin (termasuk yang dijual dengan merek Z-Pak dan Zithromax),  -- 52.6 juta resep
8.      Antibiotik Amoxicillin (dengan berbagai macam merek), -- 52.3 juta resep
9.      Obat diabetes generik Glucophage (metformin),  -- 48.3 juta resep
10.  Obat penurun tensi Hydrochlorothiazide (dengan beragam merek), -- 47.8 juta resep.
10 Obat dengan nilai penjualan tertinggi
Memang bukan hal yang mengejutkan kalau obat-obat generik bukanlah sumber pendapatan tertinggi bagi para produsen obat. Buktinya, meskipun obat generik paling banyak diresepkan, tetapi obat yang sudah lepas masa patennya ini tidak mencatat nilai penjualan tertinggi.
Obat-obat yang paling banyak menghabiskan biaya bagi pasien adalah obat-obat paten yang masih terbilang baru dan masih mendapat perlidungan dari  kompetisi obat generik.
IMS melaporkan, bahwa rakyat Amerika menghabiskan sekurangnya 307 miliar dollar AS untuk menebus resep obat pada 2010. Angka ini naik 2,3 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 300 miliar dollar AS. 
Inilah 10 nama obat yang paling banyak menguras kantong pasien di AS :
1.         Lipitor, obat penurun kolestrol -- $7.2 miliar
2.          Nexium, obat antasida -- $6.3 miliar
3.         Plavix, obat pengencer darah -- $6.1 miliar
4.         Advair Diskus, inhaler untuk asma-- $4.7 miliar
5.         Abilify, obat antipsikotik  -- $4.6 miliar
6.         Seroquel, obat antipsikotik  -- $4.4 miliar
7.         Singulair, obat oral untuk asma -- $4.1 miliar
8.         Crestor, obat penurun kolesterol -- $3.8 miliar
9.         Actos, obat diabetes  -- $3.5 miliar
10.     Epogen, obat anemia yang disuntikan -- $3.3 miliar
Tapi syukurlaah, dan mungkin masyarakat kecil/ ekonomi menengah kebawah masih bisa bernafas dengan lega, karna gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia sepakat tidak menaikkan harga obat generik bermerek pada tahun 2011. Perusahaan farmasi yang telanjur menaikkan harga diminta menurunkan kembali harga obat yang mereka jual di pasaran.
”Penurunan harga selambat- lambatnya dilakukan 1 Maret,” kata Anthony CH Sunarjo, Ketua Umum GP Farmasi, Jumat (25/2) di Jakarta. Keputusan ini diambil GP Farmasi mengingat kondisi daya beli masyarakat Indonesia yang semakin sulit.
Menurut hasil temuan GP Farmasi, dari sekitar 200 industri farmasi di Indonesia, hanya 15 industri yang menaikkan harga obat. Kenaikan harga obat ini terjadi pada produk obat generik bermerek yang cepat laku.
Beberapa waktu sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengimbau perusahaan farmasi nasional untuk tidak menaikkan harga obat mengingat daya beli masyarakat semakin merosot. ”Obat tidak sama dengan komoditas perdagangan lain. Pengusaha tidak bisa hanya memikirkan aspek bisnis saja, tetapi juga aspek sosialnya,” kata Sri Indrawaty, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemkes, yang dihubungi terpisah.
Untuk mengurangi tingginya harga obat, industri farmasi sebenarnya bisa mengurangi komponen lain, seperti mengurangi margin keuntungan dan mengurangi biaya promosi obat ethical (obat yang didapat lewat resep).
Kenaikan harga obat di pasaran mencapai 10 persen saat Kementerian Keuangan menerapkan tarif bea masuk bahan baku obat sebesar 5 persen.
Menurut Anthony, bea masuk 5 persen ini membebani industri farmasi yang menanggung kenaikan biaya lain, seperti kenaikan harga bahan baku obat yang sebagian besar diimpor, tarif dasar listrik, upah minimum regional, dan tingkat inflasi yang semakin tinggi.
Kemkes mengupayakan agar bea masuk impor bahan baku obat diturunkan. Pemerintah juga menyosialisasikan pemakaian obat generik berlogo yang disubsidi pemerintah sebagai obat murah yang dijamin mutunya. (IND)



Minggu, 30 Oktober 2011

Interaksi Obat (Drug Interaction)

Taukah anda apa dampak dari pemakaiaan obat tanpa anjuran?? Seringkali pasien mengabaikan hal-hal sepele dalam pemakaian obat, sebagaian besar tidak sadar akan dampak fatal yang mungkin terjadi. hal tersebut bisa saja menyebabkan timbulnya interaksi kimia dari bahan obat tersebut. Perlu anda ketahui, sebuah interaksi obat merupakan situasi di mana suatu zat mempengaruhi aktivitas obat, yaitu efek meningkat atau menurun, atau mereka menghasilkan efek baru yang tidak menghasilkan sendiri. Biasanya, interaksi antara obat datang ke pikiran (obat-obat interaksi). Namun, interaksi juga mungkin ada di antara obat & makanan (interaksi obat-makanan), serta obat-obatan herbal & (obat-ramuan interaksi). Ini dapat terjadi keluar dari penyalahgunaan disengaja atau karena kurangnya pengetahuan tentang bahan aktif terlibat dalam zat yang relevan.
Secara umum, interaksi obat yang harus dihindari, karena kemungkinan hasil yang buruk atau tidak terduga. Namun, interaksi obat telah sengaja digunakan, seperti co-pemberian probenesid dengan penisilin sebelum produksi massal penisilin. Karena penisilin sulit untuk memproduksi, itu berguna untuk menemukan cara untuk mengurangi jumlah yang dibutuhkan. Probenesid menghambat ekskresi penisilin, sehingga penisilin dosis berlangsung lama ketika diambil dengan itu, dan itu memungkinkan pasien untuk mengambil penisilin kurang selama kursus terapi.
Contoh kontemporer dari interaksi obat yang digunakan sebagai suatu keuntungan adalah co-administrasi carbidopa dengan levodopa (tersedia sebagai carbidopa / levodopa). Levodopa digunakan dalam manajemen penyakit Parkinson dan harus mencapai otak dalam keadaan un-dimetabolisme bermanfaat. Ketika diberikan dengan sendirinya, levodopa dimetabolisme di jaringan perifer luar otak, yang mengurangi efektivitas obat dan meningkatkan risiko efek samping. Namun, karena carbidopa menghambat metabolisme levodopa perifer, co-administrasi carbidopa dengan levodopa memungkinkan lebih levodopa mencapai otak un-dimetabolisme dan juga mengurangi risiko efek samping.
Interaksi obat mungkin hasil dari berbagai proses. Proses ini mungkin termasuk perubahan dalam farmakokinetika obat, seperti perubahan dalam Penyerapan, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME) obat. Atau, interaksi obat mungkin merupakan hasil dari sifat farmakodinamik obat, misalnya co-pemberian antagonis reseptor dan agonis untuk reseptor yang sama.
Setiap kali dua atau lebih obat yang diambil, ada kemungkinan bahwa akan ada interaksi antara obat-obatan. Interaksi dapat meningkatkan atau mengurangi efektivitas obat atau efek samping dari obat. Kemungkinan interaksi obat meningkat sebagai jumlah obat yang diambil meningkat. Oleh karena itu, orang yang mengambil beberapa obat pada risiko terbesar untuk interaksi. Interaksi obat berkontribusi pada biaya kesehatan karena biaya perawatan medis yang diperlukan untuk mengobati masalah yang disebabkan oleh perubahan dalam efek efektivitas atau samping. Interaksi juga dapat menyebabkan penderitaan psikologis yang dapat dihindari
Sebuah interaksi obat dapat didefinisikan sebagai interaksi antara obat dan zat lain yang mencegah obat dari melakukan seperti yang diharapkan. Definisi ini berlaku untuk interaksi obat dengan obat lain (interaksi obat-obat), serta obat-obatan dengan makanan (interaksi obat-makanan) dan zat lainnya.
Bagaimana interaksi obat terjadi?
Ada beberapa mekanisme dimana obat berinteraksi dengan obat lain, makanan, dan zat lainnya. Sebuah interaksi dapat terjadi ketika ada peningkatan atau penurunan:
1. penyerapan obat ke dalam tubuh;
2. distribusi obat dalam tubuh;
3. perubahan dibuat untuk obat oleh tubuh (metabolisme), dan
4. eliminasi obat dari tubuh.
Sebagian dari hasil interaksi obat penting dari perubahan dalam penyerapan, metabolisme, atau penghapusan obat. Interaksi obat juga dapat terjadi ketika dua obat yang memiliki yang sama (aditif) efek atau berlawanan (membatalkan) efek pada tubuh yang diberikan bersama-sama. Misalnya, mungkin ada obat penenang utama ketika dua obat yang memiliki efek samping sedasi sebagai diberikan, misalnya, narkotika dan antihistamin. Sumber lain dari interaksi obat terjadi ketika satu obat mengubah konsentrasi suatu zat yang biasanya hadir dalam tubuh. Perubahan substansi ini mengurangi atau meningkatkan efek obat lain yang sedang diambil. Interaksi obat antara warfarin (Coumadin) dan vitamin K yang mengandung produk adalah contoh yang baik dari jenis interaksi. Warfarin bertindak dengan mengurangi konsentrasi bentuk aktif vitamin K dalam tubuh. Karena itu, ketika vitamin K diambil, mengurangi efek warfarin.
Perubahan dalam penyerapan
Kebanyakan obat diserap ke dalam darah dan kemudian perjalanan ke situs mereka tindakan. Interaksi obat yang paling yang diubah karena penyerapan terjadi di usus. Ada berbagai potensi mekanisme melalui mana penyerapan obat dapat dikurangi. Mekanisme ini termasuk:

    
perubahan pada aliran darah ke usus;
    
perubahan dalam metabolisme obat (pemecahan) oleh usus;
    
meningkat atau menurun motilitas usus (gerakan);
    
perubahan dalam keasaman lambung, dan
    
perubahan dalam bakteri yang berada dalam usus.
Penyerapan obat juga dapat dipengaruhi jika kemampuan obat untuk melarutkan (kelarutan) diubah oleh obat lain atau jika substansi (misalnya, makanan) mengikat obat dan mencegah penyerapan.
Perubahan dalam metabolisme obat dan eliminasi
Kebanyakan obat dieliminasi melalui ginjal dalam bentuk tidak berubah baik atau sebagai produk sampingan yang dihasilkan dari perubahan (metabolisme) obat oleh hati. Oleh karena itu, ginjal dan hati adalah situs yang sangat penting dari interaksi obat yang potensial. Beberapa obat dapat mengurangi atau meningkatkan metabolisme obat lain oleh hati atau penghapusan mereka oleh ginjal.
Metabolisme obat adalah proses melalui mana tubuh mengkonversi (mengubah atau memodifikasi) obat ke dalam bentuk yang lebih atau kurang aktif (misalnya, dengan mengubah obat yang diberikan dalam bentuk tidak aktif ke bentuk aktif mereka yang benar-benar menghasilkan efek yang diinginkan) atau yang lebih mudah bagi tubuh untuk menghilangkan melalui ginjal. Kebanyakan metabolisme obat terjadi di hati, tetapi organ-organ lain juga mungkin memainkan peran (misalnya, ginjal, usus, dll). Enzim-enzim sitokrom P450 adalah sekelompok enzim dalam hati yang bertanggung jawab untuk metabolisme obat yang paling. Mereka adalah, oleh karena itu, sering terlibat dalam interaksi obat. Obat-obatan dan jenis makanan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan aktivitas enzim ini dan karena itu mempengaruhi konsentrasi obat yang dimetabolisme oleh enzim. Peningkatan aktivitas enzim ini menyebabkan penurunan konsentrasi dan efek dari obat yang diberikan. Sebaliknya, penurunan aktivitas enzim mengarah ke peningkatan konsentrasi obat dan efek.
Apa konsekuensi dari interaksi obat?
Interaksi obat dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan yang bermanfaat atau efek merugikan dari obat yang diberikan. Ketika interaksi obat meningkatkan manfaat dari obat-obatan diberikan tanpa efek samping meningkat, kedua obat dapat digabungkan untuk meningkatkan kontrol terhadap kondisi yang sedang dirawat. Sebagai contoh, obat-obatan yang mengurangi tekanan darah dengan mekanisme yang berbeda dapat digabungkan karena efek menurunkan tekanan darah dicapai oleh kedua obat mungkin lebih baik dibandingkan dengan salah satunya saja.
Penyerapan beberapa obat meningkat oleh makanan. Oleh karena itu, obat ini diambil dengan makanan dalam rangka untuk meningkatkan konsentrasi mereka dalam tubuh dan, akhirnya, efek mereka. Sebaliknya, bila penyerapan obat yang berkurang oleh makanan, obat ini diambil pada waktu perut kosong.
Interaksi obat yang merupakan keprihatinan terbesar adalah mereka yang mengurangi efek yang diinginkan atau meningkatkan efek samping obat. Obat yang mengurangi penyerapan atau meningkatkan metabolisme atau penghapusan obat lainnya cenderung mengurangi efek dari obat lain. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan terapi atau menjamin peningkatan dosis obat terpengaruh. Sebaliknya, obat yang meningkatkan penyerapan atau mengurangi eliminasi atau metabolisme obat lain - meningkatkan konsentrasi obat lain dalam tubuh - dan menyebabkan peningkatan jumlah obat dalam tubuh dan efek samping yang lebih. Kadang-kadang, obat berinteraksi karena mereka menghasilkan efek samping yang serupa. Jadi, ketika dua obat yang menghasilkan efek samping yang sama digabungkan, frekuensi dan keparahan efek samping yang meningkat.
Seberapa sering terjadi interaksi obat?
Informasi resep untuk obat yang paling berisi daftar interaksi obat yang potensial. Banyak dari interaksi yang tercantum mungkin jarang, kecil, atau hanya terjadi dalam kondisi tertentu dan mungkin tidak penting. Interaksi obat yang menyebabkan perubahan penting dalam aksi obat menjadi perhatian terbesar.
Interaksi obat adalah kompleks dan terutama tak terduga. Sebuah interaksi yang dikenal mungkin tidak terjadi pada setiap individu. Hal ini dapat dijelaskan karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemungkinan bahwa interaksi yang dikenal akan terjadi. Faktor-faktor ini termasuk perbedaan antara individu dalam mereka:

  •     gen,
  •     fisiologi,
  •     usia,
  •     gaya hidup (diet, olahraga),
  •     penyakit yang mendasari,
  •     dosis obat,
  •     durasi terapi kombinasi, dan
  •     waktu relatif dari administrasi dua zat. (Terkadang, interaksi dapat dihindari jika dua obat yang diambil pada waktu yang berbeda.)

Namun demikian, interaksi obat yang penting sering terjadi dan mereka menambahkan jutaan dolar untuk biaya perawatan kesehatan. Apalagi, banyak obat telah ditarik dari pasar karena potensi mereka untuk berinteraksi dengan obat lain dan menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
Bagaimana interaksi obat dapat dihindari?

    
Berikan praktisi perawatan kesehatan daftar lengkap dari semua obat yang Anda gunakan atau telah digunakan dalam beberapa minggu terakhir. Ini harus mencakup over-the-counter obat, vitamin, suplemen makanan, dan obat herbal.
    
Menginformasikan praktisi perawatan kesehatan ketika obat ditambahkan atau dihentikan.
    
Menginformasikan praktisi perawatan kesehatan tentang perubahan gaya hidup (misalnya, olahraga, diet, alkohol
    
asupan).
    
Tanyakan praktisi kesehatan Anda peduli tentang interaksi obat yang paling serius atau sering dengan obat yang kita pakai.
    
Sejak frekuensi interaksi obat meningkat dengan sejumlah obat, bekerja sama dengan praktisi perawatan kesehatan Anda untuk menghilangkan obat yang tidak perlu.
Ini gambaran singkat dari interaksi obat tidak mencakup setiap skenario yang mungkin. Individu tidak perlu takut untuk menggunakan obat mereka karena potensi interaksi obat. Sebaliknya, mereka harus menggunakan informasi yang tersedia bagi mereka untuk meminimalkan risiko interaksi tersebut dan untuk meningkatkan keberhasilan terapi mereka.