Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kanker. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juni 2012

Mengatasi Kanker dengan Rumput Laut

What this??
Rumput laut merupakan salah satu sumber daya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Istilah "rumput laut" adalah rancu secara botani karena dipakai untuk dua kelompok "tumbuhan" yang berbeda. Dalam bahasa Indonesia, istilah rumput laut dipakai untuk menyebut baik gulma laut dan lamun. 
Secara botani, yang dimaksud sebagai Rumput laut adalah lamun, sekelompok tumbuhan sejati anggota kelompok monokotil yang telah beradaptasi dengan air laut, bahkan tergantung pada lingkungan ini. Lamun kurang berarti secara ekonomi bagi manusia, tetapi padang lamun menjadi tempat hidup yang disukai berbagai penghuni perairan laut dangkal di daerah tropika. 
Yang dimaksud sebagai Rumput laut adalah anggota dari kelompok vegetasi yang dikenal sebagai alga ("ganggang"). Sumber daya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Gulma laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati. Di beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, gulma laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan ombak. Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, gulma laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, gulma laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis gulma laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis gulma laut yang banyak dibudidayakan di antaranya adalah Euchema cottonii dan Gracilaria spp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya gulma laut ini di antaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.
Di pihak lain, lamun adalah tumbuhan sejati anggota kelompok monokotil yang telah beradaptasi dengan air laut, bahkan tergantung pada lingkungan ini. Lamun kurang berarti secara ekonomi bagi manusia, tetapi padang lamun menjadi tempat hidup yang disukai berbagai penghuni perairan laut dangkal di daerah tropika.

Faktor Pertumbuhan Rumput Laut
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan rumput laut:
  1. Kejernihan air laut. 
  2. Suhu perairan sejuk 
  3. Arus laut tidak begitu deras. 
  4. Kedalaman laut antara 20-30 m.
Kandungan Rumput Laut
Rumput laut mempunyai kandungan nutrisi cukup lengkap. Secara kimia rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%), karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%) serat kasar (3%) dan abu (22,25%). Selain karbohidrat, protein, lemak dan serat, rumput laut juga mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin (A,B,C,D, E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan selenium serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium. Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput laut mencapai 10 -20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat.

Manfaat Rumput Laut
  1. Mencegah Kanker : Mengkonsumsi rumput laut yang kaya akan kandungan serat, selenium dan seng dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat mendorong timbulnya kanker. Penelitian yang dilakukan terhadap penderita kanker di Amerika menunjukkan bahwa wanita yang melakukan diet ketat dengan mengkonsumsi serat tinggi dan mengurangi asupan lemak dari daging dan susu mempunyai level estrogen yang rendah. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Harvard School of Public Health Amerika telah membuktikan bahwa pola konsumsi wanita Jepang yang selalu menambahkan rumput laut dalam menu makannya, menyebabkan wanita premenopause di Jepang mempunyai peluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita Amerika.
    Jenis ganggang coklat yang berpotensi mengobat kanker tersebut adalah Turbinaria decurrens. Lewat pengujian, peneliti dari kedua lembaga tersebut mengetahui bahwa Turbinaria decurrens mampu membunuh sel tumor mulut rahim.
    Laporan bahwa golongan ganggang atau rumput laut bisa mengobati ini sel kanker bukan pertama kalinya. Sebelumnya, ganggang merah jenis Rhodymenia palmata dan ganggang hijau jenis Ulva fasciata juga dilaporkan bisa membunuh sel tumor payudara. "Rumput laut kaya akan senyawa flavonoids yang banyak dilaporkan mempunyai efek sebagai antitumor," kata Nurrahmi Dewi Fajarningsih, salah satu peneliti yang terlibat riset ini. Adanya fakta ini menunjukkan bahwa ganggang kaya manfaat. Pemanfaatannya kini harus diperluas, tak sebatas sebagai sumber karigin saja. Indonesia bisa mengelola ganggang sebagai sumber daya alam hayati bahan baku obat-obatan. 
  2. Mencegah Penyakit Stroke : Mengkonsumsi rumput laut dapat menyerap kelebihan garam pada tubuh sehingga dapat mengurangi tekanan darah tinggi pada seseorang.
  3. Mencegah Terjadinya Penurunan Kecerdasan. Kandungan iodium pada rumput laut yang sangat tinggi dapat mengatasi defisiensi iodium pada tubuh yang berdampak pada penurunan kecerdasan seseorang.
  4. Sebagai Bahan obat-obatan (anticoagulant, antibiotics, antihehmethes, antihypertensive agent, pengurang cholesterol, dilatory agent, dan insektisida.
  5. Meningkatkan sistem kerja hormonal. Karena kandungan gizinya yang tinggi, maka mampu meningkatkan sistem kerja hormonal, limfatik, dan juga saraf.
  6. Meningkatkan fungsi pertahanan tubuh, memperbaiki sistem kerja jantung dan peredaran darah, serta sistem pencernaan.
  7. Kandungan yodiumnya diperlukan tubuh untuk mencegah penyakit gondok.
  8. Kandungan klorofil rumput laut bersifat antikarsinogenik, kandungan serat, selenium dan seng yang tinggi pada rumput laut dapat mereduksi estrogen. Disinyalir level estrogen yang terlalu tinggi dapat mendorong timbulnya kanker, sehingga konsumsi rumput laut memperkecil resiko kanker bahkan mengobatinya.
  9. Kandungan vitamin C dan antioksidannya dapat melawan radikal bebas. Kandungan klorofil dan vitamin C pada rumput laut (ganggang hijau) berfungsi sebagai anti oksidan sehingga dapat membantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahaya sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh yang kuat akan dapat menguruangi gejala alergi.
  10. Kaya akan kandungan serat yang dapat mencegah kanker usus besar, melancarkan pencernaan, meningkatkan kadar air dalam feses.
  11. Membantu metabolisme lemak, sehingga menurunkan kadar kolesterol darah dan gula darah.
  12. Mencegah penyakit gangguan pencernaan. Rumput laut juga membantu pengobatan tukak lambung, radang usus besar, susah buang air besar dan gangguan pencernaan lainnya.
  13. Dapat membantu penyerapan kelebihan garam pada tubuh.
  14. Baik untuk diet, mengurangi resiko obesitas, serat pada rumput laut bersifat mengenyangkan dan kandungan karbohidratnya sukar dicerna sehingga akan menyebabkan rasa kenyang lebih lama.
    Serat pada rumput laut bersifat mengenyangkan dan kandungan karbohidratnya sukar dicerna sehingga akan menyebabkan rasa kenyang lebih lama. Disamping itu, serat pada rumput laut juga dapat membantu memperlancar proses metabolisme lemak sehingga akan mengurangi resiko obesitas, menurunkan kolesterol darah dan gula darah.
  15. Mencegah penuaan dini. Anti oksidan yang berperan dalam penyembuhan dan peremajaan kulit. Vitamin A (beta carotene) dan vitamin C nya bekerja dalam memelihara kolagen, sedangkan kandungan protein dari rumput laut penting untuk membentuk jaringan baru pada kulit. Sehingga Mencegah penuaan dini.
  16. Mengandung kalsium sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan susu, sehingga rumput laut sangat tepat dikonsumsi untuk mengurangi dan mencegah gejala osteoporosis.
  17. Obat tradisional untuk batuk, asma, bronkhitis, TBC, cacingan, sakit perut, demam, rematik, bahkan dipercaya dapat meningkatkan daya seksual.
    Disamping sebagai bahan makanan bergizi, rumput laut telah banyak digunakan sebagai bahan pembuatan obat-obatan dan suplemen makanan serta difortifikasi ke produk pangan untuk meningkatkan nilai jual produk tersebut. Jenis rumput laut yang banyak digunakan untuk pembuatan obat adalah alga coklat khususnya sargasum dan turbinaria. Pengolahan rumput laut jenis tersebut menghasilkan ekstrak berupa senyawa natrium alginat. Senyawa alginat inilah yang dimanfaatkan dalam pembuatan obat antibakteri, anti tumor, penurunan darah tinggi dan mengatasi gangguan kelenjar.
Naah apa dari kalian mulai tertarik untuk memanfaatkan rumput laut?? Untuk mendapatkan rumput laut dewasa ini tidaklah susah. Produk olahan rumput laut banyak dijual di pasaran dengan banyaknya industri yang mengolahnya baik dalam bentuk makanan maupun obat obatan, seperti : manisan rumput laut, agar agar rumput laut, suplemen dan obat obatan yang berbahan dasar rumput laut.

Pengolahan Rumput Laut 
Rumput laut akan bernilai ekonomis setelah mendapat penanganan lebih lanjut. Pada umumnya penanganan pasca panen rumput laut oleh petani hanya sampai pada penggeringan saja. Rumput laut kering masih merupakan bahan baku yang harus diolah lagi.  
Pengolahan rumput laut kering dapat menghasilkan agar-agar, keraginan atau algin tergantung kandungan yang terdapat di dalam rumput laut. Pengolahan ini kebanyakan dilakukan oleh pabrik namun sebenarnya dapat juga oleh petani.
Pengolahan rumput laut menjadi bahan baku telah banyak dilakukan para petani. Hasil yang diperoleh sesuai standar perdagangan ekspor. Untuk itu, akan lebih baik bila penanganan dilakukan secara hati-hati dan diawasi oleh suatu perusahaan. Langkah-langkah pengolahan rumput laut menjadi bahan baku (rumput kering) adalah sebagai berikut :
  1. Pengolahan:
    • Rumput laut dibersihkan dari kotoran, seperti pasir, batu-batuan, kemudian dipisahkan dari jenis yang satu dengan yang lain.
    • Setelah bersih, rumput laut dijemur sampai kering. Bila cuaca cukup baik, penjemuran hanya membutuhkan 3 hari. Agar hasilnya berkualitas tinggi, rumput laut dijemur di atas para-para dan tidak boleh ditumpuk. Rumput laut yang telah kering ditandai dengan keluarnya garam.
    • Pencucian dilakukan setelah rumput laut kering. Sebagai bahan baku agar-agar, rumput laut kering dicuci dengan air tawar. Sedangkan untuk menjadi karaginan dicuci dengan air laut. Setelah bersih rumput laut dikeringkan lagi kira-kira 1 hari. Kadar air yang diharapkan setelah pengeringan sekitar 28 %. Apabila dalam proses pengeringan hujan turun, maka rumput laut dapat disimpan pada rak-rak, tetapi diusahakan diatur sedemikan rupa sehingga tidak saling tindih. Untuk rumput laut yang diambil keraginannya tidak boleh terkena air tawar karena air tawar dapat melarutkan karaginan.
    • Rumput laut kering setelah penggeringan kedua, kemudian di ayak untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal.
  2. Pengepakan dan Penyimpanan
    Rumput laut yang bersih dan kering dimasukkan ke dalam karung goni dengan cara dipadatkan atau tidak dipadatkan. Apabila dipadatkan, dalam satu karung dapat berisi 100 kg rumput laut, sedangkan apabila tidak dipadatkan hanya berisi 60 kg rumput laut. Rumput laut yang dapat diekspor, di bagian karungnya dituliskan nama barang (jenis), nama kode perusahaan, nomor karung dan berat bersih. Pemberian keterangan ini bertujuan untuk memudahkan proses pengecekan dalam pengiriman.
  3. Standart Mutu
    Indonesia telah mengekspor rumput laut kering dari marga Eucheuma, Gelidium, Gracilaria dan Hypnea. Rumput laut yang dikirim harus memenuhi syarat standar mutu yang telah ditetapkan.
Daerah Berpotensi Penghasil Rumput Laut
Rumput laut memiliki 27 marga. Apabila komoditas tersebut diolah lebih lanjut, ia dapat menghasilkan kurang lebih 500 jenis produk komersial. Mulai dari agar-agar, pakan ternak, makanan, obat-obatan, kosmetik, pasta gigi, sampo, kertas, tekstil, hingga minyak pelumas  pada pengeboran sumur minyak.
Pemanfaatan rumput laut di Indonesia telah dimulai tahun 1920, tetapi penggunaannya masih terbatas pada obat-obatan dan makanan dengan cara pengolahan yang tradisional. Salah satu khasiat adalah antitumor, menurunkan tekanan darah, dan mengatasi gangguan kelenjar. Itu sebabnya, sebagian kalangan mengklaim rumput laut sebagai “tanaman dewa”. Seiring dengan kehadiran Departemen Kelautan dan Perikanan, potensi besar rumput laut pun digali dan dikembangkan. Selain mendorong pembudidayaan, instansi ini juga makin giat menggalang penelitian dan pengkajian, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, perawatan, produksi, pemasaran, dan pengolahan produk. Termasuk tentang tata cara pemanfaatan, penyuluhan, penggalangan dana bagi  petani, dan penjaringan investasi.
Tahun 2003, usaha pembudidayaan rumput laut dilakukan melalui intensifikasi pada areal seluas 17.416 hektar yang tersebar di 18 provinsi. Ketika itu didistribusikan benih atau bibit rumput laut  sebanyak 209 ton.

Hingga kini baru sebanyak 20.572 perusahaan skala menengah berinvestasi pada budidaya rumput laut dengan total investasi Rp5,143 triliun. Perusahaan itu paling banyak beroperasi di Papua 9.2940 unit atau Rp 2,323 triliun, Maluku 3.826 unit atau Rp 956,481 miliar, Sulawesi Tengah 1.969 unit atau Rp 492,130 miliar, dan yang paling
sedikit di NTT 19 unit atau Rp 4,630 miliar.
Untuk investasi skala besar, sebanyak 617 perusahaan yang melakukan investasi pada rumput laut dengan total investasi Rp 1,974 triliun. Investasi ini terbanyak di Papua, yakni 279 unit perusahaan senilai Rp 892,267 miliar. Disusul Maluku 115 perusahaan atau Rp 367,289 miliar. Sulawesi Tengah 59 perusahaan atau Rp 188,978 miliar, Nanggroe Aceh Darussalam 58 perusahaan dengan nilai investasi Rp 185,067 miliar. Investasi terkecil terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), hanya satu perusahaan dengan nilai investasi Rp 1,778 miliar.  
Tanah Papua yang kaya akan potensi rumput lautnya, ternyata sangat diminati masyarakat mancanegara karena rumput laut asal negeri Cenderawasih itu dinilai masih murni dari berbagai pencemaran bahan kimia. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Papua, Ir Astiler Maharadja yang kepada ANTARA News di Jayapura, Rabu membenarkan telah menerima permintaan masyarakat mancanegara melalui surat yang dikirim organisasi profesi bidang perekonomian maupun media cetak dan elektronik serta email tentang keinginan membeli rumput laut produksi nelayan di Provinsi Papua.
Negara-negara yang telah menawarkan niatnya membeli rumput laut asal Papua yaitu Jepang, China, Korea, Hongkong, Taiwan, Philipina dan sejumlah negara di Eropa maupun Amerika. Para konsumen asal Asia, Eropa dan Amerika itu mengetahui kalau kualitas rumput laut dari Papua cukup tinggi dan belum dicemari bahan kimia. Sebab, manfaat rumput laut itu untuk agar-agar (bahan makanan), kosmetik, kapsul obat-obatan bagi kesehatan manusia bahkan rumput laut jenis merah dapat dikelola menjadi bahan baku kertas.
Rumput laut jenis merah itu telah dikembangkan di berbagai daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Peluang yang sama akan dikembangkan di Provinsi Papua. Asitler merespons peminat rumput laut asal Papua dan hal itu telah disampaikan pimpinan organisasi profesi perekonomian termasuk pimpinan Kamar Dagang dan Industri daerah (Kadinda) Provinsi Papua agar menangkap peluang pasar ini karena manfaatnya sangat besar demi pengembangan perekonomian dalam negeri khususnya di Provinsi Papua.
Apalagi perairan laut di provinsi ini masih murni dan belum tercemar berbagai bahan kimia. Peluang ini perlu diantisipasi para pelaku ekonomi sekaligus mendorong partisipasi para nelayan dan petani di pesisir pantai membudidayakan rumput laut termasuk rumput laut jenis merah yang telah dikembangkan masyarakat di NTB itu.
Ir.Asitiler mengatakan, pihaknya telah memperjuangkan ke Departemen Keluatan dan Perikanan (DKP) di Jakarta dalam tahun anggaran 2007 melalui APBN mengalokasikan dana sebesar Rp5,3 milyar untuk budidaya rumput laut dan pengembangan keramba ikan jenis Nila.
Dana sebesar Rp 5,3 milyar bantuan APBN DKP itu dengan rincian pengembangan rumput laut di Nabire sebesar Rp 1,5 milyar, budidaya rumput laut laut dan ikan Nila di Kota Jayapura sebesar Rp 1,3 milyar. Pengembangan budidaya ikan nila di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura sebesar Rp 300 juta, budidaya rumput laut di Kabupaten
Biak Numfor Rp 350 juta dan Kabupaten Supiori dengan budidaya rumput laut sebesar Rp 1,3 milyar.
Selain itu, budidaya rumput laut di Kampung Angkaisera, Pulau Meosnum, Pulau Mesopundi, Pulau-Pulau Ambai dan Kampung Kabuena di Kabupaten Yapen memperoleh dana pengembangan sebesar Rp 500 juta.

Sumber: Departemen Kelautan dan Perikanan, dan Raya Health.

Rabu, 02 Mei 2012

Mungkinkah Ini Akhir Kanker?

Kanker adalah penyakit yang membunuh jutaan orang setiap tahun dan membunuh harapan adanya perawatan mujizat yang sekarang lenyap entah kemana. Saat ini para ilmuwan mengatakan bahwa vaksin mungkin bisa menjadi kuncinya - bukan hanya menyembuhkan tetapi mengenyahkan kanker selamanya. Oleh Sharon Begley.
Semestinya, Shari Baker sudah harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia ini pada tahun 2005, lebih dari setahun setelah tida orang dokter menyatakan bahwa benjolan di bawah lengannya bukanlah kista yang tidak berbahaya, ia didiagnosa dengan kanker payudara stadium IV (metastatik), yang membunuh sedikitnya 80% penderita penyakit ini dalam 5 tahu, kanker ini membunuh Elizabeth Edwards pada tahun 2010. Setelah dari penderita yang didiagnosa dengan kanker payudara yang sudah menyebar - pada kasus Shari Baker sudah menyebar ke tulang punggungnya - akan meninggal dalam waktu 39 bulan, tetapi perancang perhiasan berusia 53 tahun di Scottsdale, Arizona ini masih belum siap untuk mati. “Saya pernah jadi atlit yang selalu bersaing dan saya suka binaraga, saya merawat diri saya dan makanan saya dengan baik”, katanya. “Saya akan melawan ini”.
      Baker mulai mencari keterangan klinis dan melalui International Cancer Advocacy Network (ICAN) ia menemukan suatu kemungkinan yang cerdik: vaksin kanker. Pada bulan Mei 2006, ia berkunjung ke Universitas Washington. Vaksin tersebut disuntikkan ke lengan atasnya, ia mendapat lebih banyak suntikan semacam itu selama lima bulan selanjutnya. Hari ini, dengan hasil scan yang menyatakan tidak ada kanker yang terdeteksi, Baker kelihatannya berhasil mengalahkan fenomena ganjil ini.
      Tanpa adanya kamera nano sci-fi untuk menangkap apa yang terjadi pada tingkat seluler, sangatlah tidak mungkin untuk mengetahui secara pasti apa yang dilakukan oleh vaksin tersebut. Tetapi berdasarkan hasil studi laboratorium terhadap binatang dan sel-sel di cawan petri, para ilmuwan tersebut mampu mendapatkan ide yang cemerlang. Vaksin tersebut mengandung fragmen-fragmen molekul yang disebut HER2/neu yang bertengger di permukaan sel-sel tumor, memberi “bahan bakar” bagi pertumbuhan dan pembelahan sel-sel kanker payudara. Sistem kekebalan tubuh Baker memperlakukan banjirnya HER2/neu yang diinjeksikan tersebut sebagai tentara yang sedang menyerbu dan melancarkan serangan balik. Sel-sel yang disebut CD4, bertindak seperti Paul Revere biologis (pengrajin perak yang memberitahu kedatangan tentara Inggris saat perang revolusi), membunyikan alaram, mengeluarkan sel-sel darah putih yang disebut Sel-T, Minuteman (peluru kendali) tubuh, mereka kemudian menyerang tumor Baker, sambil memanggil bala bantuan yang disebut Sel-sel T cytotoxic (“pembunuh”), yang menghancurkan sel-sel tumor pada payudara Baker serta tulang punggungnya. Cukup dengan 21 wanita lain yang menerima vaksin eksperimental tersebut terhadap kanker payudara metastatis tersebut yang ternyata sangat baik, penemunya, imunologis Mary Disis (“Nora”) dari Universitas Washington menjadi berani meramalkan bahwa di masa mendatang vaksin-vaksin tersebut akan mengendalikan dan bahkan mampu menghancurkan kanker.
      Setelah empat dekade yang kebanyakan penuh dengan harapan yang tidak tercapai, tanggal 23 Desember yang menandai 40 tahun sejak Presiden Nixon mencanangkan perang terhadap kanker, para ilmuwan memberikan kepadanya suatu obat potensial yang beberapa tahun lalu dianggap tidak mungkin. Jika mereka berhasil, vaksin kanker akan merevolusi pengobatan ini. Mereka mungkin dapat mengatakan bahwa ini adalah akhir dari kemoterapi dan radiasi, yang memiliki efek samping yang menyeramkan, dimana sel-sel tumor seringkali malah menjadi resistan dan yang seringkali hanya membuat sedikit perbedaan sehingga bisa menjadi bahan tertawaan jika saja hal tersebut bukan merupakan hal yang tragis. Minggu kemarin, misalnya, headline surat kabar mengabarkan dua obat baru untuk kanker payudara metastatis meskipun hasil studi-nya tidak dapat memperlihatkan bahwa keduanya mampu memperpanjang usia penderita satu hari saja. Vaksin mampu membuat “kemajuan” semacam itu menjadi barang usang. Dan dapat mencegah kanker, dengan sedikit tambahan pekerjaan, sama seperti kita mencegah campak.
      “Dapat” merupakan kata kuncinya. Vaksin-vaksin kanker saat ini sedang diuji; para penderita, dokter dan ilmuwan tahu dengan baik bahwa terapi-terapi kanker yang kelihatannya ajaib bisa ‘rontok’ sebelum berkembang. Tetapi terjadi percepatan kemajuan. Pada tahun 2010, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat menyetujui suatu vaksin tumor pertama, yang disebut Provenge, untuk mengobati kanker prostat. Sejumlah vaksin lain sudah mengantri. Selama musim panas, para periset di Universitas Pennsylvania mengungkapkan sesuatu yang mereka sebut sebagai “terobosan baru untuk kanker selama 20 tahun sedang dibuat”; suatu vaksin yang mampu melawan leukemia limposit kronik atau chronic lymphocytic leukemia (CLL), yang menyebabkan batu ginjal, selama satu tahun dan terus berlangsung, dan yang dipercaya oleh penemunya dalam dilemahkan untuk menyerang kanker paru-paru, kanker rahim, myeloma dan melanoma. Vaksin-vaksin terhadap kanker pankreas dan kanker hati juga sedang diuji. “Untuk pertama kalinya”, kata Disis, yang memperoleh dana sebesar 7,9 juta dolar AS dari Pentagon untuk mengembangkan vaksin pencegahan tersebut, “uji coba klinis untuk vaksin kanker menunjukkan efek anti tumor di sejumlah pasien dengan kanker, bukan hanya satu atau dua pasien yang unik”.
      Pertama, dasarnya. “Vaksin kanker” menurut ilmuwan berarti sesuatu yang dapat merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel-sel ganas. Jalan yang paling langsung untuk itu adalah, menurut studi, adalah dengan menyuntikkan molekul yang sama, yang disebut antigen, yang akan menghiasi permukaan sel-sel kanker seperti topi Lady Gaga. Demikian juga dengan vaksin HER2/neu, yang akan menstimulasi sel-sel T untuk bersarang pada antigen-antigen tersebut dan mendorong diproduksinya sel-sel T pembunuh khusus untuk sel-sel yang memiliki antigen tersebut. Kelihatannya janggal bahwa tubuh kita akan menyerang sel-selnya sendiri, tetapi dengan ‘menjahili’ antigen-antigen tersebut, sistem kekebalan tubuh dapat dipancing untuk menyerang tumor tersebut. Vaksin tersebut bisa menjadi obat, dengan mengenyahkan tumor atau secara teori, bisa sebagai pencegah, untuk mencegah terbentuknya tumor. (Vaksin kanker mulut rahim yang saat ini beredar di pasaran bersifat preventif tetapi juga unik karena dapat menyerang virus-virus yang dapat menyebabkan kanker: kebanyakan kanker bukan disebabkan oleh virus).
      Mengendalikan sistem kekebalan tubuh merupakan kebalikan total dari cara mengobati kanker saat ini, yaitu kebanyakan dengan kemoterapi dan radiasi. Keduanya dalam melemahkan sistem kekebalan tubuh, itulah sebabnya beberapa praktisi pengobatan alternatif menentang ini. Mengikuti nasehat mereka bisa berakibat fatal. Tetapi pentingnya sistem kekebalan tubuh dalam memerangi kanker mendapatkan tanggapan baru dari para periset onkologi nasional terkemuka. Ini telah menginsipirasi tejadinya suatu permainan Hail Mary (lemparan jarak jauh) dari suatu kelompok advokasi terkemuka. Tahun kemarin, Koalisi untuk Kanker Payudara Nasional atau National Breast Cancer Coalition (NBCC) meluncurkan Proyek Artemis dengan tujuan melenyapkan kanker payudara per tanggal 1 Januari 2020. Karena cara yang paling mungkin untuk melaksanakan hal tersebut adalah dengan vaksin, kata sang ketuanya Fran Visco. NBCC mendapatkan hibah awal untuk memulai riset tersebut dengan, sebagai contoh, antigen-antigen mana yang merupakan target yang bagus.
      Timing NBCC sangat baik, riset vaksin kanker payudara saat ini sedang marak. Minggu kemarin, perusahaan bioteknologi Antigen Express Inc., mengumumkan bahwa 89% pasien yang menerima HER2/neu-nya mampu bertahan hidup sampai 22 bulan, dibanding dengan 72% wanita yang tidak divaksin. Perusahaan tersebut berharap FDA menyetujui uji coba tahap-III di tahun 2012. Menariknya, vaksin tersebut kelihatannya membantu wanita-wanita yang sebenarnya juga tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan obat kanker payudara Herceptin, karena kandungan HER2/nue mereka sangat rendah. “Kami kira 75% dari wanita dengan kanker payudara bisa menjadi calon yang sesuai untuk vaksin tersebut”, kata sang Presiden Eric von Hoffe.
      Vaksin-vaksin memiliki potensi terjadinya pengobatan kanker yang revolusioner karena efeknya tidak berhenti hanya pada tumor yang sudah ada. Kanker, sangat berbahaya karena kecerdikannya, ia mampu mengubah urutan reaksi katalisa enzim (pathway) biologis pembelahan sel sedemikian hebat sehingga kemoterapi dan bahkan terapi-terapi yang mampu menarget pada tingkat molekuler tidak berfungsi lagi (itulah sebabnya mengapa obat-obat yang lebih cerdikpun seperti Avastin hanya mampu mempertahankan hidup penderita beberapa bulan saja). Vaksin mampu mengimbangi pergerakan demi pergerakan kanker. Pada wanita yang menerima vaksin Disis, setelah sel-sel T menghancurkan sel-sel kanker payudara, mereka akan melahapnya dan meludahkan keluar. Ini akan membanjiri tubuh dengan antigen-antigen yang akan melekat pada sel-sel kanker, merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mentargetkan gelombang kedua dari antigen-antigen tumor ini. Kekebalan tubuh yang menyebar ini akan menciptakan sel-sel T yang sudah ‘terisi dan siap ditembakkan’ yang mampu menghancurkan sel-sel tumor bertahun-tahun setelah vaksinasi dilakukan - sama seperti sistem kekebalan tubuh seumur hidup yang diperoleh dari vaksin, sebagai contoh, cacar.
      Satu manfaat terakhir dari vaksin kanker mungkin dapat menjelaskan mengapa Shari Baker mampu bertahan. Sel-sel T tidak pernah ‘lupa’. Sekali sistem kekebalan tubuh menarget suatu ancaman, baik kanker atau cacar, maka akan tetap mencadangkan pasukan untuk menyerang jika ancaman tersebut menyerang kembali. Prinsipnya, hal ini dapat memberikan kekebalan tubuh terhadap kanker payudara dan mungkin kanker-kanker lain selama-lamanya.
      Optimisme di sekitar vaksin kanker mencerminkan serangkaian penemuan terbaru yang memberikan petunjuk bahwa sistem kekebalan tubuh mampu menaklukan kanker. Kegiatan kekebalan tubuh dalam dan sekitar suatu tumor - keberadaan sel-sel darah putih tertentu - seringkali merupakan suatu kegiatan awal dimana kanker tersebut akan mundur dan akhirnya lenyap. Suatu studi pada tahun 2006 sebagai contoh, menemukan bahwa kanker-kanker kolon yang paling banyak menarik perhatian sel-sel T pembunuh kecil kemungkinannya untuk kambuh kembali setelah perawatan. Dengan cara yang sama, saat sel-sel kanker paru-paru tahap dini atau beberapa sel kanker payudara dipenuhi dengan molekul-molekul yang mampu menarik perhati selsel T, penderita akan mampu menghindar dari metastatis, tetap meredam dan hidup lebih lama. Dan pada kanker hati dan kanker rahim, jika tumor sudah diserang oleh sel-sel T, maka pasien akan hidup lebih lama. Ini disebabkan oleh kekuatan dari sistem kekebalan tubuh tersebut. “Sedikitnya 30% tumor yang ditemukan pada mammogram akan menghilang meskipun kita tidak melakukan apa-apa”, ahli bedah payudara Susan Love dari UCLA mengatakan pada suatu lokakarya Proyek Artemis musim semi kemarin - suatu petunjuk yang menarik mengenai kekuatan sistem kekebalan tubuh untuk mengeliminasi kanker.
      Hal ini akan menimbulkan pertanyaan: mengapa orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik dapat menderita kanker, setidaknya mati karena kanker? Salah satu alasannya adalah bahwa sel-sel tumor mampu memproduksi dalam jumlah banyak molekul-molekul pertahanan yang mengusir dan menghancurkan sel-sel T. Beberapa terapi eksperimental mencoba untuk mengatasi hal ini, termasuk suatu imunoterapi terhadap melanoma yang bersifat metastatis yang telah disetujui oleh FDA awal tahun ini. Disebut Yervoy, ini mampu mem-blok suatu molekul yang disebut sebagai cytotoxic T lymphocyte antigen (CTLA4) yang memainkan peranan penting dalam menghalangi kemampuan sistem kekebalan tubuh memerangi sel-sel ganas tersebut. “Obat ini mampu merusak rem sistem kekebalan tubuh dan membiarkannya membunuh kanker”, kata imunologis tumor Patrick Hwu dari MD. Anderson Cancer Center yang mengembangkan vaksin melanoma lain. Tetapi Yervoy yang dibuat oleh Bristol-Myers Squibb dan dihargai $120.000 mampu memperpanjang kehidupan mulai dari 6,5 bulan sampai hanya 10 bulan. Tindakan yang lebih baik, kata Hwu, mungkin perlu meng-kemas lebih banyak molekul-molekul penstimulasi kekebalan menjadi suatu vaksin.
      National Cancer Institue menghitung lebih dari 150 jenis kanker, dari yang biasanya paling dapat dilawan, kanker testikel, sampai kanker yang paling cepat membunuh, kanker pankreas. Yang ditargetkan oleh vaksin-vaksin eksperimental ini adalah yang paling mematikan, dimana terapi-terapi yang ada biasanya gagal secara tragis. Bulan lalu misalnya, para ilmuwan dipimpin oleh imunologis tumor NCI James Gulley mengumumkan hasil yang menjanjikan dengan vaksin eksperimental tunggal terhadap kanker rahim dan kanker payudara. Disebut PANVAC, obat ini mengandung gen-gen untuk dua antigen yang sering ditemukan pada sel-sel kanker, carcinoembryonic antigen (CEA) dan mucin 1 (MUC1). 14 pasien kanker rahim dalam studi tersebut mampu bertahan hidup selama kira-kira 15 bulan sejauh ini, dan 12 pasien dengan kanker payudara metastatis mampu bertahan hidup kira-kira 13,7 bulan, sedikit lebih baik di atas rata-rata. Tetapi yang paling luar biasa bagi Gulley adalah seorang pasien yang kanker payudara metastatisnya “lenyap total” dan yang masih tetap hidup selama lebih dari 4 tahun setelah didiagnosa. “Kami melihat pengecilan tumor yang tidak pernah kami lihat sebelumnya”, kata Gulley. Gulley mencurigai hasil tersebut mungkin bisa lebih baik pada pasien-pasien yang belum pernah menerima kemoterapi, yang bisa membuat sistem kekebalan tubuh “terpukul”.
      Vaksin-vaksin mungkin bisa menjinakan kanker pankreas. Pada bulan Maret 2010, Bert Williams, 78, mendengar kata-kata terburuk yang bisa dikatakan oleh seorang dokter, “anda menderita kanker pankreas”, yang diberitahukan kepada William pada bulan Januari, tapi “kami tidak mampu mengangkatnya”. Tumor tersebut terletak pada posisi sedemikian rupa sehingga pengangkatannya dengan pembedahan dapat berakibat fatal. William berpikir ia menghadapi hukuman mati, tetapi istrinya, Gall, menemukan suatu ujicoba klinis di Cancer Institute of New Jersey. Seorang onkologis disana, Elizabeth Poplin, mendatangi tempat tidurnya. “Kami sudah lama mencari-cari orang seperti anda”, katanya. William belum pernah mendapatkan perawatan kanker apapun yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuhnya dan dalam keadaan sangat sehat. William setuju untuk menerima vaksin eksperimental tersebut.
      Pensiunan eksekutif direktur periklanan di Jackson, N.J., tersebut menerima suntikkan pertama pada bulan Maret 2010, langsung ke tumornya. Pada bulan Desember, scan tidak mendeteksi adanya tumor dimanapun, tiga dari lima pasien lainnya dengan kanker pankreas yang tidak bisa dioperasi juga dalam keadaan stabil. Poplin dan rekan-rekannya melaporkan hal ini bulan kemarin. Tebakan terbaik adalah bahwa vaksin tersebut, yang membanjiri tubuh dengan antigen tumor CEA dan MUC1, menstimulasi sel-sel T untuk membunuh sel-sel tumor yang ditandai oleh antigen-antigen ini. “Pasien-pasien yang sudah divaksinasi 13 sampai 19 bulan lalu juga dalam keadaan baik, hidup lebih lama dari biasanya”, kata Poplin. “Tak seorangpun yang menderita kanker hati atau metastase lainnya, hal ini sangat menakjubkan karena kanker pankreas seringkali menyebar kemana-mana”.
      Kanker otak sama mematikannya dengan kanker pankreas, tetapi sedikitnya satu vaksin eksperimental yang menjanjikan untuk melawan glioblastoma multiforme, bentuk yang paling umum dan paling agresif. Ini mengandung kumpulan reseptor faktor pertumbuhan epidermal antigen varian III, yang akan bertenggerpada sel-sel kanker otak. Dalam uji coba klinis, 19 pasien yang tumornya sudah diangkat melalui pembedahan menerima vaksin tersebut, rata-rata tingkat bertahan hidup mereka adalah 26 bulan, para ilmuwan di Universitas Duke melaporkan pada tahun 2010, dibanding dengan yang biasanya 14 bulan. Dan pada bulan Juli, Larry Kwak dari M. D. Anderson dan kawan-kawanb melaporkan bahwa pada para pasien yang diberi vaksin eksperimental terhadap follicular lymphoma, suatu bentuk tumor ganas jaringan limfa non-Hodgkin, kanker mereka tetap dalam keadaan mereda hampir dua kali lebih lama dan lebih lama lagi, dibanding pasien yang tidak divaksinasi. Blovest International berencana untuk meminta persetujuan FDA untuk vaksin tersebut, BlovaxID pada tahun 2012.
      Calon-calon obat untuk kanker datang dan pergi, dan vaksin-vaksin mungkin juga bisa gagal memenuhi harapan kita. Dalam beberapa studi, pasien-pasien seperti Shari Baker dan Bert William adalah kekecualian, berrespon dengan sangat ajaib sementara lainnya hanya memperlihatkan sedikit dan bahkan tidak ada kemajuan. Alasan untuk perbedaan tersebut masih dalam penelitian intensif. Beberapa pasien terlalu sakit atau lemah untuk mengumpulkan kekuatan respon sistem kekebalan tubuhnya, inilah sebabnya mengapa vaksin flu gagal melindungi beberapa orang tua. Juga, terapi imun bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk bekerja, sehingga membiarkan tumor berkembang dan berkembang dan menyebar menjadi tumor ganas.  Dan jika antigen yang ditargetkan oleh vaksin tersebut juga terdapat pada sel-sel yang sehat, sel-sel T pembunuh mungkin juga akan mengejar mereka, menyebabkan penyakit autoimun.
      Meskipun ada tantangan seperti ini, jumlah orang yang mempercayai vaksin kanker semakin bertambah dan uangpun menyusul. Ratusan ujicoba klinis merekrut para pasien (ketik “cancer and vaccibe” dalam kotak pencarian di clinicaltrials.gov). “Setelah bertahun-tahun gagal (dengan vaksin kanker), kami akhirnya mendapatkan yang tepat”, kata Kwak. Antara kemarin dan hari ini, 1.500 orang lainnya di AS akan meninggal akibat kanker. Jangan buang-buang waktu lagi.
Jalan menuju ke penyembuhan
Tidak seperti pengobatan saat ini, seperti radiasi dan kemoterapi yang menyerang baik sel kanker dan sistem kekebalan tubuh, vaksin mendorong sistem kekebalan tubuh alamiah untuk melenyapkan tumor.
1.   Pertumbuhan sel kanker
      Melalui serangkaian perubahan mutasi-genetis, sel-sel sehat menjadi sel kanker.
2.   Respon Kekebalan Alamiah
      Sel-sel darah putih sistem kekebalan tubuh yang disebut sel T menyerang dan menghancurkan sebagian tetapi, biasanya, tidak semua sel kanker, sebagian karena tumor menghasilkan molekul-molekul yang menahan serangan ini. Sebagai akibatnya jutaan sel kanker bertahan hidup dan membelah diri.
3.   Menciptakan Vaksin
      Permukaan sel-sel kanker ditempeli oleh molekul yang disebut antigen yang bisa bertindak sebagai mercu suar agar sel-sel T mendatanginya. Suatu vaksin yang dibuat dari antigen sel-kanker ini akan mendorong sistem kekebalan tubuh memproduksi lebih banyak sel-sel T pembunuh kanker.
4.   Kerja Vaksin
      Karena vaksin tersebut disuntikkan, vaksin akan menstimulasi sistem kekebalan tubuh untuk menciptakan tetnata sel T yang menyerak sel-sel yang ditandai dengan antigen khusus kanker, menghancurkan mereka. Sel-sel T ini akan tetap berada dengan kandungan rendah dalam aliran darah, siap untuk menyerang sel-sel ganas baru, mencegah kambuh.

Sumber: Chemical Health Club 

Minggu, 25 Desember 2011

Kanker >< Rokok dan Alkohol >< Stres

Telah kita ketahui kebiasaan gaya hidup tertentu berhubungan dengan risiko tertentu, misalnya kanker (kanker berhubungan dengan kebiasaan merokok). Kanker adalah sel yang telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak teratur.Kanker bisa terjdi dari berbagai jaringan dalam berbagai organ. Dalam analisis yang dilakukan, penulis memperkirakan proporsi kanker dalam populasi terkait dengan berbagai faktor gaya hidup dan lingkungan. Mereka menemukan bahwa kebiasaan merokok, mengacu pada efek terbesar berupa risiko kanker. Diet yang berlebihan karna kurangnya asupan buah dan sayuran dan serat dan asupan yang lebih besar dari daging dan garam, obesitas , dan alkohol adalah faktor skunder yang berhubungan dengan kanker.
Banyak orang beranggapan bahwa dengan minum alkohol akan mengurangi strez. Alkohol merupakan cara yang tidak membantu untuk melonggarkan masalah atau penat seseorang. Namun, ada titik di mana alkohol segera menjadi penghalang untuk penanggulangan stres. Bahkan, dalam banyak kasus alkohol dapat meningkatkan tingkat stres ketika dikonsumsi dalam porsi besar. Ada banyak orang yang mungkin menggunakan alkohol sebagai pereda stres dan akan melakukan lebih berbahaya daripada baik.
Namun, apa yang tidak mereka sadari adalah alkohol yang dapat menambah jumlah stres yang mereka alami. Hal ini terutama berlaku untuk orang-orang yang peminum berat. Bagi beberapa orang, alkohol dapat mengubah kepribadian sangat, dan untuk beberapa tidak dengan cara yang baik. Hal ini dapat menyebabkan seseorang untuk bertindak dengan cara yang dapat menghasilkan lebih banyak stres bagi diri mereka sendiri dan mereka berurusan dengan perilaku mereka, sementara di bawah pengaruh alkohol. Jadi, sangat penting untuk memahami bagaimana alkohol dapat mempengaruhi tingkat stres.
Banyak orang sering percaya bahwa alkohol adalah penghilang stres, dan ada alasan bagus untuk ini. Alkohol adalah obat penenang yang menenangkan sistem saraf pusat. Kebanyakan orang menyadari bahwa setelah beberapa gelas anggur atau minuman beralkohol lain mereka semakin mellow. Ini adalah efek dari alkohol pada sistem saraf pusat seseorang. Hal ini sangat penting untuk dicatat bahwa orang merespon alkohol dalam cara yang berbeda. Sementara beberapa orang mungkin jatuh tertidur di bawah pengaruh alkohol, ada orang lain yang mungkin menjadi agresif atau bermusuhan. Jenis perilaku hanya meningkatkan kadar stres pada seseorang dan menyebabkan stres bagi mereka yang harus berurusan dengan jenis perilaku.
Alkohol adalah penekan, namun, apa yang banyak orang gagal untuk menyadari bahwa alkohol juga merusak keputusan. Jumlah alkohol yang akan mengganggu penilaian bervariasi pada individu karena semua orang memiliki tingkat toleransi yang berbeda untuk konsumsi alkohol. Dengan demikian, alkohol yang dikonsumsi sangat mendorong relaksasi juga merupakan penyebab untuk meningkatkan tingkat stres ketika alkohol memiliki efek buruk pada kemampuan kognitif seseorang. Hal ini dapat sangat menegangkan bagi seorang individu untuk mencoba untuk melakukan kegiatan rutin ketika ia berada di bawah pengaruh alkohol. Orang menjadi frustrasi dengan diri mereka sendiri ketika mereka berpikir bahwa mereka dapat melakukan kegiatan sederhana seperti berjalan dan menemukan bahwa alkohol tidak akan memungkinkan mereka untuk melakukannya dengan cara biasa.
Hal ini juga sangat penting untuk dicatat bahwa alkohol memiliki efek stres pada tubuh juga. Orang-orang yang mengkonsumsi sejumlah besar alkohol secara konsisten mungkin menemukan bahwa tubuh mereka akan mulai menunjukkan tanda-tanda stres yang serius. Ini mungkin mengambil bentuk penyakit hati seperti sirosis yang merupakan pengerasan hati karena konsumsi alkohol berlebihan. Ini adalah tanda dari tubuh bahwa konsumsi alkohol memainkan efek yang sangat negatif pada tubuh secara keseluruhan. Menghentikan konsumsi alkohol biasanya diperlukan dalam rangka untuk meringankan gejala ini.
Secara keseluruhan, ada sejumlah cara di mana alkohol dan stres saling berhubungan.

Sumber: medicalnewstoday.com, healthnews.com dan medicinenet.com 

Kamis, 10 November 2011

Bencana Kaum Hawa

KANKER SERVIKS

Kanker servik adalah keganasan kedua yang paling sering terjadi pada wanita diseluruh dunia, dan masih merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita di negara – negara berkembang. Di Amerika Serikat, kanker servik merupakan neoplasma ganas nomer 4 yang sering terjadi pada wanita., setelah Ca mammae, kolorektal, dan endometrium. Insidensi dari kanker servik yang invasif telah menurun secara terus menerus di Amerika Serikat selama beberapa dekade terakhir, namun terus meningkat di negara – negara berkembang. Perubahan tren epidemiologis ini di Amerika Serikat erat kaitannya dengan skrining besar – besaran dengan Papanicolaou tests (Pap smears).
Kanker serviks merupakan kanker yang primer berasal dari serviks (kanalis servikalis dan atau porsio). Setengah juta kasus dilaporkan setiap tahunnya dan insidensinya lebih tinggi di negara sedang berkembang. Hal ini kemungkinan besar diakibatkan belum rutinnya program skrining pap smear yang dilakukan. Di Amerika latin, gurun Sahara Afrika dan Asia tenggara termasuk Indonesia kanker serviks menduduki urutan kedua setelah kanker payudara.
Di Indonesia dilaporkan jumlah kanker serviks baru adalah 100 per 100.000 penduduk per tahun atau 180.000 kasus baru dengan usia antara 45-54 tahun dan menempati urutan teratas dari 10 kanker yang terbanyak pada wanita. Perjalanan penyakit karsinoma serviks merupakan salah satu model karsinogenesis yang melalui tahapan atau multistep, dimulai dari karsinogenesis yang awal sampai terjadinya perubahan morfologi hingga menjadi kanker invasif. Studi-studi epidemiologi menunjukkan 90% lebih kanker serviks dihubungkan dengan jenis human papilomma virus (HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis yang buruk.

A. Definisi
Kanker serviks adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada serviks. Kanker serviks merupakan kanker yang primer berasal dari serviks (kanalis servikalis dan atau porsio). Serviks adalah bagian ujung depan rahim yang menjulur ke vagina.


B. Angka Kejadian
Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus merupakan kanker pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara. Setiap tahunnya, terdapat kurang lebih 500 ribu kasus baru kanker leher rahim (cervical cancer), sebanyak 80 persen terjadi pada wanita yang hidup di negara berkembang. Sedikitnya 231.000 wanita di seluruh dunia meninggal akibat kanker leher rahim. Dari jumlah itu, 50% kematian terjadi di negara-negara berkembang. Hal itu terjadi karena pasien datang dalam stadium lanjut.
Menurut data Departemen Kesehatan RI, penyakit kanker leher rahim saat ini menempati urutan pertama daftar kanker yang diderita kaum wanita Indonesia. saat ini ada sekitar 100 kasus per 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat. Selain itu, lebih dari 70 persen kasus yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut.

C. Etiologi dan Faktor Resiko
Perjalanan penyakit karsinoma serviks merupakan salah satu model karsinogenesis yang melalui tahapan atau multistep, dimulai dari karsinogenesis yang awal sampai terjadinya perubahan morfologi hingga menjadi kanker invasif. Studi-studi epidemiologi menunjukkan 90% lebih kanker serviks dihubungkan dengan jenis human papilomma virus (HPV). Beberapa bukti menunjukkan kanker dengan HPV negatif ditemukan pada wanita yang lebih tua dan dikaitkan dengan prognosis yang buruk. HPV merupakan faktor inisiator kanker serviks. Oncoprotein E6 dan E7 yan berasal dari HPV merupakan penyebab terjadinya degenerasi keganasan. Onkoprotein E6 akan mengikat p53 sehingga TSG p53 akan kehilangan fungsinya. Sedangkan onkoprotein E7 akan mengikat TSG Rb, ikatan ini menyebabkan terlepasnya E2F yang merupakan faktor transkripsi sehingga siklus sel dapat berjalan tanpa kontrol. 
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks, antara lain adalah :

1. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda

Faktor ini merupakan faktor risiko utama. Semakin muda seorang perempuan melakukan hubungan seks, semakin besar risikonya untuk terkena kanker serviks. Berdasarkan penelitian para ahli, perempuan yang melakukan hubungan seks pada usia kurang dari 17 tahun mempunyai resiko 3 kali lebih besar daripada yang menikah pada usia lebih dari 20 tahun.

2. Berganti-ganti pasangan seksual

Perilaku seksual berupa gonta-ganti pasangan seks akan meningkatkan penularan penyakit kelamin. Penyakit yang ditularkan seperti infeksi human papilloma virus (HPV) telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis dan vulva. Resiko terkena kanker serviks menjadi 10 kali lipat pada wanita yang mempunyai partner seksual 6 orang atau lebih. Di samping itu, virus herpes simpleks tipe-2 dapat menjadi faktor pendamping.

3. Merokok

Wanita perokok memiliki risiko 2 kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Penelitian menunjukkan, lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang ada di dalam rokok. Zat-zat tersebut akan menurunkan daya tahan serviks di samping merupakan ko-karsinogen infeksi virus.

4. Defisiensi zat gizi

Ada beberapa penelitian yang menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dapat meningkatkan risiko terjadinya displasia ringan dan sedang, serta mungkin juga meningkatkan risiko terjadinya kanker serviks pada wanita yang makanannya rendah beta karoten dan retinol (vitamin A).

5. Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi, dan iritasi menahun

6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran (banyak digunakan pada tahun 1940-1970)

7. Gangguan sistem kekebalan

8. Pemakaian pil KB

9. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun

10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin)



D. Klasifikasi

Klasifikasi histologik kanker serviks ada beberapa, di antaranya : 
1. Squamous carcinoma
a. Keratinizing
b. Large cell non keratinizing
c. Small cell non keratinizing
d. Verrucous
2. Adeno carcinoma
a. Endocervical
b. Endometroid (adenocanthoma)
c. Clear cell - paramesonephric
d. Clear cell - mesonephric
e. Serous
f. Intestinal
3. Mixed carcinoma
a. Adenosquamous
b. Mucoepidermoid
c. Glossy cell
d. Adenoid cystic
4. Undifferentiated carcinoma
5. Carcinoma tumor
6. Malignant melanoma
7. Maliganant non-epithelial tumors
a. Sarcoma : mixed mullerian, leiomysarcoma, rhabdomyosarcoma
b. Lymphoma
Jenis skuamosa merupakan jenis yang paling sering ditemukan, yaitu ± 90%; adenokarsinoma 5%; sedang jenis lainnya 5%. Karsinoma skuamosa terlihat sebagai jalinan kelompok sel-sel yang berasal dari skuamosa dengan pertandukan atau tidak, dan
kadang-kadang tumor sendiri dari sel-sel yang berdiferensiasi buruk atau dari sel-sel yang disebut small cell, berbentuk kumparan atau kecil serta bulat dan batas tumor stroma tidakjelas. Sel ini berasal dari sel basal atau reserved cell. Sedang adenokarsinoma terlihat sebagai sel-sel yang berasal dari epitel torak endoserviks, atau dari kelenjar endoserviks yang mengeluarkan mukus. 

E. Gejala Klinis
Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun, kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan
2. Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut menjadi perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat bercampur dengan darah.
5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.

F. Diagnosis dan Staging
Staging untuk kanker serviks berdasarkan pemeriksaan klinis, sehingga pemeriksaan yang lebih teliti dan cermat dibutuhkan untuk penegakkan diagnosis. Stadium klinik seharusnya tidak berubah setelah beberapa kali pemeriksaan. Apabila ada keraguan pada stadiumnya maka stadium yang lebih dini dianjurkan. Pemeriksaan berikut dianjurkan untuk membantu penegakkan diagnosis seperti palpasi, inspeksi, komposkopi, kuretase endoserviks, histeroskopi, sistoskopi, proktoskopi, intravenous urography, dan pemeriksaan X-ray untuk paru-paru dan tulang. Kecurigaan infiltrasi pada kandung kemih dan saluran pencernaan sebaiknya dipastikan dengan biopsi. Konisasi dan amputasi serviks dapat dilakukan untuk pemeriksaan klinis. Interpretasi dari limfangografi, arteriografi, venografi, laparoskopi, ultrasonografi, CT scan dan MRI sampai saat ini belum dapat digunakan secara baik untuk staging karsinoma atau deteksi penyebaran karsinoma karena hasilnya yang sangat subyektif. 10
Pemeriksaan patologi anatomi setelah prosedur operasi dapat menjadi data yang akurat untuk penyebaran penyakit, tetapi penemuan ini tidak dianjurkan untuk menjadi perubahan diagnosis staging sebelumnya. Nomenklatur TNM lebih sesuai untuk penemuan ini.
Tabel 1. Staging Karsinoma Serviks Menurut FIGO
clip_image002
G. Pentatalaksanaan
Manajemen Tumor Insitu
Manajemen yang tepat diperlukan pada karsinoma insitu. Biopsi dengan kolposkopi oleh onkologis berpengalaman dibutuhkan untuk mengeksklusi kemungkinan invasi sebelum terapi dilakukan. Pilihan terapi pada pasien dengan tumor insitu beragam bergantung pada usia, kebutuhan fertilitas, dan kondisi medis lainnya. Hal penting yang harus diketahui juga adalah penyebaran penyakitnya harus diidentifikasi dengan baik.
Karsinoma insitu digolongkan sebagai high grade skuamous intraepitelial lesion (HGSIL). Beberapa terapi yang dapat digunakan adalah loop electrosurgical excision procedure (LEEP), konisasi, krioterapi dengan bimbingan kolposkopi, dan vaporisasi laser. Pada seleksi kasus yang ketat maka LEEP dapat dilakukan selain konisasi. LEEP memiliki keunggulan karena dapat bertindak sebagai biopsi luas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Keberhasilan eksisi LEEP mencapai 90% sedangkan konisasi mencapai 70-92%. Teknik lain yang dapat dilakukan untuk terapi karsinoma insitu adalah krioterapi yang keberhasilannya mencapai 80-90% bila lesi tidak luas (<2,5 cm), tetapi akan turun sampai 50% apabila lesi luas (> 2,5 cm). Evaporasi laser pada HGSIL memberikan kerbehasilan sampai 94% untuk lesi tidak luas dan 92% untuk lesi luas. HGSIL yang disertai NIS III memberikan indikasi yang kuat untuk dilakukan histerektomi. Pada 795 kasus HGSIL yang dilakukan konisasi didapatkan adanyarisiko residif atau kegagalan 0,9-1,2% untuk terjadinya karsinoma invasif.
Manajemen Mikroinvasif
Diagnosis untuk stadium IA1 dan IA2 hanya dapat ditegakkan setelah biopsi cone dengan batas sel-sel normal, trakelektomi, atau histerektomi. Bila biopsi cone positif menunjukkan CIN III atau kanker invasif sebaiknya dilakukan biopsi cone ulangan karena kemungkinan stadium penyakitnya lebih tinggi yaitu IB. Kolposkopi dianjurkan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya vaginal intraepithelial neoplasia (VAIN) sebelum dilakukan terapi definitif.
Stadium serviks IA1 diterapi dengan histerektomi total baik abdominal maupun vaginal. Apabila ada VAIN maka vagina yang berasosiasi harus ikut diangkat. Pertimbangan fertilitas pada pasien-pasien dengan stadium ini mengarahkan terapi pada hanya biopsi cone diikuti dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan, dan 12 bulan bila hasilnya negatif. Stadium serviks IA2 berasosiasi dengan penyebaran pada kelenjar limfe sampai dengan 10% sehingga terapinya adalah modified radical hysterectomy diikuti dengan limfadenektomi. Pada stadium ini bila kepentingan fertilitas masih dipertimbangkan atau tidak ditemukan bukti invasi ke kelenjar limfe maka dapat dilakukan biopsi cone yang luas disertai limfadenektomi laparoskopi atau radikal trakelektomi dengan limfadenektomi laparoskopi. Observasi selanjutnya dilakukan dengan Pap’s smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan dan 12 bulan.
Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Awal
Pasien-pasien dengan tumor yang tampak harus dilakukan biopsi untuk konfirmasi diagnosis. Apabila ditemukan gejala-gejala yang berhubungan dengan metastasis maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan seperti sistoskopi dan sigmoidoskopi. Pemeriksaan foto toraks dan evaluasi fungsi ginjal sangat dianjurkan. Stadium awal karsinoma serviks invasif adalah stadium IB sampai IIA (< 4cm). Stadium ini memiliki prognosis yang baik apabila diterapi dengan operasi atau radioterapi. Angka kesembuhan dapat mencapai 85% sampai 90% pada pasien dengan massa yang kecil. Ukuran tumor merupakan faktor prognostik yang penting untuk kesembuhan atau angka harapan hidup 5 tahunnya.
Penelitian kontrol acak selama 5 tahun mendapatkan bahwa radioterapi atau operasi menunjukkan angaka harapan hidup 5 tahunan yang sama dan tingkat kekambuhan yang sama-sama kecil untuk terapi karsinoma serviks stadium dini. Morbiditas terutama meningkat apabila operasi dan radiasi dilakukan bersama-sama. Namun, pemilihan pasien dengan penegakkan stadium yang baik dibutuhkan untuk menentukan terapi operatif. Jenis operasi yang dianjurkan untuk stadium IB dan IIA (dengan massa < 4cm) adalah modified radical hysterectomy atau radical abdominal hysterectomy disertai limfadenektomi selektif. Setelah dilakukan pemeriksaan patologi anatomi pada jaringan hasil operasi dan bila didapatkan penyebaran pada kelenjar limfe paraaorta atau sekitar pelvis maka dilakukan radiasi pelvis dan paraaorta. Radiasi langsung dilakukan apabila besar massa mencapai lebih dari 4 cm tanpa harus menunggu hasilpatologi anatomi kelenjar limfe.
Penelitian kontrol acak menunjukkan bahwa pemberian terapi sisplatin yang bersamaan dengan radioterapi setelah operasi yang memiliki invasi pada kelenjar limfe, parametrium, atau batas-batas operatif menunjukkan keuntungan secara klinis. Penelitian dengan berbagai dosis dan jadwal pemberian sisplatin yang diberikan bersamaan dengan radioterapi menunjukkan penurunan risiko kematian karena kanker serviks sebanyak 30-50%. Risiko juga meningkat apabila didapat ukuran massa yang lebih dari 4 cm walaupun tanpa invasi pada kelenjar-kelenjar limfe,infiltrasi pada kapiler pembuluh darah, invasi di lebih dari 1/3 stroma serviks. Radioterapi pelvis adjuvan akan meningkatkan kekambuhan lokal dan menurunkan angka progresifitas dibandingkan tanpa radioterapi.
Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Lanjut
Ukuran tumor primer penting sebagai faktor prognostik dan harus dievaluasi dengan cermat untuk memilih terapi optimal. Angka harapan hidup dan kontrol terhadap rekurensi lokal lebih baik apabila didapatkan infiltrasi satu parametrium dibandingkan kedua parametrium. Pengobatan terpilih adalah radioterapi lengkap, dilanjutkan penyinaran intrakaviter. Terapi variasi yang diberikan biasanya beruapa pemberian kemoterapi seperti sisplatin, paclitaxel, 5-fluorourasil, docetaxel, dan gemcitabine. Pengobatan bersifat paliatif bila stadium mencapai staidum IVB dalam bentuk radiasi paliatif.
H. Pencegahan dan Skrining
Kematian pada kasus kanker serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada dalam stadium lanjut. Padahal, dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini, kemungkinan penyakit ini dapat disembuhkan sampai hampir 100%. Malahan sebenarnya kanker serviks ini sangat bisa dicegah. Menurut ahli obgyn dari New York University Medical Centre , dr. Steven R. Goldstein, kuncinya adalah deteksi dini .
Sekitar 90-99 persen jenis kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Virus ini bisa ditransfer melalui hubungan seksual dan bisa hadir dalam berbagai variasi. Ada beberapa kasus virus HPV yang reda dengan sendirinya, dan ada yang berlanjut menjadi kanker serviks, sehingga cukup mengancam kesehatan anatomi wanita yang satu ini.
Salah satu problema yang timbul akibat infeksi HPV ini seringkali tidak ada gejala atau tanda yang tampak mata. Menurut hasil studi National Institute of Allergy and Infectious Diseases , hampir separuh wanita yang terinfeksi dengan HPV tidak memiliki gejala-gejala yang jelas. Dan lebih-lebih lagi, orang yang terinfeksi juga tidak tahu bahwa mereka bisa menularkan HPV ke orang sehat lainnya.
Kini, 'senjata' terbaik untuk mencegah kanker ini adalah bentuk skrining yang dinamakan Pap Smear , dan skrining ini sangat efektif. Pap smear adalah suatu pemeriksaan sitologi yang diperkenalkan oleh Dr. GN Papanicolaou pada tahun 1943 untuk mengetahui adanya keganasan (kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat dan tidak sakit. Masalahnya, banyak wanita yang tidak mau menjalani pemeriksaan ini, dan kanker serviks ini biasanya justru timbul pada wanita-wanita yang tidak pernah memeriksakan diri atau tidak mau melakukan pemeriksaan ini. 50% kasus baru kanker servik terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak pernah melakukan pemeriksaan pap smear. Padahal jika para wanita mau melakukan pemeriksaan ini, maka penyakit ini suatu hari bisa saja musnah, seperti halnya polio.
Tabel 2. Kategorisasi diagnosis deskriptif Pap smear berdasarkan sistem Bethesda
clip_image004
Dalam perkembangannya, banyak ahli dalam the American Cancer Society, the American College of Obstetricians and Gynecologists, the American Society for Colposcopy and Cervical Pathology, dan the US Preventive Services Task Force menetapkan protokol skrining bersama-sama, sebagai berikut :
1. Skrining awal. Skrining dilakukan sejak seorang wanita telah melakukan hubungan seksual (vaginal intercourse) selama kurang lebih tiga tahun dan umurnya tidak kurang dari 21 tahun saat pemeriksaan. Hal ini didasarkan pada karsinoma serviks berasal lebih banyak dari lesi prekursornya yang berhubungan dengan infeksi HPV onkogenik dari hubungan seksual yang akan berkembang lesinya setelah 3-5 tahun setelah paparan pertama dan biasanya sangat jarang pada wanita di bawah usia 19 tahun.
2. Pemeriksaan DNA HPV juga dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan Pap’s smear untuk wanita dengan usia di atas 30 tahun. Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Pap’s smear negatif disertai DNA HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3 sebanyak hampir 100%. Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita dengan umur diatas 30 tahun karena prevalensi infeksi HPV menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia 29 tahun atau lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat sampai 65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. Walaupun infeksi ini sangat sering pada wanita muda yang aktif secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan waktu. Sehingga, deteksi DNA HPV yang positif yang ditenukan kemudian lebih dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila ini dialami pada wanita dengan usia yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks.
3. Skrining untuk wanita di bawah 30 tahun berisiko dianjurkan menggunakan Thinprep atau sitologi serviks dengan liquid-base method setiap 1-3 tahun.
4. Skrining untuk wanita di atas 30 tahun menggunakan Pap’s smear dan pemeriksaan DNA HPV. Bila keduanya negatif maka pemeriksaan diulang 3 tahun kemudian.
5. Skrining dihentikan bila usia mencapai 70 tahun atau telah dilakukan 3 kali pemeriksaan berturut-turut dengan hasil negatif.
Tidak dapat dipungkiri, memang saat ini cara terbaik untuk mencegah kanker serviks adalah dengan screening gynaecological dan jika dibutuhkan dilengkapi dengan treatment yang terkait dengan kondisi pra-kanker. Namun demikian, dengan adanya biaya dan rumitnya proses screening dan treatment, cara ini hanya memberikan manfaat yang sedikit di negara-negara yang membutuhkan penanganan. Beberapa hal lain yang dapat dilakukan dalam usaha pencegahan terjadinya kanker serviks antara lain :
1. Vaksin HPV
Sebuah studi menyatakan bahwa kombinasi vaksinasi HPV dan screening dapat memberikan manfaat yang besar dalam pencegahan penyakit ini. Vaksin HPV dapat berguna dan cost efective untuk mengurangi kejadian kanker serviks dan kondisi pra-kanker, khususnya pada kasus yang ringan. Vaksin HPV yang terdiri dari 2 jenis ini dapat melindungi tubuh dalam melawan kanker yang disebabkan oleh HPV (tipe 16 dan 18). Salah satu vaksin dapat membantu menangkal timbulnya kutil di daerah genital yang diakibatkan oleh HPV 6 dan 11, juga HPV 16 dan 18. Manfaat tersebut telah diuji pada uji klinis tahap III dan harus dapat diwujudkan dalam waktu dekat. Keyakinan hasil uji klinis tahap III ini menunjukan bahwa vaksin-vaksin tersebut dapat membantu menangkal infeksi HPV dari tipe-tipe diatas dan mencegah lesi pra-kanker pada wanita yang belum terinfeksi HPV sebelumnya.
2. Penggunaan kondom
Para ahli sebenarnya sudah lama meyakininya, tetapi kini mereka punya bukti pendukung bahwa kondom benar-benar mengurangi risiko penularan virus penyebab kutil kelamin (genital warts) dan banyak kasus kanker leher rahim. Hasil pengkajian atas 82 orang yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine memperlihatkan bahwa wanita yang mengaku pasangannya selalu menggunakan kondom saat berhubungan seksual kemungkinannya 70 persen lebih kecil untuk terkena infeksi human papillomavirus (HPV) dibanding wanita yang pasangannya sangat jarang (tak sampai 5 persen dari seluruh jumlah hubungan seks) menggunakan kondom. Hasil penelitian memperlihatkan efektivitas penggunaan kondom di Indonesia masih tergolong rendah. Dari survei Demografi Kesehatan Indonesia pada 2003 (BPS-BKKBN) diketahui bahwa ternyata penggunaan kondom pada pasangan usia subur di negara ini masih sekitar 0,9 persen. 
3. Sirkumsisi pada pria
Sebuah studi menunjukkan bahwa sirkumsisi pada pria berhubungan dengan penurunan resiko infeksi HPV pada penis dan pada kasus seorang pria dengan riwayat multiple sexual partners, terjadi penurunan resiko kanker serviks pada pasangan wanita mereka yang sekarang.

I. Prognosis
Prognosis kanker serviks tergantung dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years survival rate untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira 50%, dan untuk stadium IV kurang dari 30%.
1. Stadium 0
100 % penderita dalam stadium ini akan sembuh.
2. Stadium 1
Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi 2, IA dan IB. dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate sebesar 95%. Untuk stadium IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai 90%.  Ini tidak termasuk wanita dengan kanker pada limfonodi mereka.
3. Stadium 2
Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. dari semua wanita yang terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate sebesar 70 - 90%..
Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai 65%.
4. Stadium 3
Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%
5. Stadium 4
Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%