Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2011

Indahnya Jadi Apoteker


A.    Industri Farmasi Indonesia
Indonesia adalah negara terpadat ke-empat di dunia. Profil demografis negeri ini relatif muda, kendati demikian pertumbuhan penduduk juga relatif  tinggi yang semakin meningkatkan tekanan finansial pada sumber daya kesehatan. Meskipun memiliki populasi yang besar, nilai pasar farmasi Indonesia masih sangat rendah.


Populasi penduduk usia -65 tahun tercatat  hanya di atas 5% dari total penduduk. Indikator kesehatan yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pertanda yang baik bagi pembangunan ekonomisebagai suatu sumber kesehatan yang makin menguat. Dari model belanja Business Monitor International (BMI) yang dilaporkan pada Mei 2010, menunjukkan bahwa pasar farmasi di Indonesia akan bernilai Rp 81,03 milyar pada 2019. Dipicu oleh adanya ledakan ekonomi, inflasi yang tinggi, pertumbuhan penduduk yang signifikan, dan meningkatnya anggaran kesehatan pemerintah.

Situasi ini menjadi peluang bagi industri farmasi untuk memanfaatkan pasar lokal. Namun bagi perusahaan asing, mereka terbentur oleh policy di lingkungan bisnis yang 'proteksionis', prevalensi dari obat palsu dan penetapan harga tidak transparan dan pembayaran kembali.
Pada 2008 penjualan sektor farmasi di Indonesia, meningkat 9,05% mencapai nilai Rp 26,89 milyar, membuat Indonesia menjadi salah satu pasar farmasi dengan pertumbuhan tercepat di Asia.

Namun, penjualan obat turun mencapai 2,32% pada tahun 2009, sebagai akibat menurunnya permintaan ekspor negara selama terjadi krisis ekonomi global. Diperkirakan akan terjadi pertumbuhan yang lebih baik pada tahun berikutnya, karena pengaruh menguatnya mata uang Rupiah 10,89% dari rata-rata per tahun 2009-2014 dan 10,35% dari rata-rata per tahun selama 2014-2019. Peningkatan belanja fiskal dan tumbuhnya keterlibatan pemerintah pada sektor farmasi akan meng-untungkan industri farmasi.
Pada 2007, Indonesia menghabiskan sebesar 2,48% dari PDB untuk kesehatan, nilai ini lebih rendah dari standar regional dan global. Dari jumlah ini US$ 10,73 milyar, hanya lebih dari setengah dihabiskan oleh negara.

Pada 2014, diharapkan pemerintah dan keseluruhan bidang perawatan kesehatan masing-masing men-capai US$ 22,38 milyar dan US$ 33,43 milyar.

Penguatan rupiah cenderung menguntungkan industri farmasi asing. Diperkirakan kurs Rupiah terhadap Dollar AS menguat dari Rp 9,685,- per US$ 1 pada 2008, menguat lagi menjadi Rp 8,375,- per US$ 1 pada 2014, dan Rp 7,875,- per US$ 1 pada 2019. Sementara pasar farmasi lokal akan mencatat angka 10,89% rata-rata pertahun selama 5 tahun terkait mata uang lokal, angka yang sesuai untuk dolar AS adalah 15,35%.

Situasi Makro Ekonomi
Ekonomi Indonesia kian meningkat dibanding pada Q4 2009, dengan pertumbuhan riil PDB 5,4% per tahun dan menguat 4,5%. Prospek pertumbuhan Indonesia selama tahun mendatang, proyeksi pertumbuhan secara riil PDB mencapai 5,2% pada 2010, akan meningkat menjadi 5,5% pada 2011.

Pendorong utama dari pertumbuhan pasar domestik di masa mendatang terkait dengan demografi Indonesia; meningkatnya rata-rata harapan hidup, memicu peningkatan penyakit degeneratif dan meningkatkan permintaan untuk obat-obatan gaya Barat. Di sisi lain, Indonesia masih mengalami masalah karena penyakit menular (terutama demam berdarah dan malaria), situasi diperparah oleh akses terbatas pada obat-obatan.

Ini juga telah mendorong pertum-buhan dalam penggunaan dan popularitas obat-obatan herbal, yang diharapkan dapat menjadi pesaing bagi obat bebas selama tahun-tahun mendatang.
Selain itu, meskipun kawasan ini merupakan salah satu pasar obat terbesar, belanja kesehatan pemerintah Indonesia yang kecil dari negara-negara tetangga, memaksa pasien untuk membayar sendiri biaya kesehatannya. Konsekuensinya, obat resep akan rentan terhadap kemerosotan ekonomi, serta meningkatkan gelombang obat palsu dan rendahnya daya beli penduduk.

Faktor Kunci Pertumbuhan Industri
Prioritas pemerintah termasuk regulasi restrukturisasi peraturan dan mendorong FDI, dengan rencana mengurangi lamanya waktu persetujuan lisensi produksi atau perdagangan dari 150 hari untuk 30 hari. Meskipun, banyak dari restrukturisasi yang saat ini masih di atas kertas, belum semuanya terealisasi akan menunda setiap peningkatan dalam investasi asing, ditandai di sektor ini dalam jangka pendek.
Selain itu, berlaku Undang-Undang Investasi yang diwarnai kontroversi akan membatasi FDI.

Secara keseluruhan, belum tampak kemungkinan adanya perbaikan yang signifikan dengan peraturan sampai harmonisasi regional ASEAN berlangsung sepenuhnya. Namun demikian, perusahaan farmasi lokal dapat mulai merasakan manfaat dari penurunan tarif baru untuk bahan baku. Tarif impor sebanyak 11.171 produk di berbagai kelompok industri termasuk farmasi telah diturunkan sebagai upaya negara mematuhi Free Trade Area. Tugas berat baru itu akan selesai 5% dan proses tersebut diselesaikan pada 2010.

Reaksi Para Pebisnis
Beberapa produsen lokal senang bahwa mereka akan mendapat sumber bahan baku lebih murah, meskipun yang lainnya merasa khawatir bahwa pasar domestik akan semakin terkena dampak persaingan. Suatu ukuran proteksionis yang telah diusulkan untuk mempertahankan struktur tarif pada API, namun tetap melindungi industri lokal terhadap impor obat jadi.

Pemerintah telah mengumumkan bahwa mereka menawarkan insentif pajak kepada sejumlah investor baru dan sektor industri. Fasilitas ini akan ditawarkan kepada perusahaan untuk membangun pabrik baru atau perluasan usaha di sektor kimia, petrokimia dan industri farmasi. Pemerintah yakin bahwa ini selanjutnya dapat mendorong investasi asing, dengan rencana lainnya yang bertujuan menarik modal asing termasuk usulan penghapusan industri farmasi dari daftar 'investasi negatif'.

Perkiraan Perdagangan Farmasi
Nilai impor farmasi Indonesia mencapai US$ 215.9 juta pada tahun 2008, sebagian besar perusahaan asing mencapai pasar melalui produk impor. Selain itu, sekitar 95% dari 1.300 bahan baku (API) yang digunakan untuk pembuatan obat di Indonesia adalah impor. Harga bahan baku merupakan masalah karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang fluktuatif.

Untuk mengamankan pasokan biaya rendah API, industri farmasi milik pemerintah Kimia Farma dan Indofarma menandatangani kontrak dengan pemasok API asal Cina secara aktif memberikan antibiotik masal. Industri farmasi India juga tertarik untuk memperluas pasarnya di Indonesia, dimana mereka sudah eksis melalui produk yang masuk sebagai re-export dari Singapura. Mayoritas ekspor India ke Indonesia untuk bahan baku adalah penting, karena Indonesia memiliki ketergantungan hampir sepenuhnya.

Namun demikian, prevalensi warga negara Cina di Indonesia berarti bahwa negara itu memiliki bisnis dan ekonomi yang lebih besar hubungan dengan Cina. Ini berarti bahwa produsen generik Cina, dalam jangka panjang tampak lebih diposisikan untuk memenuhi permintaan generik murah untuk dipasokan di negeri ini.

Sementara itu, nilai sektor farmasi di Indonesia dalam hal kemudahan pembentukan perusahaan patungan untuk pengujian kualitas obat tumbuh mencapai US$ 255 juta. Merupakan kebutuhan vital bagi pembeli di pasar negara maju.

Di Indonesia, PT Pharma Kinetika salah satu perusahaan pengujian obat untuk bioavailabilitas, jumlah obat yang mencapai aliran darah dan bioekivalensi, yang menetapkan apakah obat-obatan generik memiliki sifat yang sama dengan produk originator. Perusahaan patungan itu dibuat oleh Innogene Kalbiotech di Indonesia dan Info Kinetics dari Malaysia, dan berbasis di Jakarta.

PT Pharma Kinetics akan didukung oleh PT Pharma Metric Labs, perusahaan bioavailability/-bioequivalence yang didirikan oleh Innogene Kalbiotech tahun 2005. Permintaan untuk layanan
yang disediakan oleh PT Pharma Kinetics cenderung meningkat dengan cepat selama 18 bulan selanjutnya.

The Sectoral Mutual Recognition Arrangement untuk inspeksi Good Manufacturing Practice (GMP) untuk produsen obat dirancang untuk melancarkan perdagangan obat-obatan antara negara anggota ASEAN. Regulator obat suatu negara akan menyetujui pabrik obat dan sebuah sertifikasi akan diterima oleh negara-negara sesama ASEAN, dengan demikian mengurangi risko duplikasi usaha. Implementasi secara penuh diharapkan dapat terlaksana pada bulan Januari 2011.

Secara keseluruhan, diperkirakan bahwa penjualan obat asing buatan Indonesia akan mencapai US$ 266.8 juta pada 2014, dengan rata-rata penjualan tahunan sebesar 13,59% dalam dolar AS.
Harmonisasi ASEAN juga akan berpotensi men-dorong ekspor, meskipun rencana pengurangan tarif  menjadi nol - pada obat-obatan yang masuk ke Indonesia juga akan meningkatkan persaingan yang timbul dari impor.

Menurut United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Trade) mitra kerjasama ekspor obat terkemuka di Indonesia adalah Thailand, disusul oleh India dan Korea Selatan. Sebagian besar perdagangan obat generik murah, meningkat-kan value chain dan mencapai margin yang lebih besar. Industri farmasi Indonesia juga berpeluang menjual lebih banyak produk mereka ke negara-negara maju, seperti tetangga Australia.

Ekspor Obat
Terutama obat generik, secara historis tercatat merupakan bagian kecil dari penjualan industri domestik. Indonesia mengekspor berbagai jenis obat, walaupun secara umum murah seperti produk berbasis OTC, analgesik dan vitamin.

Namun ekspor saat ini terhambat oleh kurangnya investasi R&D, walaupun usaha patungan dengan perusahaan multinasional berpotensi meningkat secara signifikan untuk memperbaiki situasi.

Pasar obat-obatan herbal tradisional juga bisa membuktikan jalan untuk pertumbuhan ekspor, dengan perdagangan telah menjadi senilai Rp 2 trilyun pertahun dan kebanyakan mencapai Korea Selatan, Taiwan dan Hong Kong, serta Timur Tengah dan Rusia.

Perkiraan Data Kesehatan lainnya
Ada kemungkinan perusahaan asing berinvestasi di suatu negara jika lingkungan bisnisnya kondusif, dengan investasi seperti membawa perangkat ekspansi berskala yang lebih besar. Sementara skenario seperti itu sedang didorong oleh usulan penghapusan industri farmasi dari daftar 'investasi negatif', di sisi lain posisi perusahaan asing di Indonesia terancam oleh penegakan persyaratan baru yang mereka harus memiliki fasilitas produksi lokal.

Aturan baru itu telah mempengaruhi 13 dari 29 perusahaan asing yang beroperasi di negeri ini, dengan kemungkinan penarikan produk oleh 13 perusahaan yang mempunyai dampak signifikan pada pasar.

Sementara beberapa kekurangan obat-obatan bisa diharapkan, kesenjangan kemungkinan besar akan diisi oleh produk pesaing,  yang dipasarkan oleh industri farmasi baik asing dan domestik.

Namun demikian, dampak undang-undang tersebut belum sepenuhnya dapat diperkirakan. Mengingat sifat perusahaan yang berbasis penelitian, perusahaan yang paling terpengaruh oleh perubahan yang melibatkan produk bermerek yang dipatenkan, nilai-nilai akan turun dalam jangka pendek jika produk ditarik tanpa diganti.

Banyak kalangan yang mencurigai bahwa langkah ini bernuansa politik dan perusahaan multinasional terkena dampak. Namun demikian, potensi pasar di Indonesia sangat penting, mengingat jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi saat ini rendah.

Sektor ekspor juga memungkinkan lebih meluas secara cepat dari yang diperkirakan, sebagaian produsen dapat memodernisasi industrinya dan memperkuat kehadirannya di pasar regional untuk bersaing dan mengambil keuntungan lebih lanjut dari negara yang mata uangnya melemah.



B.    Investasi Sektor Industri Farmasi  

Tahun 2011 ini, investasi farmasi ditargetkan meningkat 50%-60% dibandingkan proyeksi tahun lalu, dari US$ 500 juta menjadi US$ 750 juta – US$ 800 juta, seiring rencana kebijakan pemerintah memberi peluang kepemilikan asing sebesar 100%. Dengan kebijakan baru itu, prinsipal farmasi multinasional akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga berimplikasi meningkatkan teknologi di sektor ini dan bisa menurunkan harga obat menjadi lebih murah.

Sri Indrawati, Dirjen Binfar dan Alkes Kemenkes RI, mengharapkan investasi yang siap masuk akan kapasitas produksi obat nasional akan bertambah terutama untuk obat etikal yang belum diproduksi di dalam negeri, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes. Masyarakat akan lebih mudah memperoleh obat yang dibutuhkan.

Perkiraan investasi senilai US$ 750 - 800 juta itu merupakan asumsi dari pembangunan pabrik farmasi. Untuk pembangunan pabrik pengemasan, membutuhkan investasi sekitar US$ 250 juta. Pembangun pabrik dengan produksi penuh (hulu ke hilir/full production), nilai investasinya bisa mencapai US$ 500 juta. "Tergantung produksi dan jenis obatnya," katanya. Menurut Sri Indrawati, jenis obat menentukan besaran investasi yang akan dialokasikan untuk pembangunan pabrik.

Direktur Eksekutif IPMG, Parulian Simanjuntak menjelaskan jika obat resep untuk penyakit modern seperti kanker, jantung, dan diabetes bisa diproduksi di dalam negeri, masyarakat tidak perlu lagi membelinya ke luar negeri. Pada 2010, pasar farmasi domestik diproyeksikan mencapai Rp 32,9 triliun, naik 11% dibandingkan 2009 sebesar Rp 29,7 triliun. Pertumbuhan pasar farmasi lokal rata-rata 11% per tahunnya diatas pertumbuhan ekonomi nasional.

Pada 2010, produsen farmasi asing mendapat omset Rp 6,9 triliun. Sedangkan pangsa pasar produsen farmasi lokal Rp 26 triliun atau 79%. Pangsa pasar industri farmasi asing menurun 16% sepanjang lima tahun terakhir. (dbs)



C.    Pertumbuhan Pasar Farmasi Domestik
Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi memprediksi penjualan obat resep (ethical) pada tahun ini mencapai Rp 20,9 triliun, meningkat 13,34% dibandingkan tahun lalu Rp 18,44 triliun. Proyeksi pertumbuhan penjualan obat resep tahun ini lebih tinggi dibandingkan 2010 yang meningkat 10,88% dari 2009.

Pasar farmasi Indonesia tumbuh rata-rata per tahun atau compounded annual growth rate (CAGR) 11% sejak 2003 sampai estimasi 2010. Pada tahun ini pasar farmasi nasional diestimasikan mencapai Rp 38 triliun - Rp 39 triliun, naik 14,7% dibandingkan 2010. Pasar obat resep diperkirakan akan menembus Rp 20,9 triliun, sementara pasar obat bebas mencapai Rp 16,7 triliun.

Porsi penjualan obat resep terhadap total pasar farmasi nasional stagnan 56% sepanjang tiga tahun terakhir. Pada 2009, pasar farmasi nasional mencapai Rp 29,71 triliun dan porsi penjualan obat resep 56% atau senilai Rp 16,63 triliun. Pada 2010, pasar farmasi nasional naik menjadi Rp 32,9 triliun, sedangkan porsi obat resep tetap 56%.

Menurut Anthony Charles Sunarjo, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Farmasi, kenaikan pasar farmasi tahun 2011 dipicu oleh peningkatan konsumsi produk farmasi yang selaras dengan proyeksi pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 234 juta jiwa pada 2010, meningkat menjadi 237 juta jiwa, pada 2011.

Anthony mengatakan,"Peningkatan penjualan obat etikal akan menguntungkan produsen farmasi seperti Kalbe Farma, Dexa Medica Group, dan Sanbe Farma.

Data yang dirilis oleh Intercontinental Marketing Services Health (IMS Healt) per Juni 2010, penguasaan pasar di segmen etikal adalah Kalbe Group (14%), Dexa Medica Group (7%), Sanbe (6%), Pfizer Group (4%), Sanofi Aventis Group (4%), Fahrenheit (4%), dan Novartis Group (4%).

PENINGKATAN UTILITAS
Melihat pangsa pasar dan adanya tren peningkatan penjualan obat resep yang menjanjikan, sejumlah produsen farmasi berupaya meningkatkan utilisasi pabrik di Indonesia. Banyak pelaku industri farmasi memperkirakan tren kompetisi di segmen obat resep semakin ketat di awal tahun.
 

Seiring kenaikan permintaan produk farmasi, terutama obat resep, empat emiten farmasi, yakni Pyridam Farma, Kimia Farma, Kalbe Farma, dan Pfizer, Sanofi Aventis menargetkan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang atau utilisasi pabrik meningkat 3%-10%. Bahkan Pfizer telah menargetkan kapasitas produksi akan ditingkatkan hingga dua kali lipat selama dua tahun mendatang. Sementara Sanofi Aventis meningkatkan hingga 44,5%.

KALBE FARMA
Perusahaan terbesar asal Indonesia ini mentargetkan utilisasi pabrik pada 2011 mening-kat 10% dibandingkan tahun lalu, dari 70% menjadi 80%. Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat resep, nutrisi, dan produk kesehatan di pasar domestik dan ekspor.

Menurut Direktur Keuangan Kalbe Farma, Vidjongtius, untuk mendukung upaya tersebut, perseroan menganggarkan dana belanja modal (capex) sebesar Rp 650 miliar, naik 44% dibanding 2010 yakni Rp 450 miliar. "Dana capex tahun ini dikeluarkan dari kas internal perusahaan," ujarnya.

Peningkatan utilisasi itu dilakukan antara lain dengan membangun tiga unit pabrik obat resep dan menambah kapasitas pabrik yang ada. Dari penambahan tersebut, segmen obat resep ditargetkan berkontribusi sebesar 25% terhadap pendapatan.

Dari peningkatan utilisasi, perusahaan menargetkan pendapatan konsolidasi pada 2011 meningkat hingga 10%-15%, dari proyeksi 2010 sebesar Rp 10,1 triliun - Rp 10,2 triliun menjadi Rp 11 triliun - Rp 11,5 triliun.

Upaya itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat resep, nutrisi, dan produk kesehatan di pasar domestik dan ekspor.

Porsi penjualan obat resep Kalbe Farma sebesar 26% terhadap total pendapatan, atau senilai Rp 1,91 triliun. Sementara kontribusi penjualan obat resep Kimia Farma sebesar 56% terhadap total pendapatan.

Pasar obat resep di Indonesia rata-rata tumbuh 11% per tahun (compounded annual growth rate/CAGR) selama periode 2006 hingga proyeksi 2010. Kapitalisasi pasar obat resep juga naik, dari Rp 14,03 triliun pada 2006 menjadi Rp 21,14 triliun pada 2010.

Sampai dengan kuartal III 2010, segmen obat resep menyumbang 26% terhadap pendapatan Kalbe atau senilai Rp 1,91 triliun. Pembangunan tiga pabrik itu akan mendorong produksi obat Kalbe dari 3 miliar tablet tahun lalu menjadi 3,5 miliar tablet tahun ini. Dari segmen obat resep, saat ini Kalbe memproduksi 83 produk lisensi, 249 jenis produk generik bermerek, dan 41 produk obat generik.

PT PFIZER INDONESIA
PT Pfizer Indonesia tidak ketinggalan perusahaan multi nasional ini melaporkan akan menaikkan kapasitas pabrik obatnya di Bogor Jawa Barat, hingga dua kali lipat. Dari 100 juta tablet per tahun menjadi 200 juta tablet per tahun selama dua tahun ke depan.

Ekspansi Pfizer ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan obat terutama obat resep di pasar domestik, Indonesia.

Public Affair Communication Director Pfizer Indonesia, Chrisma Albanjar menjelaskan dengan adanya peningkatan kapasitas pabrik, perseroan menargetkan kenaik-an penjualan dan pangsa pasar produknya di Indonesia. Penjualan Pfizer diproyeksikan mencapai Rp 853 miliar dengan pangsa pasar 4,3% pada 2010.

Berdasarkan data IMS Health per Juni 2010, Pfizer termasuk dalam empat pemain terbesar obat resep di Indonesia. Pemain utama di segmen obat resep adalah Kalbe Group dengan pangsa 14%, Dexa Medica Group (7%), Sanbe (6%), Pfizer Group (4%), Sanofi Aventis Group (4%), Fahrenheit (4%), dan Novartis Group (4%).

PYRIDAM FARMA
Perusahaan multi nasional PT Pyridam Farma Tbk juga menargetkan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang atau utilisasi pabrik meningkat hingga10% seiring naik-nya permintaan produk farmasi di pasar domestik. Dibandingkan tahun 2010, kenaikan direncanakan dari 80% menjadi 90%. 
Sekretaris Perusahaan Pyridam Farma, Ryan Arvin, menjelaskan saat ini perseroan masih menghitung besaran investasi yang dibutuhkan untuk peningkatan utilisasi itu. "Pada akhir kuartal I 2011 baru bisa ditentukan berapa dana yang dibutuhkan untuk peningkatan tersebut," katanya.

Peningkatan utilisasi pabrik dilakukan untuk memenuhi kebutuhan farmasi di Indonesia, khususnya di segmen obat etikal yang selama ini menjadi fokus bisnis perseroan.

Perseroan ini telah mematok target pendapatan pada 2011 sebesar Rp 167 miliar, meningkat sekitar 15% dibandingkan proyeksi tahun lalu Rp 145 miliar. Peningkatan utilisasi dilakukan seiring rencana peluncuran obat baru pada 2011 untuk mengejar target pendapatan. "Rencananya akan kami luncurkan 3 sampai 5 produk obat baru pada 2011," tambah Ryan.

SANOFI AVENTIS
Sanofi meningkatkan kapasitas produksi sebesar 44,5% dari 90 juta tablet di 2010 menjadi 130 juta tablet. Plant Director Sanofi-Aventis, Mohammad Sumarno menjelaskan peningkatan produksi tersebut seiring rencana perusahaan melakukan ekspansi pasar ekspor ke Australia dan Selandia Baru pada tahun ini. “Sebanyak 40 juta tablet baru yang kami produksi pada tahun ini seluruhnya diekspor ke Australia dan Selandia Baru," ujar Sumarno.

Perseroan yang berkantor pusat di Pulo Mas, Jakarta dengan luas lahan 33000 m² ini menilai Australia sebagai pasar ekspor yang prospektif untuk obat bebas. Sanofi telah memperoleh izin peredaran obat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan Australia (Terapeutic Good Agency/TGA) sejak Maret 2010. Ekspor ke Australia dan Selandia baru akan dimulai pada Maret 2011. Penetrasi pasar ke dua negara tersebut ditargetkan akan memperbesar pangsa pasar ekspor obat bebas milik perseroan. Selama ini pangsa pasar ekspor terbesar Sanofi untuk obat bebas adalah Thailand dan Vietnam.

Sementara pangsa pasar ekspor terbesar produk Sanofi di segmen obat resep adalah Thailand dan Kamboja. Dari total penjualan Sanofi-Aventis Indonesia, komposisinya 50% untuk domestik dan 50% ekspor.

KIMIA FARMA
Kimia Farma menargetkan utilisasi pabrik meningkat 3% dibandingkan tahun lalu, dari 75% menjadi 78%.

Direktur Utama Kimia Farma, Syamsul Arifin, menjelaskan peningkatan utilisasi pabrik akan berdampak pada kenaikan produksi yang akan meningkatkan pendapatan perseroan. Pada tahun ini, Kimia Farma menargetkan pendapatan mencapai Rp 3,25 triliun, naik 4,8% dibanding proyeksi 2010 yakni Rp 3,1 triliun.

Peningkatan utilisasi pabrik tahun ini juga didukung order produk farmasi dari pemerintah pada kuartal III dan IV 2011. Proyek pengadaan produk farmasi dari pemerintah akan menyumbang 30% dari total produksi perseroan tahun ini. Saat ini kapasitas produksi Kimia Farma untuk obat generik mencapai 65%, sementara 35% sisanya merupakan produksi obat bebas (OTC) dan obat resep.

Berdasarkan laporan keuangan Kimia Farma yang belum diaudit, pada 2010 laba bersih perseroan tumbuh 61,44% menjadi Rp 100,9 miliar dibandingkan 2009 sebesar Rp 62,5 miliar. Pada 2011, perseroan menargetkan laba bersih sebesar Rp 153,4 miliar.

Kimia Farma mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 51,8 miliar pada 2010, meningkat dibandingkan 2009 sebesar Rp 34,1 miliar.

TARGET INVESTASI DI SEKTOR FARMASI

Terkait dengan Investasi, sektor farmasi pada 2011 ditarget-kan meningkat dari US$ 500 juta menjadi US$ 750 juta – US$ 800 juta, atau 50%-60% dibandingkan proyeksi tahun lalu, seiring rencana kebijakan pemerintah melonggarkan kepemilikan asing dari 75% menjadi 100%.

Sebagaimana dikatakan Menteri Kesehatan RI, Endang R Sedyaningsih bahwa dengan kebijakan baru itu, prinsipal farmasi multinasional akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sehingga berimplikasi meningkatkan tekno-logi di sektor farmasi. Harga obat resep pun diharapkan bisa menjadi lebih murah.

Diharapkan, untuk selanjutnya kapasitas produksi industri farmasi nasional akan terus bertambah terutama untuk obat resep (etikal) yang belum dibuat di dalam negeri, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes.

Direktur Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan Kemen-terian Kesehatan RI, Sri Indrawati, mengatakan investasi yang siap masuk akan memacu penambahan pasokan obat nasional, dengan demikian masyarakat bisa lebih mudah untuk memperoleh obat yang dibutuhkan. Jenis obat yang diusulkan untuk dibuka investasinya yaitu obat resep yang
belum diproduksi di Indonesia, seperti obat kanker, jantung, dan diabetes.

Perkiraan investasi yang akan masuk sebesar US$ 750 juta hingga US$ 800 juta, perkiraan ini diasumsikan dari pembangunan pabrik farmasi. Jika perusahaan membangun pabrik pengemasan saja, maka investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 250 juta. Sedangkan bagi perusahaan yang membangun pabriknya dari hulu ke hilir dengan produksi penuh (full production), nilai investasinya bisa mencapai US$ 500 juta. "Tergantung produksi dan jenis obatnya," lanjut Sri Indrawati.

Sri Indrawati juga menjelaskan bahwa jenis obat pun menentukan besaran investasi yang akan digulirkan oleh perusahaan untuk membangun fasilitas produksi. Ia mengatakan bahwa investasi untuk satu jenis produksi akan lebih murah dibandingkan pembangunan pabrik yang memproduksi tiga jenis obat.

Keputusan Baru, Masalah Baru!!


Surat Edaran Kementrian Kesehatan No. TU.08.03/IV/1400/2011 ini ditetapkan pada tanggal 7 September, tujuannya untuk memperjelas aturan baru kefarmasian yang sekarang banyak diributkan rekan-rekan tenaga kefarmasian. Pembaharuan ini terutama terkait dengan PP 51 tahun 2009 dan Permenkes 889 tahun 2011. Kalau sudah baca dan memahaminya, yuk mari kita bahas pembaharuan aturan kefarmasian sebagaimana tertulis dijudul artikel ini, yang tentunya saya kaji hanya yang terkait dengan Tenaga Teknis Kefarmasiannya saja yaa kawan..:)
Hal pertama dan terpenting didalam surat edaran kemenkes TU.08.03/IV/1400/2011 ini adalah mengenai perpanjangan waktu untuk pergantian perizinan sebelumnya bagi tenaga kefarmasian, ke perizinan baru sebagaimana diatur dalam PP 51/2009 dan Permenkes 889/2011. Tidak perlu panjang lebar karena sudah saya uraikan dengan jelas diartikel Perpanjangan Waktu Pemutihan/ Penggantian SIAA ke STRTTK, bahwa yang sebelumnya waktunya berakhir tanggal 31 agustus kemarin dipernpanjang hingga 31 desember 2011. Jadi bersegeralah ya, mumpung syaratnya mudah dibanding buat baru. :)
Kemudian ketetapan yang tidak kalah pentingnya dan menjadi poin kedua yang harus rekan-rekan TTK pahami adalah mengenai tempat penerbitan Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian. Nah, bagi rekan yang telah menyimak Permenkes 889 tahun 2009, terutama untuk teman kita yang di Surabaya, akan kebingungan tuh mengenai lokasi pembuatan STRTTK ini. Yah, walau di aturan tersebut dengan jelas disebut perolehannya di Dinas Kesehatan Propinsi, tetapi pada prakteknya sewaktu membuat SIAA dahulu itu diurus di Kantor Pelayanan Terpadu. Jadi berdasarkan surat edaran kemenkes yang terbit 7 september kemarin, maka bagi daerah yang menetapkan perizinan STRTTK diperoleh di Kantor Pelayanan Terpadu atau dalam istilah edaran ini diebut manajemen satu pintu, tetap diperbolehkan dengan syarat penandatanganannya tetap oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat. Juga diterangkan lebih lanjut bahwa perolehan STRTTK yang pertama kali bagi lulusan baru adalah sama antara tempat pendidikan dan tempat Dinas Kesehatan Provinsi berada. Hal ini juga berlaku dalam pembuatan Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian atau SIKTTK.
Diantara pembaca artikel ini mungkin ada yang menjadi AAPJ dari Toko Obat Berijin, kalaupun tidak ada yang jelas saya begitu. Sebagai seorang Asisten Apoteker Penanggung Jawab TO, sebelumnya saya sempat ragu apakah dengan adanya pergantian izin ini akan bedampak dengan izin TO yang telah dimiliki atau bagaimana. Namun pertanyaan tersebut terjawab sudah dengan adanya surat edaran kemenkes ini, sebagai poin penting lainnya yang terkait dengan TTK. Disebut bahwa semua tempat pelayanan kefarmasian tidak perlu melakukan pembaharuan izin terkait dengan perubahan STRTTK dan SIKTTK ini. Terlalu luas ya kalau saya sebut tempat pelayanan kefarmasian, soalnya artikel ini kan hanya membahas yang terkait TTK aja. Habisnya ga enak kalau hanya menyebut Toko Obat berijin saja sebagai satu-satunya tempat pekejaan kefarmasian yang dapat dilakukan secara mandiri oleh TTK. Sudah baca belum mengenai aturan perizinan PBF terbaru 2011 ini? Moga sempat nanti menuliskannya.
Poin yang terakhir sebenarnya terkait dengan organisasi, institusi pendidikan, dan pemerintah/ dinkes. Untuk menjaga keseimbangan antara jumlah TTK dan kebutuhan pelayanan kesehatan, maka diperlukan kerjasama diantaranya. Ok daah, selesai juga artikel ini saya tulis. Mohon maaf, dan kalau berkenan silahkan tulis kembali komentarnya. Salam PAFI, semoga artikel mengenai pembaharuan aturan kefarmasian berdasar Surat Edaran Kemenkes No. TU.08.03/IV/1400/2011 bisa mejadi sumber informasi yang layak untuk dipahami bagi calon calon apoteker seperti saya. Ceileeh PD banget gue nyebut calon apoteker ye, ya sudahlaah moga aja sukses nempuh studinya. Amiin,..

Kode Etik Ahli Farmasi Indonesia


Terkadang apoteker tak jarang tlah melupakan janji yang mereka ucapkan saat mereka sukses menempuh studinya, tapi tahu kah kalian, janji yang terucap tersebut merupakan sebuah SUMPAH?? Bahwasanya Sumpah Asisten Apoteker Menjadi pegangan hidup dalam menjalankan tugas pengabdian kepada nusa dan bangsa Oleh karena itu seorang ahli farmasi Indonesia dalam pengabdianya profesinya mempunyai ikatan moral yang tertuang dalam Kode etik ahli Farmasi Indonesia :
A. Kewajiban terhadap Profesi
  1. Seorang Asisten Apoteker harus menjunjung tinggi serta memelihara martabat, kehormatan profesi, menjaga integritas dan kejujuran serta dapat dipercaya.
  2. Seorang Asisten Apoteker berkewajiban untuk meningkatkan keahlian dan pengetahuan sesuai dengan perkembangan teknologi.
  3. Serorang Asisten Apoteker senantiasa harus melakukan pekerjaan profesinya sesuai dengan standar operasional prosedur, standar profesi yang berlaku dank ode etik profesi.
  4. Serorang Asisten Apoteker senantiasa harus menjaga profesionalisme dalam memenuhi panggilan tugas dan kewajiban profesi.
B. Kewajiban Ahli Farmasi terhadap teman sejawat
  1. Seorang Ahli Farmasi Indonesia memandang teman sejawat sebagaimana dirinya dalam memberikan penghargaan
  2. Seorang Ahli Farmasi Indonesia senantiasa menghindari perbuatan yang merugikan teman sejawat secara material maupun moral
  3. Seorang Ahli Farmasi Indonesia senantiasa meningkatkan kerjasama dan memupuk keutuhan martabat jabatan kefarmasiaqn,mempertebal rasa saling percaya didalam menunaikan tugas
C. Kewajiban terhadap Pasien/pemakai Jasa
  1. Seorang Asisten Apoteker harus bertanggung jawab dan menjaga kemampuannya dalam memberikan pelayanan kepada pasien/pemakai jasa secara professional
  2. Seorang Asisten Apoteker harus menjaga rahasia kedokteran dan rahasia kefarmasian, serta hanya memberikan kepada pihak yang berhak
  3. Seorang Asisten Apoteker harus berkonsultasi/merujuk kepada teman sejawat atau teman sejawat profesi lain untuk mendapatkan hasil yang akurat atau baik.
D.Kewajiban Terhadap Masyarakat
  1. Seorang ahli Farmasi harus mampu sebagi suri teladan ditengah-tengah masyarakat
  2. Seorang ahli Farmasi Indonesia dalam pengabdian profesinya memberikan semaksimal mungkin pengetahuan dan  keterampilan yang dimiliki
  3. Seorang ahli Farmasi Indonesia harus selalu aktif mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan dibidang kesehatan khususnya dibidang kesehatan khususnya dibidang Farmasi
  4. Seorang ahli Farmasi Indonesia harus selalu melibatkan diri dalam usaha – usaha  pembangunan nasional khususnya dibidang kesehatan
  5. Seorang ahli Farmasi harus mampu sebagai pusat informasi sesuai bidang profesinya kepada masyarakat dalam  pelayanan kesehatan
  6. Seorang ahli Farmasi Indonesia harus menghindarkan diri dari usaha- usaha yang mementingkan diri sendiri serta bertentangan dengan jabatan Farmasian.
E. Kewajiban Ahli Farmasi Indonesia terhadap Profesi Kesehatan Lainnya
1. Seorang Ahli Farmasi Indonesia senantiasa harus menjalin kerjasama yang baik, saling percaya, menghargai dan menghormati terhadap profesi kesehatan lainnya
2. Seorang  Ahli Farmasi Indonesia harus mampu menghindarkan diri terhadap perbuatan-
perbuatan yang dapat merugikan,menghilangkan kepercayaan,penghargaan masyarakat terhadap profesi kesehatan lainnya.

Kamis, 10 November 2011

Sejuta Masalah Terkait Obat Generik


Menurut berita kompas yang pernah saya baca, terurai kalimat yang sedikit membuat saya bingung akan dunia farmasi yang semakin lama mulai tak dapat ku pahami. Kenapa masalah seringkali timbul dalam dunia farmasi siih?? Apalagi kasus akan obat generic, rasanya sudah basi buat di bahas terus menerus, kendati Kementerian Kesehatan merevitalisasi peraturan tentang kewajiban menuliskan resep dan menggunakan obat generik di sarana kesehatan pemerintah, masyarakat masih kurang tertarik menggunakan obat generik.
Menurut Direktur Eksekutif International Pharmaceutical Manufacturer Group (IPMG) Parulian Simanjuntak, sampai saat ini, penggunaan obat generik nonmerek baru mencapai 10 persen.
"Sampai saat ini masih ada stigma bahwa kualitas obat generik rendah. Ada keraguan terhadap kualitas obat generik karena harganya yang murah," katanya di Jakarta, Kamis (3/11/2011).
Parulian menjelaskan, sebenarnya kekhawatiran masyarakat itu tidak beralasan karena setiap obat memiliki standar kualitas yang sama.
Obat generik merupakan obat duplikat. Harganya bisa lebih murah dari obat paten karena industri farmasi yang memproduksi obat generik tidak mengeluarkan biaya untuk riset. Ia hanya membuat obat yang kandungan zat aktifnya sama persis dengan obat originator.
Sementara itu, obat originator atau obat yang memiliki paten mengeluarkan biaya teramat besar untuk riset dan uji klinik.
Namun, di Indonesia terdapat anomali. Harga obat generik bermerek di sini bisa lebih mahal daripada originator. Hal itu diduga karena produsen obat farmasi harus mengeluarkan biaya untuk mendekati dokter agar meresepkan obat mereka.
Mengenai dugaan tersebut, Parulian mengakui memang mendengar hal itu. "Tetapi agak sulit dibuktikan. IPMG hanya bisa melakukan pengawasan dan memberi teguran kepada perusahaan farmasi yang terbukti melanggar," katanya.
Tak adanya sistem jaminan kesehatan yang baik membuat pasien harus membayar harga obat jauh lebih mahal dibandingkan seharusnya. Pasien tak bisa memilih jenis obat dan tak tahu harganya. Mereka hanya diwajibkan membayar saat menebus resep.
Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Sri Indrawaty dalam seminar internasional Akses terhadap Obat dan Dampaknya terhadap Kebijakan Obat Nasional di Jakarta, Senin (3/10), mengatakan, penggunaan obat generik di Indonesia hanya sekitar 11 persen dari konsumsi obat nasional.
Kondisi ini jauh berbeda dengan negara-negara lain yang sudah bisa mencapai lebih dari 50 persen. Penggunaan obat generik sangat tinggi karena didukung kesadaran dokter, kuatnya posisi pemerintah terhadap dokter dan industri farmasi, serta tersedianya sistem pembiayaan kesehatan.
Di Indonesia, dokter cenderung meresepkan obat bermerek yang mahal karena tak percaya kualitas obat generik. Dokter juga sering meresepkan obat-obatan yang tak perlu atau berlebihan.
Industri pun enggan memproduksi obat generik karena tak menguntungkan. Namun, menurut Sri, kondisi ini terjadi akibat industri hanya fokus memproduksi obat generik dalam jumlah kecil. ”Peningkatan volume produksi dapat dilakukan jika mereka mau menggarap pasar luar negeri,” ujar Sri Indrawaty.
60 persen untuk obat
Penggunaan obat bermerek membuat komponen biaya obat sangat tinggi. Biaya obat yang ditanggung sebuah perusahaan di Indonesia mencapai 55 persen hingga 60 persen dari total biaya kesehatan karyawannya. Padahal, di Malaysia, komponen biaya obat hanya mencapai 10 persen.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany menambahkan, tak adanya sistem jaminan kesehatan membuat pasien harus membayar sendiri harga obat. Padahal, obat untuk penyakit tak menular yang kini menjadi pembunuh utama di Indonesia harganya puluhan juta rupiah satu paket.
”Jika ada jaminan kesehatan menyeluruh (universal coverage), biaya pengobatan ini akan ditanggung seluruh penduduk secara gotong royong,” katanya.
Sistem jaminan menyeluruh itu juga akan menguatkan posisi tawar pasien karena penyelenggara jaminanlah yang akan bernegosiasi dengan industri farmasi guna menentukan harga obat.
Para pembicara dari Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan yang di negara mereka sudah menerapkan jaminan kesehatan menyeluruh menegaskan, butuh komitmen kuat dari pemerintah untuk menerapkan sistem itu.
Tren penggunaan obat generik di Amerika Serikat ternyata terus berlanjut. Laporan terbaru yang dirilis IMS Institute for Healthcare Informatics tentang penggunaan obat-obatan di AS selama kurun waktu 2010 menunjukkan, sebagian besar obat-obat yang diresepkan di Negeri Paman Sam tersebut adalah obat dari jenis generik.
Melanjutkan tren dalam beberapa tahun terakhir, IMS menemukan bahwa 78%  dari sekitar 4 miliar resep yang dituliskan oleh dokter di AS sepanjang 2010 adalah obat-obat generik (baik yang tidak bermerek maupun yang dijual dengan menggunakan merek). Angka ini naik 4 % dibandingkan tahun 2009, sekaligus membuat market share obat generik terus mengalami peningkatan dalam kurun lima tahun terakhir.
Berikut adalah 10 obat yang paling banyak diresepkan (diurutkan berdasar peringkat tertinggi) :
1.      Hydrocodone (dikombinasi dengan acetaminophen) -- 131.2 juta resep
2.      Obat penurun kolesterol generik merek Zocor (simvastatin), -- 94.1 juta resep
3.      Lisinopril (termasuk yang dijual dengan merek Prinivil dan Zestril), obat penurun tekanan darah -- 87.4 juta resep  
4.      Hormon tiroid sintetis generik merek Synthroid (levothyroxine sodium),  -- 70.5  juta resep
5.      Obat penurun tensi/angina generik merek Norvasc (amlodipine besylate),  -- 57.2 juta resep
6.      Obat antasida generik merek Prilosec (omeprazole),  -- 53.4 juta resep (belum termasuk penjualan secara bebas/otc)
7.      Obat antibiotik Azithromycin (termasuk yang dijual dengan merek Z-Pak dan Zithromax),  -- 52.6 juta resep
8.      Antibiotik Amoxicillin (dengan berbagai macam merek), -- 52.3 juta resep
9.      Obat diabetes generik Glucophage (metformin),  -- 48.3 juta resep
10.  Obat penurun tensi Hydrochlorothiazide (dengan beragam merek), -- 47.8 juta resep.
10 Obat dengan nilai penjualan tertinggi
Memang bukan hal yang mengejutkan kalau obat-obat generik bukanlah sumber pendapatan tertinggi bagi para produsen obat. Buktinya, meskipun obat generik paling banyak diresepkan, tetapi obat yang sudah lepas masa patennya ini tidak mencatat nilai penjualan tertinggi.
Obat-obat yang paling banyak menghabiskan biaya bagi pasien adalah obat-obat paten yang masih terbilang baru dan masih mendapat perlidungan dari  kompetisi obat generik.
IMS melaporkan, bahwa rakyat Amerika menghabiskan sekurangnya 307 miliar dollar AS untuk menebus resep obat pada 2010. Angka ini naik 2,3 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 300 miliar dollar AS. 
Inilah 10 nama obat yang paling banyak menguras kantong pasien di AS :
1.         Lipitor, obat penurun kolestrol -- $7.2 miliar
2.          Nexium, obat antasida -- $6.3 miliar
3.         Plavix, obat pengencer darah -- $6.1 miliar
4.         Advair Diskus, inhaler untuk asma-- $4.7 miliar
5.         Abilify, obat antipsikotik  -- $4.6 miliar
6.         Seroquel, obat antipsikotik  -- $4.4 miliar
7.         Singulair, obat oral untuk asma -- $4.1 miliar
8.         Crestor, obat penurun kolesterol -- $3.8 miliar
9.         Actos, obat diabetes  -- $3.5 miliar
10.     Epogen, obat anemia yang disuntikan -- $3.3 miliar
Tapi syukurlaah, dan mungkin masyarakat kecil/ ekonomi menengah kebawah masih bisa bernafas dengan lega, karna gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia sepakat tidak menaikkan harga obat generik bermerek pada tahun 2011. Perusahaan farmasi yang telanjur menaikkan harga diminta menurunkan kembali harga obat yang mereka jual di pasaran.
”Penurunan harga selambat- lambatnya dilakukan 1 Maret,” kata Anthony CH Sunarjo, Ketua Umum GP Farmasi, Jumat (25/2) di Jakarta. Keputusan ini diambil GP Farmasi mengingat kondisi daya beli masyarakat Indonesia yang semakin sulit.
Menurut hasil temuan GP Farmasi, dari sekitar 200 industri farmasi di Indonesia, hanya 15 industri yang menaikkan harga obat. Kenaikan harga obat ini terjadi pada produk obat generik bermerek yang cepat laku.
Beberapa waktu sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengimbau perusahaan farmasi nasional untuk tidak menaikkan harga obat mengingat daya beli masyarakat semakin merosot. ”Obat tidak sama dengan komoditas perdagangan lain. Pengusaha tidak bisa hanya memikirkan aspek bisnis saja, tetapi juga aspek sosialnya,” kata Sri Indrawaty, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemkes, yang dihubungi terpisah.
Untuk mengurangi tingginya harga obat, industri farmasi sebenarnya bisa mengurangi komponen lain, seperti mengurangi margin keuntungan dan mengurangi biaya promosi obat ethical (obat yang didapat lewat resep).
Kenaikan harga obat di pasaran mencapai 10 persen saat Kementerian Keuangan menerapkan tarif bea masuk bahan baku obat sebesar 5 persen.
Menurut Anthony, bea masuk 5 persen ini membebani industri farmasi yang menanggung kenaikan biaya lain, seperti kenaikan harga bahan baku obat yang sebagian besar diimpor, tarif dasar listrik, upah minimum regional, dan tingkat inflasi yang semakin tinggi.
Kemkes mengupayakan agar bea masuk impor bahan baku obat diturunkan. Pemerintah juga menyosialisasikan pemakaian obat generik berlogo yang disubsidi pemerintah sebagai obat murah yang dijamin mutunya. (IND)



Minggu, 30 Oktober 2011

Peran Industri Farmasi dalam IS 2010

PELAYANAN kesehatan yang bermutu adalah bagian dari tujuan Indonesia Sehat (IS) 2010. Salah satunya dengan ketersediaan obat dan alat kesehatan untuk masyarakat.

Akses terhadap obat, juga merupakan hak azasi manusia. Oleh karena itu, penyediaan alat kesehatan dan obat adalah kewajiban pemerintah, institusi pelayanan kesehatan baik publik maupun swasta. Karena obat bukanlah semata komoditas perdagangan, tapi juga memiliki fungsi sosial.

Dunia farmasi juga perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana khasiat dan cara penggunaan obat yang benar. Ini penting, agar masyarakat juga bisa mengkonsumsi obat sesuai dosis yang benar. Saat ini, pengetahuan masyarakat tentang khasiat dan bahaya obat masih minim. Akibatnya, masih sering ditemukan penyakit warga malah lebih parah karena mereka kurang paham dalam mengkonsumsi obat yang diberikan dokter.

Peran obat dimulai dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, diagnosis, pengobatan serta pemulihan. Oleh karena itu, obat harus diusahakan agar selalu tersedia saat dibutuhkan. Sebagai produk dari industri farmasi, obat tentunya tidak lepas dari aspek ekonomi dan teknologi. Maka, diperlukan suatu inovasi produk melalui pengembangan-pengembangan based on research yang dilakukan oleh industri farmasi.

Kontribusi inilah yang bisa diberikan pada industri farmasi dalam mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Selain itu, semua obat yang beredar harus dapat dijamin keamanan, khasiat dan mutunya agar betul-betul memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Vice President Sales Divisi 1 PT APL, Nyoman Sukertha menjelaskan, pemerintah harus bisa bekerja sama dengan industri farmasi, baik asing maupun lokal. "Jika tiap industri bergerak sendiri, kita tak akan bisa jalan dan rasanya kurang pas. Pemerintah harus bekerjasama dengan asosiasi kefarmasian untuk mewujudkan Indonesia Sehat 2010," tuturnya.

Selain itu, Nyoman juga menegaskan, perlunya melihat kembali, sebenarnya kerja sama antara pemerintah dan farmasi ini harus dibawa kemana. "Kita harus bisa melihat, bagaimana sasaran yang ingin dicapai. Kita tidak bisa hanya berbicara masalah obat yang mahal, itu saja tidak cukup. Harus sinkron, dukungan apa yang bisa diberikan oleh pemerintah dan juga dukungan apa yang harus diberikan oleh industri farmasi," tegasnya.

Sebagai pelaku industri farmasi, Nyoman berharap bahwa perwujudan IS 2010 bisa tercapai dengan adanya upaya pemerintah untuk bermitra dengan berbagai industri farmasi di Indonesia. "Kita berikan yang konkrit kepada masyarakat dan juga kepada industri farmasi. Kualitas kesehatan masyarakat tetaplah yang paling penting," kata Nyoman.

Menurut Nyoman, salah satu upaya pemerintah membangun mitra dengan industri farmasi adalah dengan membuat peraturan dan kebijakan yang bisa mengakomodir seluruh kepentingan masyarakat, dalam hal ini peningkatan kesehatan masyarakat dan juga bagi industri farmasi keseluruhan. "Kepentingan health management system sendiri harus baik dan benar. Orientasinya pada kesehatan masyarakat," tandasnya.

Pembuatan obat generik untuk masyarakat tentunya perlu diapresiasi. Akhirnya, masyarakat bisa mendapatkan obat dengan harga yang terjangkau, khususnya untuk mereka yang masih miskin. "Itu patut dilaksanakan dan memang tugas pemerintah. Kualitas harus tetap dijaga, karena menyangkut jiwa manusia," kata Nyoman. Saat ini, pangsa pasar obat generik di Indonesia cukup tinggi, yakni sekitar 71 persen. Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, yakni Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, Indonesia adalah yang paling tinggi.

Ancaman Obat Palsu

WHO pernah memperkirakan, sebanyak 10 persen obat yang beredar di seluruh dunia adalah palsu. Negara-negara berkembang seperti Indonesia adalah negara yang lebih rentan terhadap dampak dari peredaran obat palsu ini. Direktur Eksekutif IPMG (International Pharmaceutical Manufacturers Group) Parulian Simanjuntak menuturkan, WHO memperkirakan jumlah penjualan obat palsu di dunia, setiap tahunnya mencapai USD35 miliar-USD40 miliar.

Jelas, obat palsu membahayakan keselamatan dan jiwa manusia. Beredarnya obat palsu semakin memunculkan rasa pesimistis pada dunia farmasi. Peredaran obat palsu di Indonesia saat ini ditengarai mencapai sekitar 20 persen dari total nilai obat yang beredar yang diperkirakan mencapai Rp28 triliun.

Belum lagi ketika masyarakat dihadapkan pada situasi bencana. Oktober lalu, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari meminta agar daerah yang tertimpa bencana mewaspadai adanya obat kedaluwarsa. "Saat gempa Yogyakarta ada 15 ton obat kedaluwarsa," kata Fadilah.

Dan ketika tsunami melanda tahun 2004, Aceh dilimpahi 40 ton obat kedaluwarsa, bantuan dari berbagai pihak. "Karena untuk membakarnya perlu biaya juga," imbuhnya. Barangkali begitulah masyarakat kita, selalu terjadi, sudah jatuh tertimpa tangga.

Masih banyak persoalan kesehatan yang ada di depan kita. Padahal, Indonesia Sehat 2010 sudah di ambang pintu. Rasanya, sangat berat jika harus mengatakan bahwa Indonesia akan sehat 2010, melihat kenyataan bahwa masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi, kita tidak boleh pesimis. Usaha tetap dijalankan, semangat mewujudkan tetap perlu digalakkan. Semua pihak harus mendukung: pemerintah, industri farmasi, dan masyarakat sendiri tentunya.

Sebagai program yang berkesinambungan, tetaplah perlu jika kita harus memiliki target pada jangka waktu tertentu. Peran serta semua pihak dapat mendukung terciptanya program-program yang efektif dan efisien untuk mewujudkan IS 2010. Ini semua diharapkan, supaya masyarakat tidak jatuh dan tertimpa tangga lagi.

Sumber:
Anugerah Pharmindo Lestari News Magazine
www.aplcare.com

Apoteker Industri

Dalam artikel sebelumnya mungkin saya membahas soal Apoteker Rumah Sakit, kali ini saya akan mengulas tentang lulusan farmasi yang berpandangan dengan dunia industri. yaaah buat mahasiswa yang sering nge-date ma kimia bisa ambil peluang kerja bidang ini. 
Bidang-bidang kerja yang bisa digeluti oleh apoteker selain pembuatan obat adalah marketing dengan melakukan pemasaran obat-obatan, atau bisa juga menggeluti bidang regulasi seperti Dinas Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan, selain itu apoteker bisa menjadi mitra yang sejajar dengan dokter di Rumah Sakit, atau bidang-bidang lain yang berkitan dengan kesehatan.
Industri Farmasi merupakan salah satu contoh bidang yang cukup banyak digeluti oleh apoteker. Di Industri Farmasi banyak divisi atau bagian yang bisa ditempati oleh seorang apoteker. Salah satu bagian yang mungkin kurang dikenal adalah PPIC atau Production Planning and Inventory Control. Dari namanya tentu sudah bisa diperkirakan seperti apakah kerja di bagian PPIC ini. PPIC bertanggung jawab terhadap pengadaan berbagai macam bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi, baik bahan aktif, bahan pembantu, maupun bahan-bahan kemas.
PPIC bertanggung jawab dalam merencanakan jadwal produksi, apakah selanjutnya akan diproduksi tablet, sirup, atau jenis sediaan lainnya. Hal ini dikarenakan PPIC merupakan bagian yang paling mengetahui detail dari jenis dan jumlah stok bahan-bahan baku yang disimpan di gudang. Misalnya, stok bahan untuk pembuatan suatu tablet tidak ada maka PPIC tidak akan menjadwalkan pembuatan atau produksi tablet.
PPIC harus mempertimbangkan segala sesuatunya dari berbagai aspek. Jangan sampai karena ingin mencari ”aman”, semua bahan baku didatangkan dalam jumlah yang besar dari awal. Semuanya perlu perhitungan yang jelas, matang, akurat akan berbagai hal, di antaranya :
  1. Target produksi yang telah disepakati bersama misal: bulan depan tablet A harus ada 100 bets, sirop B cukup 200 bets saja, dan krim C 300 bets.
  2. Mempertimbangkan lead-time atau waktu tunggu kedatangan barang sejak tanggal pemesanan misalnya, mendatangkan avicel dari India untuk kebutuhan tablet parasetamol butuh waktu 6 bulan sejak keluar in-voice.
  3. Mempertimbangkan kapasitas gudang, misalnya kapasitas gudang perusahaan hanya 20 pallet maka jangan memproduksi lebih dari 20 pallet.
Tiga point di atas merupakan tiga point utama dari sekian banyak pertimbangan yang harus dilakukan oleh seorang PPIC. Cukup untuk membuat pusing memang, apalagi stok bahan yang harus dipantau tidak hanya puluhan tapi juga ratusan.
Dari tanggungjawab divisi PPIC seperti tergambar kasar di atas, tentunya akan muncul pekerjaan-pekerjaan turunan yang menjadi tanggung jawab para staf PPIC, misalnya saja:
  1. Rapat bulanan atau setiap X-bulan sekali dengan divisi-divisi terkait untuk menentukan target produksi. Otomatis harus menyiapkan berbagai laporan baik itu laporan tahunan, bulanan, bahkan mingguan untuk menghadapi meeting tersebut.
  2. Membuat jadwal produksi plus memeriksa/monitoring kondisi stok bahan-bahan baku/kemas.
  3. Penyiapan/pembuatan berbagai macam dokumen yang berhubungan dengan pemesanan/pengadaan bahan baku atau bahan kemas.
  4. Korespondensi atau hubungi lewat telepon para supplier bahan baku atau bahan kemas.
  5. Berkoordinasi dengan Divisi Produksi mengenai proses produksi yang sedang berjalan, akan berjalan, atau ”tertunda” berjalan.
  6. Berkoordinasi dengan Divisi Quality (QA/QC) mengenai proses pemeriksaan bahan-bahan baku/kemas yang masuk.
  7. Berkoordinasi dengan pihak gudang (jika pihak gudang tidak berada di bawah PPIC), memastikan kondisi fisik gudang (penuh dengan barang ataukah sangat penuh), mengontrol proses penyimpanan, penerimaan, dan pengeluaran barang berjalan sesuai SOP (Standard Operational Procedure), pembuatan SOP sebagai panduan kerja para staf gudang.
Nah, mungkin ilmu farmasi para apoteker di divisi PPIC akan terlihat dibutuhkan untuk poin terakhir ini yaitu fokus pada penanganan dan penyimpanan material.

Masa Depan Farmasis

Apa anda pernah berpikir, kelak lulus jadi sarjana farmasi bakl ngapain? Pernah kepikiran pandangan farmasi apa aja? kita para apaoteker gak usah galau mikirin itu, kuliah aja udah setrez, masak lulus juga mesti stres, its not faiiiir >,< . Kita dapat ambil pandangan jadi seorang apoteker rumah sakit.apa itu apoteker rumah sakit?? Apoteker rumah sakit yaitu apoteker yang bekerja dalam layanan farmasi rumah sakit, terutama dalam sektor publik. Mereka adalah ahli dalam bidang obat-obatan dan tidak hanya bertanggung jawab untuk mengeluarkan resep tetapi juga pengujian pembelian, pembuatan dan kualitas dari semua obat-obatan yang digunakan di rumah sakit. Mereka adalah anggota tim kesehatan dan bekerja sama dengan staf medis dan keperawatan untuk memastikan pasien menerima pengobatan terbaik. 
Mereka juga menyediakan bantuan dan nasihat kepada pasien di semua aspek obat-obatan mereka.Peran apoteker rumah sakit dapat memperpanjang di luar rumah sakit dengan tanggung jawab untuk obat-obatan di pusat-pusat kesehatan, rumah jompo, penampungan dan dokter umum '(GP) operasi.Lingkupan Kerja
Kegiatan kerja yang khas bagi apoteker rumah sakit bisa meliputi:
  • resep memeriksa untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dan bahwa mereka sesuai dan aman untuk setiap pasien;
  • memberikan saran pada dosis obat-obatan dan bentuk yang paling tepat obat, misalnya tablet, injeksi, salep atau inhaler;
  • berpartisipasi dalam putaran bangsal, mengambil sejarah obat pasien dan keterlibatan dalam pengambilan keputusan pada perawatan yang tepat;
  • membahas pengobatan dengan kerabat pasien, apoteker masyarakat dan dokter umum;
  • memastikan obat-obatan disimpan tepat dan aman;
  • mengawasi pekerjaan staf yang kurang berpengalaman dan kurang berkualitas;
  • menjawab pertanyaan tentang obat-obatan dari dalam rumah sakit, rumah sakit lain dan masyarakat umum;
  • menjaga up to date dengan, dan memberikan kontribusi untuk, penelitian dan pengembangan;
  • menulis pedoman untuk penggunaan narkoba di dalam rumah sakit dan menerapkan peraturan rumah sakit;
  • menyediakan informasi tentang pengeluaran pada obat-obatan;
  • mempersiapkan dan kualitas pengecekan obat steril, misalnya obat intravena;
  • pengaturan dan pengawasan uji klinis.
Apoteker yang lebih berpengalaman mungkin terlibat dalam mengajar, baik di dalam departemen farmasi dan daerah lainnya di dalam rumah sakit.Gaji dan kondisi
Gak usah bingung mikirin gaji, gak bakal miskin kog jadi apoteker. heeehehe :D *sok tau deeh pdahal blom kerja :p
    
Diploma apoteker:
    
Lowongan Kerja di The National Health Service (NHS) biasanya tertutup oleh Agenda untuk skala Perubahan membayar terdiri dari sembilan band membayar.
    
Gaji untuk posting entry level, biasanya diisi oleh pra-pendaftaran apoteker, biasanya mulai dari £ 20,710 (Band 5).
    
Gaji awal khas untuk apoteker junior, 'kelas dasar', posting rotasi dan diploma: £ 24.831 (Band 6). Posting ini biasanya melibatkan sebuah kontrak dua sampai tiga tahun dengan peningkatan tahunan sampai skala gaji.
    
Gaji awal khas untuk apoteker spesialis: £ 29.789 (Band 7). Promosi untuk band ini biasanya mungkin setelah 2-3 tahun di Band 6. Ada sedikit kesempatan untuk perkembangan lebih lanjut dan kadang-kadang perlu untuk pindah untuk maju ke band berikutnya (s).
    
Lanjutan apoteker: £ 37.996 - £ 44.258 (Band 8a-b).
    
Apoteker manajer tim: £ 44.258 - £ 53.256 (Band 8b-c).
    
Apoteker konsultan: sampai £ 79.031 (Band 8b-d).
    
Beberapa percaya NHS menawarkan pembayaran tambahan untuk mengimbangi biaya yang lebih tinggi terkait dengan bekerja di London dalam dan luar dan daerah pinggiran.
    
Staf NHS juga mendapat manfaat dari skema pensiun NHS dan hak liburan murah hati. Banyak rumah sakit menawarkan akomodasi. Harga biasanya wajar dan kadang-kadang disubsidi.
    
NHS rumah sakit apoteker biasanya bekerja seminggu 37,5 jam. Jam kerja terutama sembilan sampai lima dengan beberapa jam tambahan, dan biasanya melibatkan beberapa penutup akhir pekan dan malam hari, biasanya setiap giliran.
    
Apoteker bekerja di klinik dan di bangsal, dengan kontak dengan pasien secara teratur, setiap hari. Mereka juga dapat bekerja di laboratorium dan kecil, kamar steril yang disebut 'kamar bersih'. Banyak pekerjaan melibatkan berhubungan langsung dengan bahan kimia dan obat-obatan.
    
Pengaturan kerja yang fleksibel, paruh waktu kerja dan pembagian kerja yang mungkin.
    
Istirahat karir yang mungkin dalam NHS dalam beberapa keadaan.
    
Pekerjaan yang tersedia di kebanyakan kota-kota, tetapi jarang di daerah pedesaan.
    
Ada lebih banyak wanita daripada pria saat ini dalam profesi ini.
    
Perjalanan dalam satu hari kerja dan bekerja di luar negeri jarang terjadi.Persyaratan MasukMasuk ke profesi adalah melalui program empat tahun gelar farmasi (MPharm) diikuti dengan satu pra-pendaftaran pelatihan tahun (pra-reg).Masuk ke profesi tanpa gelar farmasi atau dengan suatu HND hanya tidak mungkin. Bekerja sebagai teknisi apotek akan memberikan pengalaman lingkungan kerja tetapi tidak memungkinkan pengembangan menjadi apoteker rumah sakit.Tingkat A-dalam kimia dan dua A-level dari biologi, matematika dan fisika adalah persyaratan masuk apotek biasa derajat (atau kualifikasi Tinggi Skotlandia dengan penekanan kuat pada ilmu pengetahuan, khususnya kimia). Siswa juga dapat dipertimbangkan dengan kimia dan satu ilmu (sebaiknya biologi) bersama dengan topik lain. Dasar melek huruf dan berhitung keterampilan (misalnya, nilai GCSE A ke C dalam bahasa Inggris dan matematika) juga penting.Saat ini semua program harus diakreditasi oleh Royal Pharmaceutical Society (lihat situs web mereka untuk daftar universitas terakreditasi dan menghubungi lembaga-lembaga individu untuk persyaratan masuk). Hal ini akan berubah pada 2010 ketika Jenderal Dewan Farmasi (GPhC) akan mengambil alih tanggung jawab untuk pengaturan undang-undang apoteker.Siswa pada pra-reg pelatihan harus menunjukkan bahwa mereka memenuhi standar kinerja tertentu dan berhasil lulus ujian pendaftaran. Hal ini dimungkinkan untuk menyelesaikan tahun pra-reg di daerah lain farmasi, seperti masyarakat atau industri, dan kemudian transfer ke farmasi rumah sakit. Namun, lebih biasa untuk apoteker rumah sakit untuk melakukan pra-reg tahun mereka di apotek rumah sakit.Siswa yang ingin mendapatkan penempatan pra-reg di rumah sakit di Inggris atau Wales harus mengajukan permohonan pada tanggal 31 Agustus, satu tahun sebelum lulus. Rincian diedarkan kepada siswa melalui semua sekolah farmasi universitas dan di situs Farmasi Clearing House. Rumah sakit yang belum diisi pra-reg posisi mereka selama putaran perekrutan Agustus pasca pembersihan tempat mereka di situs Kliring Farmasi Rumah. Siswa yang belum mendapatkan posisi pra-reg harus mendaftar secara online pada akhir Oktober.Farmasi siswa yang ingin menyelesaikan pra-reg tahun mereka di Skotlandia perlu mengajukan permohonan untuk pra-reg penempatan mereka pada bulan Juni pada tahun sebelum lulus. Buklet yang berisi rincian peluang penempatan dikirim ke sekolah-sekolah universitas farmasi. Lihat NHS Pendidikan untuk Skotlandia (SPN) untuk informasi tentang bagaimana menerapkan untuk pra-reg posisi dan lowongan dalam NHS Skotlandia.Rincian bagaimana mendapatkan penempatan pra-reg di Irlandia Utara muncul dalam pers lokal pada bulan Oktober. Hubungi Pharmaceutical Society of Ireland untuk rincian lebih lanjut.Pra-reg trainee memutar antara daerah yang berbeda dari layanan farmasi, mendapatkan pengenalan untuk semua aspek dari praktik farmasi, termasuk informasi obat-obatan, pelatihan dalam pekerjaan apotek, pengeluaran aseptik dan rawat inap dan farmasi rawat jalan. Selain itu, trainee mengambil kursus perumahan dan hari belajar dan menyelesaikan sebuah proyek pra-reg. Penilaian rutin dan umpan balik terjadi sepanjang tahun dan diakhiri dengan pemeriksaan pra-reg.Sebuah kualifikasi pascasarjana pra-entri tidak diperlukan, meskipun ijazah MSc klinis atau dapat memberikan keuntungan dalam mendapatkan posisi sebagai seorang apoteker rumah sakit.Persyaratan Penting Calon Apoteker

Calon Apoteker Rumah Sakit harus menunjukkan bukti sebagai berikut:
  •     kemampuan untuk bekerja dengan hati-hati, metodis dan akurat - ini sangat penting sebagai kesalahan bisa berakibat fatal;
  •     komputer keaksaraan;
  •     keterampilan interpersonal dan sikap peduli dan simpatik, karena pekerjaan biasanya melibatkan kontak dengan pasien di bangsal dan di departemen rawat jalan;
  •     sikap bertanggung jawab untuk bekerja;
  •     umum klinis kesadaran.
Apoteker dengan tanggung jawab pengawasan membutuhkan:
  •     keterampilan manajemen yang efektif;
  •     kemampuan untuk mendelegasikan tugas dan memantau pekerjaan staf junior.
Saat ini ada kekurangan apoteker rumah sakit, dengan sekitar seperempat dari posting apoteker junior kosong pada tahun 2010. (RPSGB, Februari 2010).PelatihanJenderal Dewan Farmasi (GPhC) akan menggantikan Royal Pharmaceutical Society sebagai pengatur apoteker selama 2010.Royal Pharmaceutical Society (RPS) akan menjadi badan kepemimpinan baru profesional (PLB) dan akan mendukung anggotanya dalam mengembangkan profesi mereka, praktek dan keterampilan kepemimpinan.Setelah menjadi seorang apoteker yang terdaftar dan mendapatkan pekerjaan, sebagian besar apoteker rumah sakit mengembangkan karir mereka dengan mengambil sertifikat atau diploma di bidang farmasi klinis, yang sering diikuti oleh sebuah MSc. Hal ini biasanya diperlukan untuk dapat maju ke nilai yang lebih senior.Semua apoteker melakukan berbagai pelatihan untuk mendukung mereka dalam spesialisasi mereka dipilih atau jalur karir. Kesempatan pelatihan termasuk di rumah-pelatihan yang diberikan oleh departemen farmasi atau rumah sakit, regional atau nasional hari studi terorganisir atau kursus-kursus, pelatihan awal dan pelatihan khusus dalam manajemen.Apoteker perlu mengikuti perkembangan dalam penelitian obat, termasuk obat baru yang dikembangkan dan datang di pasar, metode-metode baru untuk mengobati kondisi dengan obat-obatan, dan kebijakan pemerintah dan rumah sakit untuk perawatan obat.Pelatihan lebih lanjut juga merupakan bagian dari melanjutkan pengembangan profesional apoteker (CPD). CPD saat ini menjadi kebutuhan wajib bagi semua apoteker berlatih (lihat website RPSGB untuk rincian). CPD hukum akan diperkenalkan dengan pembentukan GPhC tersebut.




Pengembangan karirRumah Sakit apoteker bekerja di The National Health Service (NHS) mengikuti kemajuan karir terstruktur dengan kesempatan untuk belajar untuk kualifikasi klinis dan manajemen - sering didukung oleh trust mempekerjakan.Setelah berhasil menyelesaikan tahun pra-pendaftaran, apoteker biasanya memasukkan servis farmasi rumah sakit di Band dasar 6 Agenda Perubahan NHS untuk skala membayar. Pada tahap ini, apoteker harus terdaftar sebagai anggota Royal Pharmaceutical Society of Great Britain (RPSGB) (MRPharmS). Jenderal Dewan Farmasi (GPhC) akan mengambil alih tanggung jawab ini dari RPSGB selama 2010 sebagai regulator baru apoteker rumah sakit.Baru berkualitas Band 6 apoteker biasanya memutar antara pelayanan farmasi yang berbeda yang ditawarkan oleh rumah sakit mereka. Ini mungkin termasuk:
  •     farmasi klinis;
  •     obat-obatan informasi;
  •     obat-obatan manajemen;
  •     aseptik / teknis pelayanan;
  •     apotik jasa;
  •     farmasi komunitas jasa;
  •     perawatan primer;
  •     radiofarmasi (penggunaan bahan radioaktif);
  •     uji klinis.
Setelah mengalami dua atau tiga tahun, apoteker mungkin berlaku untuk posisi 7 Band apoteker. Hal ini biasanya peran rotasi, tetapi dengan penekanan lebih pada mengkhususkan diri di daerah dipilih praktik farmasi, misalnya:
  •     kardiologi;
  •     perawatan pediatrik;
  •     hematologi;
  •     jaminan kualitas;
  •     obat-obatan informasi;
  •     pengadaan dan distribusi;
  •     radiofarmasi.
Peluang yang ada untuk kemajuan lebih lanjut untuk peran tambahan atau resep independen, bekerja dalam Trust Perawatan Primer sebagai penasihat resep, atau untuk konsultan farmasi rumah sakit di Band gaji 8b-d. Ada peluang sedikit dalam peran ini, bagaimanapun, dan kadang-kadang perlu untuk pindah dalam rangka untuk kemajuan.Apoteker juga dapat mengambil peran sebagai tutor dengan ceramah pra-reg trainee, memberikan presentasi kepada staf medis lainnya atau menyediakan dukungan tutorial untuk mahasiswa farmasi sarjana.Peluang juga ada untuk apoteker rumah sakit untuk melakukan pekerjaan locum.Pengusaha dan sumber lowonganMayoritas apoteker rumah sakit bekerja untuk rumah sakit di The National Health Service (NHS).Selain dari NHS, beberapa rumah sakit apoteker bekerja di sektor swasta.Tiga operator terbesar di Inggris BMI Kesehatan, BUPA dan Rumah Sakit Nuffield. Mereka, dan penyedia lainnya, jalankan rumah perawatan untuk orang tua, dan orang dewasa dan anak-anak dengan kesehatan mental, belajar, atau cacat fisik, serta sekitar 300 rumah sakit dan klinik. Sektor kesehatan independen dan sukarela terus tumbuh.NHS trust juga dapat mempekerjakan apoteker locum untuk bekerja di departemen farmasi rumah sakit mereka. Apoteker ini dapat bekerja untuk sebuah badan tetapi yang lain bekerja untuk sebuah rumah sakit individu atau kepercayaan pada NHS secara kasual.Sumber lowongan

    
Cari pekerjaan pascasarjana di situs ini.

  •     Kliring Farmasi Rumah pra-pendaftaran (pra-reg) posisi - lihat persyaratan masuk untuk informasi tentang pre-reg posisi.
  •     NHS Jobs dan situs / buletin kekosongan Otoritas NHS Trust individu dan
  •     NHS Skotlandia Rekrutmen
  •     Journal Farmasi
  •     Kimiawan dan apoteker online
  •     Locum lembaga yang menangani kekosongan sementara.
  •     Koran lokal dan nasional.
Dapatkan tips tentang CV berburu pekerjaan, dan surat pengantar dan wawancara.Terkait pekerjaan
  •     Komunitas apoteker
  •     Fisikawan medis
  •     Farmakolog
  •     Urusan Regulatory petugas
  •     Ilmiah laboratorium teknisi
  •     Toxicologist